Resti: “Ujian pasti datang. Namun, tetaplah menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah manusia paling baik itu yang bermanfaat untuk yang lain?”

Se~la~mat pagi, Cikgu!

Mungkin ini adalah sapaan wajib Upin dan Ipin terhadap gurunya di sekolah yang biasa Wovger dengar di televisi. Ucapan dari murid kepada guru semacam itu mungkin masih berlaku di taman kanak-kanak, atau beberapa sekolah dasar. Tapi itu sudah tak berlaku lagi untuk guru SMP sepertiku. Hehehe. Atau, mungkin Wovger ada yang masih SMP dan memiliki ucapan khusus kepada guru setiap kali beliau masuk?

Namaku Resti Pratiwi, dan 4 bulan ini aku lagi senang-senangnya menjadi guru bahasa Inggris di Sekolah SMP Islam, Alam dan Sains Al Jannah, Cibubur. Aku harap, rasa senangku dalam mengajar ini bisa terus ada dan bertumbuh sampai kapanpun. Aku lahir di Jakarta pada tanggal 3 Juni 1992. Masih cukup muda ya, kalau untuk ukuran jadi guru? Muda atau tua tak terlalu penting, kan, kalau kita bisa mempersembahkan kualitas yang diharapkan? Hehehe. Aku memiliki hobi dalam bidang seni dan sastra, lalu membaca puisi serta melakukan kegiatan outdoor, khususnya naik gunung.

Ketertarikanku untuk menjadi guru, mulanya gara-gara aku terinspirasi oleh guru-guru yang pernah mengajarku semasa sekolah, khususnya guru bahasa inggris sewaktu di Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain metode belajarnya yang menarik, ada juga satu hal yang tak pernah terlupakan hingga saat ini: beliau pernah memberikan hadiah sebuah kamus bahasa Inggris Oxford dan buku kumpulan games belajar bahasa Inggris sebagai tanda perpisahan karena kami (aku dan teman-teman sekelas) telah lulus SMA. Sedih sih, harus berpisah. Tapi, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Karena setelah lulus SMA kami harus menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Kuliah. Entah kenapa, setelah itu, aku mulai tertarik untuk menjadi guru.

Resti dan teman-teman

Saat kuliah, keinginanku untuk menjadi guru masih menggebu-gebu. Ingin mengajar, tetapi aku belum lulus. Ya sudah, akhirnya aku memberanikan diri untuk menjadi guru les privat. Itu terjadi ketika aku masih kuliah semester 5 hingga semester akhir. Selain itu, aku juga pernah menjadi tutor bahasa Inggris dalam persiapan menuju UN di sebuah Boarding School.

Pertama menjadi guru les privat, aku mengajar 2 orang anak sekaligus, dan dibayar 18 ribu rupiah untuk setiap kali pertemuan. Menurutku, nominal uang bukanlah tujuan utama. Melainkan lebih kepada kebermanfaatanku terhadap orang lain.

Setelah lulus kuliah, cita-citaku untuk menjadi guru di sekolah akhirnya terwujud juga. Selama 4 bulan ini aku belajar banyak hal. Aku belajar bahwa meski telah menjadi guru, aku harus terus-menerus belajar, karena ilmu dan pendidikan sudah pasti akan berkembang. Bukankah kewajiban belajar itu sepanjang hidup? Selain itu, profesi guru juga mengajarkanku untuk menjadi sosok yang lebih sabar.

Resti Malang

Mengajar di sekolah, membuatku bisa mengenal berbagai karakter siswa. Ada anak yang sholeh dan penurut, yang kalau setelah selesai pelajaran pasti mencium tanganku sambil bilang “Thank you miss for everything”. Lalu ada juga anak yang sukanya mengobrol di kelas. Sudah diperingatkan berkali-kali dengan lembut, tetapi masih juga melawan.

Sekolah tempatku mengajar memiliki program inklusif, yaitu sebuah program dari sekolah untuk menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Awal mula mengajar, ini agak menyulitkan bagiku, karena harus bisa memahami karakter murid yang berkebutuhan khusus tersebut, dan membantunya dalam proses belajar. Tapi aku bersyukur, karena kemudian aku bisa menemukan cara tersendiri agar mampu menyampaikan ilmu kepadanya dengan baik.

Ada juga murid yang memiliki gangguan belajar dyslexia (kesulitan dalam membaca dan menulis). Meskipun dia hampir selalu remidi pada banyak mata pelajaran, namun aku kagum dengan usaha dan semangatnya yang gigih untuk memahami pelajaran yang baginya sulit.

Resti dan kawan-kawan

Tuhan memang adil, ya. Dia selalu mengganti kekurangan-kekurangan seorang hamba, dengan kelebihan-kelebihan. Asal Wovger tahu, anak yang dyslexia itu memiliki bakat yang menonjol dalam olahraga renang loh. Selain itu, dia juga memiliki jiwa kepemimpinan. Terbukti, teman-teman sekelasnya mempercayakan dia untuk menjadi ketua kelas.

Pernah waktu itu kelas sedang gaduh, lalu dia bilang: “Miss, duduk aja. Biarin aja yang nggak mau dengerin, yang penting keep smiling on your face ya, Miss.” Mendengar kalimat tersebut dari anak yang polos seperti dia, rasa capek dan riweuh seolah hilang seketika. Hati pun langsung adem.

Ada juga pengalaman lain. Suatu hari ketika aku sedang menulis materi palajaran di papan tulis, ada yang melempariku dari belakang, menggunakan kertas. Saat menoleh ke belakang, aku mendapati bahwa ternyata yang berulah adalah anak yang memang sudah menjadi langganan bermasalah.

“Kenapa melakukan itu?” tanyaku. Tetapi dia malah berkelit dan menjadikan hal itu sebagai bahan guyonan. Aku menduga, dia melakukan itu karena kesal, lantaran aku tidak mengijinkannya ke toilet. Aku tahu, sebetulnya dia ingin keluar bukan untuk keperluan buang air. Tetapi memang ingin menghindari pelajaran saja. Toh, kasus yang lalu-lalu sudah membuktikannya. Jadi aku tahu, siapa-siapa saja yang harus aku berikan izin jika ingin buang air, dan siapa yang tidak.

Murid Resti

Yah, begitulah. Semakin banyak siswa, tentu semakin banyak karakter. Tapi ini justru membuatku lebih bisa memahami dan memperlakukan anak-anak sesuai dengan karakternya. Karena tujuan utamaku ialah ingin menjadi orang yang bermanfaat. Lalu, kebermanfaatan tersebut aku mulai dari bidangku. Jadi, kendala-kendala yang aku hadapi itu hanya aku anggap sebagai kerikil-kerikil kecil yang jangan sampai mengaburkan misi utamaku untuk menjadi orang yang bermanfaat.

“Ujian pasti datang. Namun, tetaplah menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah manusia paling baik itu yang bermanfaat untuk yang lain?” nasihatku pada diri sendiri.

Aku terinspirasi oleh sabda Rasulullah, bahwa: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni).

Suatu hari nanti, aku juga ingin menjadi seorang pengajar di daerah pelosok serta daerah-daerah yang kondisi pendidikannya masih sangat minim, baik itu terkait fasilitas maupun SDM. Oh ya, karena aku suka mendaki gunung, kelak aku juga ingin sekali mengajak mereka untuk mendaki gunung bersama. Hehehe.

Mbak Resti