Ahmad Yusuf: “Kewajiban manusia hanya berusaha dan berdoa. Selanjutnya, biar Tuhan yang menentukan nasib terbaik untuk kita.”

Senang sekali berkesempatan menjadi inspirator Wovgo. Ijinkan aku bercerita tentang perjalanan hidupku yang kini sudah mencapai seperempat abad ini. Semoga apa yang aku bagikan disini, meskipun tak seberapa, namun bisa diambil manfaatnya.

Perkenalkan, Wovger, namaku Ahmad Yusuf. Teman-teman biasa memanggilku Yusuf. Ada pula yang memanggilku Ucup. Bebas, lah, mau memanggil dengan nama panggilan yang mana. Hehehe.

Sejak kecil, aku suka sekali mempelajari banyak hal dan bersemangat setiap kali sekolah. Selain itu, orangtua juga mendidikku dengan disiplin tinggi, sehingga aku terbiasa hidup secara teratur, dan memanfaatkan waktu dengan baik: mulai dari bangun tidur di pagi hari, hingga malam hari. Semuanya aku gunakan untuk belajar di sekolah dan mengaji. Alhamdulillah, berkat pola hidupku yang teratur tersebut, selama sekolah aku sering mendapat ranking pertama.

Aku bahagia memiliki kebiasaan berdisiplin diri, karena ini juga membawaku kepada kebiasaan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Sehingga, waktuku tak terbuang sia-sia, dan bisa aku gunakan untuk kebaikan.

Aku bermimpi ingin sekolah yang tinggi. Namun apa daya, biaya tak ada, dan bahkan dulu sekolahku nyaris terhenti setelah lulus SMP. Beruntung, ada saudara yang menawariku bekerja di rumahnya setiap minggu, untuk bersih-bersih di rumahnya. Lalu, uang yang aku peroleh dari pekerjaan tersebut, bisa aku gunakan untuk membayar SPP setiap bulannya.

Ahmad Yusuf bekerja

Untuk uang saku selama sekolah, aku berusaha memutar otak, bagaimana caranya agar bisa memiliki uang saku. Paling tidak, untuk jajan, atau membeli perlengkapan-perlengkapan sekolah. Akhirnya, aku berjualan pulsa. Kenapa pulsa? Karena menurutku, pulsa sudah beralih menjadi kebutuhan, layaknya sandang, pangan dan papan. Berjualan pulsa juga merupakan bisnis yang tak membutuhkan modal besar. Jadi, itu adalah pilihan bisnis yang ideal, pikirku saat itu. Keuntungan yang aku peroleh mungkin tak seberapa, tapi menurutku itu cukup untuk menutupi kebutuhanku.

Berjualan pulsa keliling, apalagi di sekolah, sepertinya merupakan profesi paling apes. Karena sudah pasti banyak yang akan berhutang. Masa sama temen sendiri tega nggak ngutangin? Begitulah salah satu contoh rayuan maut beberapa teman ketika sekolah. Sementara, kalau mengijinkan mereka berhutang, aku juga kadang khawatir: besok kalau mau deposit pulsa lagi, pakai uang dari mana? Tapi atas nama persahabatan, aku bersedia dihutangi. Berpikir positif kalau mereka pasti akan membayar. Meski kemudian, yang terjadi sesungguhnya, esok harinya aku harus ribet sendiri, menagih ke sana-sini, sampai akhirnya cuma sedikit yang kembali.

Namun tak mengapa, karena meski demikian, uang-uang yang masuk dari mereka yang membayar sudah bisa mencukupi kebutuhanku. Aku bahkan tak menyangka, bahwa ternyata bisnis kecil-kecilan yang awalnya dimodali 100 ribu rupiah oleh ibuku tersebut, bisa memberiku keuntungan hingga 1 juta rupiah. Alhamdulillah. Dan aku menjalankan bisnis ini sampai lulus SMK. Sejak saat itu, aku berkomitmen untuk tidak lagi membebani orangtua secara ekonomi.

1. Foto Bersama User Acceptence test program MIS dari Developer Mazar Pakistan

Selanjutnya, aku fokus untuk menyelesaikan sekolahku yang tinggal beberapa bulan lagi. Singkat cerita, aku lulus dari sekolah.

Maksud hati, sebetulnya aku ingin sekali kuliah seperti teman-temanku yang lain. Tapi lagi-lagi, apa daya, biaya tiada. Aku harus realistis dengan keadaan. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja.

Aku pertama kali bekerja di sebuah bengkel las di Jogja. Hampir sebulan aku bekerja di sana. Selama itu, aku hanya bisa sering-sering berdoa kepada Tuhan (Allah), meminta agar diberikan pekerjaan yang lebih nyaman.

Bukannya aku malas, Wovger. Bukan. Tapi karena aku harus bekerja dari pagi sampai menjelang maghrib. Saat itu, aku belum memiliki kendaraan pribadi. Jadi, mau tak mau aku harus berjalan sekitar 2 kilometer demi bisa menemukan angkutan. Padahal, setiap malam aku harus mengaji di pondok pesantren di daerahku. Kalau begini caranya, fokusku dalam mengaji bisa pecah. Aku butuh pekerjaan yang lebih nyaman, Ya Tuhan (Allah). Pekerjaan yang bisa memberiku ruang untuk seimbang dalam mencari nafkah dan menuntut ilmu, doaku saat itu.

1. User Acceptence test program MIS dari Developer Mazar Pakistan

Belum ada sebulan, Tuhan (Allah) sudah menjawab doaku. Aku mendengar kabar bahwa PNPM Mandiri di daerahku membuka lowongan kerja. Bismillah, aku mantap untuk mendaftar.

Untuk bisa diterima di PNPM Mandiri, syaratnya tidak mudah, karena harus melewati serangkaian tes. Syarat mendaftar memang minimal berijazah SMA atau sederajat. Tapi saat itu, ketika mendaftar, dari sekian peserta, hanya aku sendiri calon pegawai yang lulusan SMK. Fakta ini saja sudah sukses dalam mengendorkan semangatku. Ah, tapi aku tak punya pilihan lain. Tak mungkin juga kembali ke bengkel. Aku menguat-nguatkan diri, harus berani maju, apapun risikonya!

Tes masuk pun dimulai. Aku melewati beragam tes seperti tes tertulis, tes wawancara, serta tes-tes lainnya. Menurutku, tes FGD (Focus Group Discussion) adalah tes yang paling membuatku gugup, jika dibanding dengan tes-tes yang lain. Karena tes ini mengharuskanku menyusun kata-kata untuk membangun argumen. Sementara, saat itu aku masih anak lulusan SMK yang tak tahu apa-apa. Yah, jadinya aku bicara seadanya. Malah kadang-kadang, sekenanya.

2. Training of trainer nasional dana bergulir proyek World Bank oleh frankfurt school dari jerman

Dari sekian banyak pendaftar, cuma 3 orang yang diterima. Tak dinyana, ternyata aku salah satunya. Alhamdulillah, bangga juga, bisa menyisihkan para sarjana. Aku percaya, ini semua hanya bisa terjadi karena adanya pertolongan dari Tuhan (Allah).

Terhitung, aku bekerja di PNPM Mandiri sejak bulan Agustus tahun 2009. Setelah bekerja, keinginanku untuk melanjutkan kuliah masih menggelora. Namun, rupanya uang yang aku miliki belum cukup juga. Akhirnya aku menabung lagi.

Selama bekerja, aku sering dilanda perasaan gelisah: jika tak segera kuliah, bisa-bisa aku menua dan impian kuliah yang aku idam-idamkan itu tak menjadi nyata. Aku harus kuliah, bagaimanapun caranya, kataku waktu itu.

Tahun 2011 aku mencoba memberanikan diri untuk memecah tabunganku. Setelah aku hitung-hitung, ternyata jumlahnya tak mencukupi untukku mendaftar kuliah dan membayar biaya awal masuk. Aku harus kuliah, bagaimanapun caranya, aku menyemangati diri dengan kalimat ini lagi. Aku pun ke sana-kemari mencari pinjaman uang, demi bisa untuk membayar biaya awal masuk kuliah. Namun apa daya, karena ternyata Tuhan (Allah) belum menghendaki. Keinginan kuliah pun aku pendam lagi rapat-rapat.

Ahmad Yusuf

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali, karena pada akhirnya di tahun 2012 uang untuk masuk kuliah sudah terkumpul. Saatnya mencari-cari kampus. Awalnya, ada beberapa kampus yang ingin aku jadikan pilihan. Setelah bertanya ke sana-kemari dan menimbang banyak hal, aku memutuskan untuk memilih sebuah kampus di Kota Yogyakarta, yaitu Universitas Janabadra dengan jurusan S1 Teknik Informatika.

Sejak memutuskan untuk kuliah, waktu kosongku menjadi sedikit sekali. Karena mulai pagi sampai sore aku harus bekerja, lalu sore sampai malam masuk kuliah. Kemudian, di akhir pekan aku pergi ke rumah saudara yang dulu ketika SMK aku sering bersih-bersih di rumahnya. Tapi, kali ini bukan untuk bersih-bersih lagi, melainkan untuk mengajar kursus membatik. Ya, sekarang aku mengajar kursus membatik setiap hari minggu, dari pagi hingga siang.

Demi menambah pemasukan, aku juga membuka bisnis jasa desain grafis seperti membuat undangan, dan pesanan-pesanan lainnya yang berhubungan dengan desain. Kenapa memilih bisnis ini? Karena aku cuma butuh komputer dan software untuk mendesain. Selain itu, aku juga tak perlu ribet lagi, menagih hutang ke sana-sini, dan juga kebingungan membayar deposit seperti waktu berbisnis pulsa dulu. Karena mayoritas orang-orang selalu membayar tepat waktu untuk setiap jasa desain yang aku kerjakan. Untuk sekarang, aku masih mengerjakan bisnis jasa desain grafis ini sendirian. Doakan aku ya, Wovger, semoga usahaku bisa semakin berkembang. Aamiin.

1. Foto Bersama User Acceptence test program MIS dari Developer Mazar Pakistan 2

Jika Wovger bertanya: siapa idolaku? Dengan cepat dan mantap aku menjawab: kedua orangtuaku. Karena dari mereka berdua aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Dari Bapak, aku belajar tentang disiplin dan daya juang yang tiada lelah, juga semangat membaranya untuk hidup menjadi orang yang bermanfaat. Lalu dari ibu, aku belajar tentang hidup yang penuh kasih sayang dan toleransi.

Aku punya cita-cita, kelak aku ingin mempunyai keluarga yang bahagia dunia dan akhirat, yang bisa bermanfaat bagi sesama, yang penuh rejeki berkah, yang benar-benar sakinah, mawaddah warrohmah.

Mungkin, sebagian dari Wovger ada yang berpikir: kok cita-citanya Mas Ucup umum banget ya?

Begitulah. Memang itu cita-cita mulia yang aku dambakan. Karena bagiku, cita-cita untuk ingin menjadi ini dan itu, cukup jadi rahasia yang hanya Tuhan (Allah) dan aku saja yang tahu. Toh, untuk cita-cita menjadi ini dan itu, setiap hari aku juga tak henti-hentinya mengucap doa dan berusaha mewujudkannya melalui upaya. Inilah kewajiban manusia: hanya berusaha dan berdoa. Selanjutnya, biar Tuhan (Allah) yang menentukan nasib terbaik untuk kita.

Saling mendoakan ya, Wovger, semoga kita semua diberi kekuatan serta keteguhan hati untuk meraih apa yang direncanakan dan diusahakan. Semoga, Tuhan (Allah) mengabulkan doa kita semua. Aamiin.

2. Foto bersama Training of trainer nasional dana bergulir proyek World Bank oleh frankfurt school dari jerman