Alief Berri Aufi: “Berjualan itu seru, karena kita nggak pernah tahu, berapa jumlah penghasilan esok hari. Tapi, justru disitulah asiknya.”

Brum… Brum…

Hehehe. Kenalin, aku Alief Berri Aufi, dan biasa dipanggil Berri. Hobiku mengoleksi mobil. Sekarang, aku punya sekitar 60 mobil pribadi. Gimana, keren nggak? Tapi itu semua mainan. Hahaha.

Aku adalah orang Sumenep, Madura, yang lahir pada tanggal 12 Mei 1992. Aku mulai suka mengoleksi mobil-mobilan (diecast) sejak awal kuliah. Jangan berpikir kalau gara-gara diecast kuliahku jadi amburadul. Karena — jujur loh ini ya, bukan sombong — aku tergolong anak yang rajin. Telat masuk kuliah, aku bisa dihitung pakai jari, tugas pun aku selalu ngumpulin, dan absen kuliah: setiap semester, per mata kuliah, kurang dari 3 kali.

Sampai disini, Wovger percaya kan, walau suka mengoleksi mobil-mobilan, tapi kuliahku tetap baik-baik saja? Hehehe. Tapi itu dulu ketika kuliah. Setelah kenal dengan SKS yang bernama skripsi, cerita berubah! Hahaha.

Foto Alief Berri Aufi

Suatu ketika, saat aku bersemedi mencari ide untuk skripsi, salah seorang teman meminta tolong untuk melakukan transaksi (atau biasa disebut COD – ketemuan) dengan penjual diecast, karena dia sedang ke luar kota. Tujuan temenku beli diecast saat itu sebenarnya bukan untuk kebutuhan koleksi, melainkan, hanya untuk aksesoris di dalam mobilnya saja. Karena kebetulan, diecast yang dia pesan, sama dengan mobil yang dia miliki.

Entah kenapa, saat pertama kali melihat paketan itu, mataku berbinar-binar. Oh ya, itu juga merupakan hari pertama dimana aku baru tahu kalau itu namanya diecast. Karena, yah, untuk orang awam sepertiku waktu itu, tak ada sebutan lain ketika pertama kali melihat, kecuali dengan mantap langsung menyebut: mobil-mobilan.

Gara-gara bayangan tentang diecast terus-menerus membayangi, seminggu setelahnya, aku hunting via online dan mencoba beli. Diecast yang pertama aku beli memiliki skala 1:32 dan aku langsung membelinya sebanyak 3 pieces. Ternyata, itu bikin ketagihan. Bulan berikutnya, aku kembali membeli diecast. Tapi kali ini, aku sampai bela-belain membobol uang tabunganku. Padahal, cuma buat beli diecast untuk kebutuhan koleksi doang. Bukan untuk dibisniskan. Hahaha. Entahlah, apa yang sebetulnya ada dalam pikiranku saat itu.

haduwe

Setelah mengoleksi 6 diecast dengan skala 1:32, mulailah aku mencari komunitas. Setelah bergabung dengan komunitas, aku banyak belajar tentang berbagai merk dan ukuran diecast. Lalu, aku tertarik dengan diecast yang memiliki skala lebih besar, yakni skala 1:24 dan memiliki detail yang lebih rumit. Namun karena budget nggak mencukupi, akhirnya aku memutar otak. Iseng-iseng menjual 6 pcs koleksiku. Waktu itu, 1 piece skala 1:32 harganya sekitar 50K-85K. Saat itu juga aku baru tahu kalau ternyata harga jual 6 pieces diecast bisa untuk membeli 1 mobil dengan skala 1:24. Sungguh, memiliki diecast baru itu kebahagiaannya tak terkira. Gara-gara diecast ‘terlaknat’ ini pula aku jadi semakin melupakan kewajibanku untuk bimbingan skripsi. Hahaha.

Dimulai dari diecast berskala 1:24 pertama itulah yang membuat kegilaanku pada mainan ini semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai, aku tak ingin berpisah dari kebiasaanku mengoleksi mobil-mobil mainan tersebut. Aku paling benci jika ingin membeli diecast tapi tak punya uang. Minta uang ke orangtua pun tak mungkin, karena belakangan mereka sadar bahwa molornya skripsiku, salah satunya gara-gara mainan ‘sialan’ ini. Tak ada jalan lain, jalan tengahnya, aku harus berbisnis, demi menghasilkan uang yang lebih banyak. Tapi bisnis apa? Aku hanya suka diecast?

“Aha, kenapa aku tak berbisnis diecast saja?” pikirku saat itu.

Lagian, selama menjadi pecinta diecast, aku sama sekali tak pernah merasa rugi. Justru malah untung, kalau bisa menjual diecast yang jenisnya langka dan sudah tak lagi beredar di pasaran.

eg

Untuk pebisnis amatir sepertiku, seenggaknya, di tahap awal aku harus beli diecast tiap bulan untuk menambah koleksi. Kalau ada wishlist tapi dana nggak mencukupi, seperti biasa: tak ada jalan lain kecuali menjual koleksi pribadi. Hahaha.

Proses menjual, membeli, dan sharing-sharing tentang diecast ini, menurutku, perkembangannya bisa sangat pesat sekali karena ada komunitasnya di facebook. Jadi, adanya sosial media berserta grupnya ini sangat membantu banget.

Suatu hari, aku menghitung jumlah koleksi pribadiku yang kalau dirupiahkan bisa lebih dari 7 juta. Aku mendata setiap diecast yang aku jual maupun yang dibeli orang. Boleh dibilang, diecast yang mulai aku jual dengan modal seadanya tersebut, semakin hari semakin meningkat. Sekarang, perputaran uang dari penjualan diecast sudah nggak memakai uang sendiri. Melainkan, dari modal awal yang terus berkembang, ditambah dengan hasil keuntungan.

Uang hasil penjualan aku kumpulkan untuk membeli diecast baru, lalu dijual lagi. Tanpa terasa, tiba-tiba jumlah dagangan yang ada membuatku lebih cocok untuk disebut sebagai supplier. Hahaha. Sekarang, alhamdulillah udah punya banyak pelanggan, dan bisa menghasilkan uang sendiri. Jadi, beban orangtua sedikit berkurang.

Sekarang, hampir setiap hari bisa dibilang aku berkutat dengan diecast. Mulai dari packing, mengantar barang ke jasa ekspedisi, menyelesaikan pesanan diecast custom (diecast yang dimodifikasi), dan masih banyak lagi. Jadi kalau pelanggan (atau mungkin Wovger, hehehe) ingin diecast sesuai dengan keinginanya, entah itu berbentuk mobil pengantin, mobil seperti di film-film, kopaja, taxi, mobil polisi, semua bisa dibuatkan.

Alief Berri Aufi photography

Kalau ditanya tantangan, setiap bisnis pasti ada tantangannya. Salah satunya, banyak pesaing baru. Ya, menurutku ini adalah tantangan. Bagiku, adanya pesaing baru justru membuat kita lebih aktif memutar otak tentang bagaimana bisa menjual dengan baik, serta memberikan layanan yang nyaman terhadap pelanggan. Toh, kewajiban kita hanya berdoa dan berusaha. Urusan rejeki, sudah ada yang membaginya dengan adil.

Bagi Wovger yang ingin berbisnis diecast, salah satu faktor yang menurutku nggak bisa dipungkiri ialah soal permodalan. Sederhananya: semakin besar modal yang dimiliki, maka hal tersebut berpengaruh dengan harga yang diperoleh dari supplier, yakni semakin murah. Semakin kecil modal, berarti harga yang kita peroleh dari supplier juga semakin tinggi.

Lalu berbicara tentang persaingan, itu berlaku pada produk baru atau produk lama yang masih beredar di pasaran. Misal diecast minicooper di toko si A harganya 55K, lalu di toko si B harganya 60K, kemudian di toko si C harganya 50K. Nah, perbedaan harga tersebut biasanya dipengaruhi oleh besar atau kecilnya modal seperti yang aku ceritakan tadi. Namun, diecast baru bukan berarti harganya lebih mahal. Karena, sekali lagi, diecast second atau mungkin diecast limited editon atau discontinue (diecast yang udah nggak diproduksi lagi) bisa jadi harganya lebih mahal. Tapi meski demikian, persaingan ini tidak terlalu terlihat, karena nggak semua seller memiliki barang tersebut.

Berri Diecast

Orangtuaku awalnya nggak setuju dengan niatku untuk berbisnis diecast. Mereka masih menganggap bahwa aku masih menjalaninya sebagai hobi, serta hanya buang-buang uang dan waktu. Menurutku, wajar sih kalau mereka awalnya nggak setuju. Karena, orangtuaku bukanlah pebisnis. Tentu, ketakutan akan bangkrut, merugi, dan risiko-risiko lainnya mereka bayangkan betul-betul. Tak cuma orangtuakku, teman-teman kampus dan teman sebayaku di rumah pun berpikiran serupa. Mereka belum yakin kalau hobi ini bisa mendatangkan keuntungan. Tapi lambat laun, dengan pencapaian yang sudah aku buktikan, orangtua akhirnya merestui, dan teman-teman pun memercayai. Meski sebetulnya sampai saat ini masih ada yang mengganjal. Ya, apalagi kalau bukan skripsi yang tak kunjung kelar. Hahaha.

Dengan berwirausaha, aku belajar menjalankan bisnis, menikmati rasanya memperoleh income dari usaha sendiri, dan tantangan-tantangan lainnya yang belum pernah aku temukan sebelumnya.

Menurutku, berjualan itu seru, karena kita nggak pernah tahu, berapa jumlah penghasilan esok hari. Tapi, justru disitulah asiknya.

Melalui berbisnis, otakku menjadi lebih aktif memikirkan beragam strategi demi meningkatkan penjualan.

Untuk saat ini, impian yang ingin aku capai ialah memiliki toko diecast beneran. Maksudnya, bukan toko online seperti sekarang ini. Lalu, keinginanku lainnya adalah menyelesaikan skripsi. Meski sekarang sedang menjalani bisnis, tapi sebetulnya aku juga menyimpan keinginan untuk bisa bekerja di kantor. Pengennya, bisnis jalan, dan kerjaan juga jalan. Maruk banget ya? Ah, biarin. Hahaha.

Buat Wovger yang punya hobi tertentu, coba dicek. Siapa tahu, itu memiliki potensi untuk dijadikan bisnis, dan bisa jadi ladang usaha untuk masa depan. Karena kita tak pernah tahu, kejutan seperti apa yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Alief Berri Aufi