Zaidus Sabiludin: “Mendaki gunung merupakan salah satu cara untuk membuktikan bahwa Indonesia betul-betul luar biasa.”

Halo Wovger, perkenalkan, namaku Zaidus Sabiludin, biasa dipanggil Didin, dan baru-baru ini aku punya hobi mendaki gunung. Aku lahir di Gresik pada tanggal 8 Maret 1992 dan sampai sekarang masih tetap tinggal di Gresik bersama orangtua.

Selama ini aku baru mendaki 2 gunung: Gunung Penanggungan di Mojokerto dan Gunung Merbabu di Magelang. Sejauh ini, pendakian ke Gunung Merbabu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku, karena aku bisa menikmati samudra di atas awan dan melihat indahnya bunga edelweiss.

Selain mendaki gunung, sebetulnya aku juga pernah punya pengalaman snorkeling di pantai 3 warna. Itu adalah pengalaman pertama. Apesnya, aku terpaksa harus merasakan ciuman dengan ubur-ubur. Tepat di bibir pula. Alamak, gatalnya minta ampun.

Aslinya, dulu aku bukan orang yang suka traveling — baik itu mendaki gunung, piknik ke pantai dan lain sebagainya. Jadi awalnya, aku iseng-iseng ikutan seorang teman yang suka mendaki gunung. Gara-gara pengalaman pertama itu, aku jadi ketagihan untuk mendaki lagi, yakni ke Gunung Merbabu seperti yang aku bilang tadi.

Lambat laun, aku jadi bisa meresapi indahnya alam bebas. Traveling ternyata mengajarkanku banyak hal. Mendaki gunung, misalnya. Aktivitas ini mengajarkanku untuk mencintai alam. Membuatku sadar bahwa sebagai manusia, aku hanyalah bagian kecil dari berbagai kemegahan ciptaan Tuhan.

Zaidus Sabiludin Traveling

Saat mendaki dan sampai di puncak, aku bahkan semakin sadar bahwa aku ini teramat kecil di hadapan-Nya. Malu sekali kalau diri ini sampai berani menyimpan kesombongan.

Aku sering tak habis pikir dengan mereka-mereka yang mendaki gunungnya cuma gara-gara euforia. Kalau untuk pendaki pertama, menurutku tak masalah sih. Wajar. Namun untuk yang sudah berkali-kali mendaki, rasanya kurang tepat kalau alasan pendakiannya demikian.

Aku juga tak habis pikir dengan mereka-mereka yang mendaki gunung cuma demi kebutuhan postingan di sosial media. Apakah itu berarti tidak boleh foto-foto selama perjalanan? Bukan. Bukan begitu maksudku. Foto-foto itu boleh dan sah, selama tak mengganggu tujuan utama, yakni menikmati alam dan menjaganya. Karena keindahan alam, itu tak hanya milik kita, namun juga milik anak-cucu kita kelak.

Tingkat paling parah dari itu semua terjadi ketika sampai merusak bunga-bunga serta tumbuhan lainnya, dan membuang sampah sembarangan. Aku berharap, Wovger tak ada yang demikian, ya?

Mendaki gunung membuatku merasa semakin hidup. Selain itu, juga selalu ada cerita dan pelajaran berbeda yang aku peroleh selama perjalanan. Berbeda memang, mengetahui luar biasanya Indonesia dari telinga orang atau bacaan, dengan mengetahui luar biasanya Indonesia dari pembuktian melalui pengalaman.

Menurutku, mendaki gunung merupakan salah satu cara untuk membuktikan bahwa Indonesia betul-betul luar biasa.

Kalau suatu saat senggang, coba rasakan sendiri, Wovger. Aku tak bisa mengungkapkan banyak keindahannya melalui serangkaian kalimat disini. Apa yang aku sampaikan ini, hanya sekelumit saja.

Kalau Tuhan masih memberi kesempatan, kelak aku ingin pergi ke Ranukumbolo. Juga, pergi ke Lombok mendaki Gunung Rinjani. Saling mendoakan, ya, semoga kita memiliki kesempatan untuk menikmati keindahan-keindahan alam yang telah Tuhan anugerahkan.

Sekali lagi, mari jaga bumi ini, untuk kita, dan demi anak-cucu kita di masa mendatang.

Zaidus Sabiludin