Pandu Wicaksono: “Help others, help yourself. Saat kita menolong orang lain, akan ada balasan baik yang memantul ke dalam hidup kita.”

Gajah!

Mungkin gambaran itu yang terbesit dalam pikiran Wovger ketika melihat fotoku. Badan besar dan bulat. Tembem ya, sebelas dua belas sama big hero lah. Aku nggak akan sensi kok kalau dipanggil gajah. Aku ambil sisi positifnya aja, kalau Gajah itu punya otak cerdas, kuat dan bisa jadi tameng. Haha, seperti lagunya Tulus – Gajah.

Nama lengkapku sebenarnya Pandu Wicaksono. Cuma, sohib-sohibku sering memanggil Gajah, Pandu, atau Pandut. Jadi, panggilan gajah udah nggak asing lagi di telinga. Oh ya, aku lahir di kota Malang 10 Juni 1991. Hobiku berenang, baca buku dan paling suka mendengarkan musik. Tak dinyana, hobi mendengarkan musik ini telah membawaku ke sebuah profesi sebagai penyiar radio.

Ya, aku sangat mencintai dunia hiburan alias media. Beragam track record karir yang pernah kugapai di bidang tersebut, selain menjadi penyiar, adalah menjadi presenter di program TV lokal dan MC. Hal ini memang sudah kulakukan sejak SMA hingga saat ini.

Selain sibuk jadi MC dan presenter di TV lokal, aku juga mengikuti beragam komunitas dan kegiatan sosial. Aku memulainya sejak semester awal kuliah. Yakni dengan bergabung di unit aktivitas mahasiswa/UKM TEGAZS (Tim Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS).

pandu wicaksono pramuka

Setelah itu, kemudian aku ikut komunitas akar tuli. Sebuah komunitas untuk teman-teman tuli. Jadi ceritanya, suatu ketika, ada teman menawariku untuk jadi MC di sebuah acara, yang pengisi acaranya adalah teman-teman dari komunitas akar tuli. Selepas acara, entah kenapa aku merasa ada feel yang berbeda di sini. Semacam merasa terpanggil. Saat itulah aku mantap untuk bergabung di komunitas ini.

Komunitas akar tuli memiliki banyak beragam kegiatan seperti pelatihan bahasa isyarat, menerjemahkan teman tuli ketika ada event, membuat event yang berhubungan dengan tuli, sosialisai bahasa isyarat, pendampingan tuli dan masih banyak lagi.

Selain ikut 2 komunitas tersebut, aku juga ikutan komunitas Tabrak Warna Malang. Ya, sama dengan Lailiya Nur Rokhman yang juga ikut komunitas ini. Menurutku, komunitas mewarnai khusus dewasa ini bisa dijadikan alternatif untuk menyalurkan hobi, juga penghilang stres.

pandu wicaksono bersama teman

Tak hanya berhenti sampai disitu. Aku pun melanjutkan pengembaraanku dengan mengikuti komunitas Rotaract Malang Kutaraja (Organisasi anak muda yang ingin mengembangkan leadership dan memupuk rasa peduli, sehingga berguna untuk masyarakat sekitar), Malang Pausephone Community (Komunitas penggiat penyadaran tentang pengurangan penggunaan gadget yang berlebihan dan terapi penggunaan gadget), Kampung sinau (Komunitas penggiat pendidikan non formal. Selain itu juga ada kegiatan mengolah barang bekas, belajar pedoman hidup, mencintai alam dan lain-lain), serta yang terakhir, komunitas BRIGHT – Broadcast Right (Komunitas yang mewadahi pemuda yang tertarik di bidang broadcasting, dan ingin belajar tentang dunia broadcast lebih mendalam.

Dari semua komunitas yang aku ikuti tersebut, aku merasa bahagia, bisa berguna dan membaur dengan orang lain. Aku juga merasa, kebahagiaan yang orang-orang pancarkan itu bergerak menjalari tubuhku laksana strum listrik.

Ikut komunitas yang banyak itu bukan berarti fokus jadi pecah. Tapi tantangan untuk menemukan sesuatu yang baru itu yang ingin aku dalami. Kadang susah tapi seneng. Susahnya, ketika ada undangan bersamaan. Kalau nggak datang, nggak enak. Jadinya datang setengah-setengah. Tapi kalau udah kumpul rasanya kayak nggak mau pulang. Hehehe.

pandu wicaksono bersama teman-teman

Secara pribadi, mungkin problemku ada di manajemen waktu. Tapi kalau memang nggak ada kesibukan, aku biasanya langsung ikut. Kalau ada kesibukan, tetap bisa datang meskipun telat. Karena menurutku, berkomunitas itu bukan tentang lamanya kita hadir setiap kali ada acara. Tapi ketika wajah kita sering terlihat, ditambah memberikan kontribusi, itu sudah mewakili keseluruhan.

Kalau soal respons orang mengenai acara yang anak-anak komunitas lakukan, pro kontra sudah pasti ada. Karena nggak semua orang bisa menerima ajakan baik. Misalnya, waktu campaign ada yang menolak inisiatif dari komunitas. Kalau sudah begini, ya, kami hanya fokus mengajak mereka-mereka yang mau diajak berkembang bareng-bareng aja.

Sering aku menasihatkan pada diri sendiri, kalau sudah meluruskan niat untuk berkontribusi melalui komunitas, jangan pernah bicara soal materi, karena ini kegiatan sosial, bukan tempat mencari keuntungan. Mungkin saat ini aku masih berjuang dalam karirku, tapi aku yakin materi itu akan mengikuti, selama aku tetap berupaya.

Menurutku, ketentraman hati yang diperoleh dari membantu orang lain itu nggak ternilai harganya. Priceless. Nggak bisa digambarkan lah, seberapa bahagianya bisa membantu dan membahagiakan orang lain.

Aku memiliki prinsip: Help others help yourself. Saat kita menolong orang lain, akan ada balasan baik yang memantul ke dalam hidup kita.

Sebagai manusia, kita pasti punya keinginan untuk berbagi atau beramal. Ketika nggak bisa beramal dengan uang, bantuan dalam bentuk tindakan/action juga bisa terhitung sebagai amal. Itulah yang membuatku ingin membantu orang lain, karena nggak selamanya aku punya uang untuk membantu orang lain.

Setelah masuk ke dalam lingkungan ini, pikiranku jadi terbuka. Bahkan aku bercita-cita, kelak, aku ingin membuat sebuah lembaga atau yayasan untuk menampung orang-orang yang ingin berbagi ilmu dan menerima anak-anak yang suka belajar hal-hal baru.

pandu wicaksono mengajar

Menurutku, menjadi seorang penggerak sosial itu adalah panggilan hati. Nggak semua orang mau dan paham apa tujuan dia melakukan kegiatan sosial. Sebagai contoh, sekarang banyak sekali komunitas yang anggotanya ratusan, atau bahkan ribuan. Tapi coba deh, iseng-iseng aja tanya mereka, apa yang sudah mereka lakukan untuk sosial? Biasanya, banyak yang bingung. Karena sekarang kebanyakan orang hanya ikut-ikutan kegiatan agar eksistensinya diketahui khalayak, tanpa memahami konten atau substansi apa yang ingin mereka sampaikan pada dunia melalui komunitas. Tapi meski demikian, setidaknya kesadaran dan kesediaan mereka mengikuti komunitas patut untuk diapresiasi.

Para penggerak sosial itu adalah orang-orang terpilih, karena sangat tidak mudah menjadi penggerak sosial. Mereka bukan hanya mengikuti event, kemudian foto dan di upload di sosial media. Tapi mereka betul-betul pejuang yang mau sampai terjun ke lapangan, dibentak orang, dibenci warga, bahkan sampai diteror orang nggak dikenal. Jujur, aku salut kepada mereka-mereka yang masih mau berdiri di jalan kebenaran, sekeras apapun rintangannya. Jadi bagi Wovger sekalian yang ingin menjadi penggerak sosial, bersiaplah. Bersihkan hati, luruskan niat, lalu berjalanlah di jalan yang kamu percaya.

Kemudian buat teman-teman yang sudah bergabung di komunitas sosial, tapi masih merasa hanya ikut-ikutan saja, atau mungkin hanya untuk memenuhi kebutuhan eksistensi saja, cobalah tanyakan pada dirimu sendiri:

Apa memang beginilah jalanmu? Berguna, kah, adanya kamu di sini? Lalu, apa tujuanmu sebenarnya bergabung dalam komunitas ini?

Coba jawab dalam sepi. Karena hanya Tuhan dan kamu yang tahu isi hatimu sendiri. Aku berharap, semoga itu dapat membantu mencari jati dirimu. Jadilah tangguh! Salam Gajah!

pandu wicaksono foto bareng