Qori: “Bukan tentang seberapa besar masalahnya. Melainkan, bagaimana cara kamu mengatasinya.”

“Selamat pagi, dengan Qori di sini, ada yang bisa dibantu?”

Itu adalah template ucapan sehari-hariku dalam bekerja. Wovger bisa menebak, kan, profesiku sebagai apa?

Yup, salah banget kalau jawabannya ‘operator seluler’. Hehehe. Karena aku berprofesi sebagai frontliner di salah satu Bank Pembangunan Daerah sejak tahun 2013 lalu. Meski frontliner, tapi aku bukan teller. Melainkan, bagian SA alias Service Assistant. Boleh juga kalau Wovger mau menyebutnya Customer Service. Tugasku adalah melayani nasabah Bank yang ingin membuka atau menutup rekening, mengurus ATM, deposito, pokoknya yang berhubungan dengan funding, lah. Hmm… aku rasa Wovger sudah paham dengan teknis kerjaku, jadi tak perlu lagi aku perjelas.

Nama lengkapku, Siti Maulidahniar Qoriah. Panggilanku, seperti yang sudah aku tulis di atas tadi. Aku adalah pemudi kelahiran Probolinggo, 23 November 1987. Dulu, aku tak begitu pandai bergaul. Setiap bertemu orang yang baru kukenal, pasti aku memilih untuk lebih banyak diam. Hanya berani banyak bicara kalau sudah betul-betul akrab. Tentu, ini sangat berlawanan dengan profesiku yang setiap hari harus terus-menerus berinteraksi dengan orang.

Pekerjaanku menuntut agar aku bisa ramah ke siapapun, dan mendengarkan keluh kesah mereka dengan sungguh-sungguh, demi bisa melayani nasabah dengan baik. Itu berarti, aku harus menekan seluruh egoku, dan menambal segala kekuranganku yang pemalu itu tadi, sehingga bisa mencapai standar-standar yang dibutuhkan sebagai seorang Service Assistant. Intinya, aku harus profesional.

Qori bank

Memang, ada masa dimana itu getir sekali bagiku. Yakni masa-masa ketika rasa maluku yang berlebih ini harus dihadapkan dengan orang-orang baru setiap hari. Bisa melayani nasabah dengan baik saja, dulu, itu sudah pencapaian tertinggi bagiku. Apalagi sampai bisa menerima komplain dari pelanggan, lalu mengatasinya. Wah, itu merupakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Wovger bisa bayangkan, bagaimana seorang pribadi yang pemalu itu ‘dihajar’ bertubi-tubi oleh orang baru setiap hari. Kadang, rasanya seperti tak kuat dan lebih memilih untuk menangis saja. Aku tahu ini tak akan membantu. Tapi setidaknya, ini bisa sedikit meredakan kegundahanku.

“Di manapun bekerja, berikan yang terbaik. All out dalam mengerjakan sesuatu.” Tiba-tiba rangkaian kalimat itu melintas di kepalaku, hadir di sela-sela isakanku.

Pagi hari, sebelum berangkat bekerja, aku meluangkan waktu untuk menganalisis masalahku, kemudian mengukurnya dengan tujuanku. Di Bank, tujuanku bekerja ialah ingin memberikan manfaat kepada orang-orang. Sementara, untuk mencapainya, aku harus terlebih dahulu mempelajari diriku sendiri. Dan sekarang, aku sudah tahu masalahnya.

Qori tipi

Bagiku, hal paling sulit ialah menangani komplain dari nasabah. Karena mereka kadang tak cuma membicarakan masalah teknis yang dihadapi, namun juga masalah-masalah diluar teknis. Lebih ke curhat, memang. Ah, tapi tak apa. Aku tetap harus all out untuk melayani dengan baik, bagaimana pun caranya.

Lambat laun, aku jadi sadar, bahwa untuk bisa menghadapi nasabah yang komplain ialah dengan membayangkan diriku, seandainya berada pada posisinya. Dengan menggunakan trik sederhana ini, aku jadi bisa betul-betul jernih dalam memahami masalah, kemudian mengatasinya. Selain itu, tentunya juga dibutuhkan faktor lain seperti kecepatan dalam bekerja. Karena nasabah selalu menginginkan agar problem yang ia hadapi cepat teratasi.

Menurutku, apapun masalahnya, penanganannya pasti begitu-begitu saja. Jadi, bukan tentang seberapa besar masalahnya. Melainkan, bagaimana cara kamu mengatasinya.

Wovger yang hari ini sedang dilanda hal yang sama, mungkin trik sederhana dariku bisa dicoba. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Mari kita bergandengan tangan, mengatasi ini semua.

Kalau berbicara tentang rencana ke depan, dari lubuk hati yang terdalam, suatu saat nanti, aku ingin menjadi ibu rumah tangga. Aku ingin fokus mengurusi rumah, dan mendidik anak-anakku dengan baik. Bukankah anak-anak hebat lahir dari tangan-tangan para ibu tangguh yang memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya? Nah, disitulah aku ingin berkontribusi untuk bangsa.