Putri Panggalih: “Hasil tak akan mengkhianati proses. Maka, teruslah berusaha, karena restu Tuhan bersama manusia-manusia yang berupaya.”

Kumpulan jurnal internasional, literature, tugas dan revisi. Mungkin, itulah hal yang paling sering teringat saat aku melampaui masa-masa perjuangan menempuh pendidikan S2.

Hello, World!

Namaku Putri Panggalih, dan panggil saja Putri. Aku lahir di Tuban, 1 Februari 1992. Aku hobi sekali berkuliner. Makanya jangan heran kalau perawakanku cukup sehat dan bugar. Hehehe. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Cita-citaku, ingin menjadi dosen. Makanya, aku juga menempuh pendidikan S2, sama seperti Bias Nur Elmira.

Setelah lulus S1 pada bulan Desember tahun 2013, timbullah keinginan untuk melanjutkan pendidikan S2 jurusan Linguistik, demi menggapai cita-cita. Dulu, keinginan terbesarku ialah pingin kuliah di luar negeri dengan mendapat beasiswa penuh. Maklum, sejak kuliah S1, aku mendapat beasiswa sampai lulus. Makanya, aku berharap, semoga hal ini bisa terulang lagi di pendidikan S2-ku. Hehehe.

Berbagai upaya aku tempuh. Mulai dari ikut pameran pendidikan yang menyediakan info beasiswa luar negeri, ikut tes untuk meningkatkan kemampuan TOEFL, hingga mencoba apply beasiswa S2 ke luar negeri pun sudah aku lakukan. Dari sekian tes yang aku lalui, ternyata aku diterima di Roudboud University, Belanda. Perasaanku senang bukan main kala itu. Namun dalam informasi tersebut juga dilampirkan bahwa: beasiswa hanya untuk kuliah, tapi untuk biaya hidup ditanggung penumpang. Hehehe. Pasti Wovger tahu dong, kalau biaya hidup di Eropa itu mahalnya setengah mati. Ditambah lagi, orangtua juga tak mengijinkanku sekolah di luar negeri. Mereka khawatir kalau terlalu jauh dari keluarga, dan juga takut kalau aku sampai terbawa pergaulan serta budaya barat yang bebas. Akhirnya, beasiswa kuliah ke luar negeri itu tak jadi aku ambil. Gara-gara ini, aku sempat kecewa dan down.

Putri Panggalih

Ya, barang kali Tuhan berkehendak lain, aku mencoba menghibur diri. Aku pun mengubur impian kuliah S2 untuk sementara, lalu bekerja di salah satu media milik televisi swasta, menjadi repoter berita. Petualangan lain pun dimulai. Aku hidup di Jakarta seperti yang orang bilang “kerasnya minta ampun” itu seorang diri. Bekerja sebagai seorang reporter berita memang harus tahan fisik dan mental, karena pekerjaan ini boleh dibilang: tak kenal waktu. Pagi hari mulai bekerja, hingga pagi lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya, aku sampai pada sebuah titik dimana aku merasa benar-benar tak kuat dan memilih untuk menyerah. Aku pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan S2 ternyata tak pernah hilang dari benakku. Bahkan, kali ini lebih menggebu daripada biasanya. Namun, lagi-lagi Tuhan memberiku ujian kesabaran, karena semua pendaftaran S2 — baik itu di UNAIR, UGM, UB, sampai UNPAD — sudah tutup. Hanya ada satu kampus yang masih membuka pendaftaran, yakni UNS di Solo. Itu pun gelombang terakhir. Tanpa pikir panjang, aku mulai mencari info tentang UNS dan jurusan yang ingin aku ambil.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata S2 di UNS ada jurusan Linguistik. Lebih membahagiakan lagi, akreditasinya A. Banyak dosen menyarankanku untuk segera mendaftar kuliah S2 di kampus yang notabene masuk dalam 5 besar Universitas terbaik di Indonesia tersebut. Akhirnya, aku mendaftar dan mengkuti serangkaian tahapan tes. Ini kesempatan yang tak akan pernah aku sia-siakan. Tak lama kemudian, kabar baik datang: aku diterima sebagai mahasiswi S2 UNS.

Putri Panggalih dan kawan

Jujur, aku bahagia bisa memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan S2. Namun saat menjalani masa-masa kuliah, terkadang aku juga memiliki rasa rindu ingin kembali bekerja dan menghasilkan banyak uang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kemudian aku sadar bahwa ilmu yang aku dapatkan nanti pasti akan jauh lebih kekal ketimbang uang. Apalagi jika ilmu tersebut aku amalkan dan bagikan kepada banyak orang. Bukankah seperti yang Mbak Resti bilang, bahwa: sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Lambat laun akhirnya aku yakin: keinginanku untuk melanjutkan pendidikan S2 adalah keputusan yang tepat.

Hari-hariku menjadi mahasiswi S2 hampir sama dengan mahasiswa-mahasiswi S1 pada umumnya: kuliah, presentasi, organisasi, tugas, dan masih banyak lagi. Bedanya, jumlah teman-teman sekelas lebih sedikit. Cuma sekitar 20 orang. Teman-temanku kebanyakan datang dari luar Solo seperti, Bengkulu, Lampung, Banjarmasin, Kalimantan, Jakarta, dan lain sebagainya.

Kalau teman-teman yang datang dari jauh saja bisa, tentu aku juga bisa. Begitulah caraku memotivasi diri sendiri.

Aku kuliah hanya 3 hari dalam seminggu. Dulu aku membayangkan: betapa bosannya 4 hari nganggur di kos-kosan. Tapi ternyata bayanganku salah, karena tugas kuliah rupanya banyak sekali. Hahaha. Berkurang sudah jatah tidurku, tapi aku harus terus berjuang agar bisa berprestasi.

Secara telaten aku menjalani study-ku dengan baik. Semester pertama, semua tugas dan mata kuliah berhasil aku kerjakan dengan maksimal. Semester dua, semua teori kulahap habis. Semester tiga, sudah mulai fokus mengerjakan tesis. Tentu ini merupakan masa dimana kepala lebih sering cenat-cenut.

Putri Panggalih dan kapal

Karena pembahasan tesis lebih mendalam, aku butuh membaca banyak jurnal Internasional. Aku berjuang habis-habisan agar jangan sampai tesisnya tak selesai pada semester 3. Kalau sampai gagal, aku harus bayar kuliah lagi hanya untuk menyeleseikan tesis. Selain itu, jika pengerjaan tesis molor, sudah pasti ini akan berdampak pada kesempatan kerjaku yang semakin molor juga.

Finally, apa yang aku perjuangkan membuahkan hasil: aku lulus dalam waktu 1 tahun 6 bulan dengan predikat cumlaude, dan aku merupakan satu-satunya lulusan termuda di jurusanku. Ditambah lagi, kelulusanku juga bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke 24. Sungguh, ini adalah kado terindah dari Tuhan. Sangat indah.

Benar memang kata pepatah, jika hasil tak akan pernah mengkhianati proses. Ingatlah bahwa restu Tuhan selalu berbanding lurus dengan usaha yang kamu perjuangkan.

Aku berharap, semoga ilmu yang telah aku peroleh ini bisa bermanfaat. Baik itu dengan menjadi dosen, atau bermanfaat dengan menjadi apapun. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin terus menimba ilmu lebih banyak. Salah satunya dengan melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3. Aamiin.

Putri Panggalih dan teman