Arif Fauzi: “Bepergian naik bus adalah salah satu cara terbaik untuk merenungi hidup, berintrospeksi, lalu membenahinya di kemudian hari.”

Kebanyakan orang lebih merasa bangga ketika naik kendaraan pribadi, sementara aku justru lebih bangga dengan naik bus. Perkenalkan, namaku Arif Fauzi, dan biasa dipanggil Arif. Aku lahir di Gresik pada tanggal 16 Juni 1992. Dan, aku seorang penggemar bus. Apakah istilah ini terdengar aneh di telinga Wovger? Kalau iya, ijinkan aku bercerita tentang kegemaranku ini, agar ketika nantinya bertemu orang lain yang memiliki hobi sama sepertiku, Wovger tak merasa ini sebagai kegemaran yang asing.

Boleh dibilang, aku ini penggemar bus independen, karena aku tak bergabung dengan komunitas bus mania manapun. Anak-anak komunitas bus mania ini biasanya lebih suka pergi ke mana-mana menggunakan bus. Biasanya, mereka berbarengan. Sedangkan aku, sendirian.

Dalam sebulan, aku bisa naik bus antara 1 sampai 5 kali. Jangan berpikir kalau para penggemar bus itu sudah pasti naik bus setiap hari. Bukan. Kalau setiap hari, itu namanya bukan penggemar bus. Melainkan supir atau kernet.

Penggemar bus ialah orang-orang yang selalu mengamati perkembangan dan model-model bus. Lalu mencoba menaikinya. Ya iyalah, masa diangkat. Berat!

Ketertarikan awal terhadap bus, tumbuh sejak aku kecil, gara-gara sering melihat bus di jalan raya. Pertama kali memandang saja, aku seperti tersihir cinta pada pandangan pertama, entah kenapa. Kalau nggak ada perempuan di dunia ini, mungkin sekarang aku sudah menikah dengan bus. Hahaha. Dari kesan pertama itulah, hobiku menaiki bus semakin menjadi-jadi dan itu berlangsung hingga saat ini.

Arif Fauzi

Mungkin sebagian dari Wovger ada yang memandang sebelah mata soal transportasi bus. Aku pun nggak menampik kabar negatif yang banyak beredar, mengingat, belum lama ini ada berita perihal supir bus yang ugal-ugalan hingga terjadi kecelakaan. Tapi jangan serta merta melabelkan bus sebagai kendaraan yang tidak aman. Mungkin, Wovger harus lebih jeli lagi dalam memilih bus. Karena nggak semua supir bus itu ugal-ugalan, dan nggak semua bus itu dalamnya bobrok seperti yang diberitakan banyak media. Ah, media. Terlalu membesar-besarkan!

Bus tergolong kendaraan umum yang ekonomis, serta memiliki jadwal yang fleksibel. Itu membuat penumpang nggak kelabakan untuk cari tiket. Tiket bahkan juga bisa dipesan via online. Selain itu, Wovger juga bisa mendatangi agen resmi atau membelinya melalui supermarket terdekat.

Biasanya, aku lebih sering menaiki bus kelas eksekutif. Jadi, isu-isu tentang kebobrokan bus yang ramai diberitakan itu nggak akan ditemui pada bus ini. Bus eksekutif menyediakan fasilitas yang super nyaman seperti toilet dan tempat duduk yang luas. Sehingga kaki bisa nikmat selonjoran, bahkan pada bus eksekutif juga disediakan bantal dan selimut, ditambah lagi dengan konfigurasi seat yang eksklusif, interior yang nggak kalah dengan kereta atau pesawat, serta pelayanan makanan prasmanan yang lezat.

Sebetulnya masih ada bus kelas super top atau super eksekutif. Kelas tersebut di atasnya kelas eksekutif. Tapi sejauh ini, sebagai penggemar bus, baru bus kelas ekonomi dan eksekutif saja yang pernah aku naiki.

Aku sudah pernah mencoba naik bus kelas biasa untuk jurusan pendek, sampai naik bus malam kelas eksekutif untuk jurusan jarak jauh. Bus jarak jauh biasanya sering disebut bus malam. Perjalanan bus ini sebagian besar dilakukan pada malam hari, lalu sampai di tempat tujuan pada pagi hari. Umumnya, perjalanan bus jarak jauh membutuhkan waktu di atas 12 jam. Namun, tak menutup kemungkinan kalau berangkatnya bisa jam 10 pagi juga, tergantung jurusan yang ditempuh. Jadi jangan mengira kalau bus malam itu hanya melakukan perjalanannya di malam hari saja.

Arip travel

Untuk perjalanan jarak jauh, aku pernah naik bus: SBY-JKT, SBY-BDG, SBY-SMRG, SBY-JOGJA (paling sering), SBY-CILACAP, SBY-DENPASAR. Untuk perjalanan jarak dekat: SBY-BWI, SBY-T.AGUNG, SBY-MADIUN, SBY-CEPU, SBY-BLITAR, SBY-MALANG.

Seringnya naik bus membuatku jadi punya kenalan baru, lebih hafal jalan raya, dan lebih bisa memacu adrenalin ketika bus melaju dengan kecepatan hingga 130km/jam. Hehehe.

Bagiku, bepergian naik bus adalah salah satu cara terbaik untuk merenungi hidup, berintrospeksi, lalu membenahinya di kemudian hari.

Kalau ngomongin soal budget, tentu itu tergantung Wovger mau naik bus apa. Karena logikanya, semakin banyak fasilitas, maka harga juga akan makin mahal. Untuk kelas super top atau super eksekutif secara umum, sejauh yang aku ketahui, sekali pergi (P) itu minimal 300 ribu rupiah. Tentu ini juga tergantung jurusannya, dan yang pasti harus pesan tiket dulu di agen resmi.

Untuk bisa naik bus kelas super top atau super eksekutif, setidaknya aku harus nabung dulu. Hehehe. Meski terlihat mahal untuk sekadar naik bus, tapi menurutku, sekarang jamannya sudah perang pelayanan dan kenyamanan. Penumpang pun sudah mulai ‘melek’ mana bus yang nyaman dan mana yang enggak. Karena itu berhubungan dengan reputasi yang dibangun oleh perusahaan otobus (PO) itu sendiri.

Arip

Semenjak menjadi penggemar bus, alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, aman dan selalu selamat sampai tujuan. Aku nggak berharap akan terjadi hal-hal buruk yang menimpa selama perjalanan. Tapi suatu hari aku pernah mengalami kejadian buruk gara-gara kegemaranku akan bus ini. Jadi aku pernah melihat sebuah bus bagus menyalip motorku. Nah, gara-gara saking senengnya, aku sampai nggak bisa berkedip. Terpesona banget. Akibatnya, aku hampir nabrak orang. Untung aku bisa segera mengantisipasinya. Hehehe.

Ada yang bilang, bisnis itu paling menyenangkan jika kita memulainya melalui bidang yang kita suka. Berangkat dari kegemaranku akan bus inilah, aku jadi punya mimpi, kelak ingin membuka bisnis di bidang traveling semacam penyediaan bus pariwisata. Doakan saja ya, Wovger, semoga impianku bisa terwujud. Entah bagaiman Tuhan menggariskan jalan cerita untukku. Aku juga berdoa, apapun mimpi-mimpi serta harapanmu, semoga tercapai. Aamiin.