Muhammad Arwani: “Paksalah dirimu sebelum keadaan memaksamu.”

Assalamu’alaykum.

Kalau mayoritas inspirator Wovgo ialah para mahasiswa, maafkan aku yang masih kelas 2 Madrasah Aliyah (setara SMA) ini. Mungkin Wovger akan menyanggah bahwa selain aku, pernah ada anak SMA juga yang menjadi inspirator Wovgo. Ya, Mas Mahestya Andi Sanjaya dari Purworejo. Ah, tapi kan, secara fisik, aku yang lebih pas untuk disebut sebagai anak seusia SMA ketimbang dia. Hehehe. Maaf ya Mas Andi, bercanda. Hehehe.

Perkenalkan, namaku Muhammad Arwani, dan biasa dipanggil Arwan. Pertengahan Desember tahun 2015 aku bersyukur sekali karena itu adalah hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Hari dimana perjuanganku selama ini terbayar lunas. Hari bersejarah ketika aku diwisuda sebagai penghafal al-qur’an 30 juz.

Cerita ini bermula saat aku masih berusia 5 tahun. Ya, aku mengawali hafalan ini di usia tersebut, dan menggunakan al-qur’an spesial pemberian ayahku. Kenapa spesial? Karena ayahku yang memberikannya. Itu saja! Karena dari segi fisik, bentuk al-qur’an itu tak ada bedanya dengan al-qur’an-al-qur’an lainnya.

Muhammad Arwani

Wovger yang sering mengaji pasti tahu, kalau al-qur’an yang ayat pojok (sebutan untuk al-qur’an yang setiap di akhir halaman pasti selalu ada ayat di bagian pojoknya) itu ada 2 jenis: yang pertama terdiri dari 15 baris, dan yang kedua terdiri dari 18 baris. Nah, sejak aku kecil, ayah sudah membiasakanku untuk menghafal menggunakan ayat pojok 15 baris. Sehari, tambahan hafalan itu antara 3 baris hingga 5 baris.

Jangan menyangka kalau aku bisa konsisten menerapkan itu secara terus-menerus, karena sebagai manusia, sesekali aku juga sering khilaf, alias bolong tidak menambah hafalan. Tapi biasanya itu tak berlangsung lama, karena esok hari aku sudah bisa bangkit lagi.

Aku bangga dengan ayahku. Beliau disiplin sekali dalam mengerjakan shalat jamaah. Sejak tahun 1994 sampai hari ini, belum pernah shalat jamaahnya bolong sekali pun, belum pernah tertinggal satu rakaat pun. Dan, sikap disiplin ini terbawa hingga ke cara beliau mendidikku untuk menghafalkan al-qur’an.

Setiap kali aku setoran hafalan, lalu salah, aku harus siap-siap menerima omelan dari ayahku. Kadang dibentak, kadang pula tangannya yang berkeriput itu melayang di pahaku. Aku yang saat itu masih kecil, tak bisa berbuat banyak kecuali melanjutkan hafalan dengan mata yang berkaca-kaca.

Dek Arwan jadi vocal rebana dan hadrahan

Bapak sering sekali mengisi pengajian ke mana-mana. Tapi jangan kira aku bisa bersenang-senang seperti tak ada tanggungan hafalan tatkala beliau pergi, karena di rumah masih ada ibu yang juga tak kalah garang dalam mendorong anak-anaknya agar segera hafal al-qur’an.

Pernah suatu ketika aku maju hafalan dengan ibu, dan aku nggak bisa. Lalu dengan lantang beliau berteriak:

“Kalau tak bisa, besok ibu tak akan kasih kamu uang jajan!”

Hari itu, entah apa yang terjadi, aku betul-betul tak bisa. Akhirnya, kemarahan ibu sudah sampai di puncak dan aku dikunci di dalam kamar.

Aku yang saat itu masih kecil dan labil, hanya bisa meluapkan kemarahan dengan mengobrak-abrik isi lemari. Meskipun setelah kemarahan mereda, tetap aku yang kemudian membereskannya sendiri. Lucu sekali kalau melihat diriku sendiri di usia itu. Hehehe.

Maafkan kedua orangtuaku ya, Kak Seto. Tapi sejujurnya, aku sama sekali tak pernah merasa tertekan dengan sikap kedua orangtuaku yang demikian, karena aku sadar kalau beliau melakukan itu semua demi kebaikanku. Mereka ingin agar aku mampu mencapai kualitas-kualitas yang mereka harapkan.

Dek aRWAN dan Zahro

Kalau Wovger melihat foto di atas, pasti akan segera ingat, siapa anak kecil berkerudung coklat itu. Betul sekali, dia adalah Dewi Fatimatuzzahro, keponakanku yang juga pernah menjadi inspirator Wovgo. Sempit sekali ya dunia ini. Hehehe.

Oke, aku akan melanjutkan cerita…

Hingga lulus SMP, alhamdulillah hafalanku sudah sampai 26 juz, walau dengan keadaan yang menurutku sangat tidak lancar. Tinggal 4 juz lagi. Namun Ayahku tak memilih untuk menyelesaikannya di bawah didikan beliau, melainkan, memasukkan aku ke pondok pesantren. Tepatnya, di pesantren An-Nur, Ngrukem, Yogyakarta. Bukan apa-apa, selain bertujuan untuk menyelesaikannya di sana, sebetulnya ayahku ingin agar aku juga punya guru ngaji selain beliau.

Awal mula masuk pondok pesantren, tak semua santri-santri sebayaku ternyata memiliki jumlah hafalan sepertiku. Bahkan, ada yang baru memulai hafalan ketika mereka masuk pesantren. Di titik itu, aku merasa aman, tenang dan santai sekali. Sampai-sampai aku tak sadar kalau tenangku yang keterlaluan itu melenakanku dalam mengaji. Aku malas-malasan, hafalanku mengendor dan nyaris hancur – banyak yang lupa.

Hadrahan

Semangatku kembali tergugah tatkala melihat para seniorku di pesantren yang hafalannya lebih banyak dariku, bacaannya lebih lancar dariku, serta bacaannya lebih bagus dariku, mereka mengulang-ulang hafalannya dengan gigih. Seolah, mereka seperti pemula yang baru pertama kali mencoba menghafal al-qur’an. Saat itulah aku merasa, aku ini seperti butiran debu. Tak ada apa-apanya dibanding mereka. Aku malu, Wovger. Malu.

Saat dirundung keadaan terpuruk itu, seorang senior yang biasa aku panggil Kang Akbar menasihatiku:

“Malas itu manusiawi. Berhenti menambah hafalan itu sah. Tapi, lakukan itu sehari, dua hari, dan maksimal tiga hari. Setelah itu, kembalilah ke jalan yang lurus, yakni menyelesaikan hafalanmu. Paksalah dirimu sebelum keadaan memaksamu.”

Tak perlu menunggu lama untuk berpikir, semangatku langsung kembali meletup. Aku jadi bersemangat untuk bangun tengah malam, atau kadang tak tidur sama sekali, demi menambah hafalan. Semangatku semakin menjadi apabila setiap pagi harinya melakukan setoran hafalan dan aku berhasil. Sungguh, itu merupakan kesenangan tiada tara.

Dek arwan dan santri nurul huda semen

Kesenangan demi kesenangan kecil itu terjadi setiap hari, setiap aku setoran hafalan dan lancar. Kesenangan ini meningkat lagi ketika ada sertifikasi (semacam tes untuk meresmikan jumlah hafalan) hafalan 10 juz. Setelah memantapkan hati, akhirnya aku yakin untuk mengikuti tes tersebut dan alhamdulillah lulus.

Tak lama kemudian, ada tawaran untuk ikut sertifikasi 20 juz, dan aku menerimanya. Tes ini lebih sulit, karena aku harus menghafal dari juz 1 hingga juz 20. Tapi aku tak boleh patah semangat, karena ini prosesku. Lagi-lagi, dengan meyakin-yakinan diri, aku mantap menjalani tes itu, dan alhamdulillah lulus.

Selama melakoni proses itu, aku juga menyelesaikan 4 juz yang masih menjadi kekuranganku.

Setiap tahun, pesantren selalu mengadakan khataman – semacam prosesi wisuda untuk para santri. Entah itu juz amma, binnadzri, maupun bil hifdzi. Alhamdulillah, aku sudah bisa menyelesaikan hafalan 30 juz menjelang khataman. Namun, aku belum yakin untuk mengikuti sertifikasi 30 juz.

Keluarga di rumah dan teman-teman di pesantren meyakinkanku untuk maju sertifikasi. Tapi sekali lagi, aku sendiri belum yakin. Karena keluarga terus mendukung, dan teman-teman juga banyak yang mendorong, aku pun maju dengan mengumpulkan seluruh keberanian.

Wisuda Hafalan Al-qur'an

Detik-detik menuju tes besar dimulai. Banyak makanan berdatangan dari rumah ke pesantren, untuk acaraku ini. Aku grogi, karena bahkan malam sebelumnya pun sampai tak bisa tidur menyambut datangnya acara ini. Ah, tapi aku harus maju, apapun yang terjadi. Hafalan berlangsung mulai ba’da subuh hingga ba’da isya’, dan alhamdulillah aku dinyatakan lulus. Aku sujud syukur. Senang sekali rasanya bisa menyelesaikan ini semua.

Tak lama kemudian, hari khataman yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Dari ratusan santri putra, hanya ada 9 orang yang di wisuda 30 juz. Dari 9 orang tersebut, aku menjadi wisudawan termuda kedua. Perasaan bahagiaku hari itu sepertinya merupakan akumulasi kebahagiaan-kebahagiaan selama aku hidup yang digabung menjadi satu. Bahagia sekali.

Selain itu, aku juga terharu ketika ayah, ibu, dan anggota keluargaku lainnya tak henti-hentinya menciumiku. Sebagai ekspresi kebahagiaan yang mereka tumpahkan padaku.

Sekarang, aku masih di pondok pesantren. Melanjutkan sekolah, belajar kitab-kitab, serta mengulang-ulang hafalan al-qur’an yang sudah terekam dalam otakku. Dan, sampai saat ini, aku masih menggunakan al-qur’an pemberian ayahku, ketika pertama kali menghafalkan al-qur’an.

Dek Arwan dan orangtua