Yoga Dirgantara: “Meski tak semua mimpi jadi kenyataan, tapi setidaknya beranilah memiliki harapan, bukan sekedar menghujat keadaan.”

Sebelum Wovger membaca kisah Yoga Dirgantara, saya (Mahendar Mukti Prabowo dari Wovgo) ingin menginformasikan bahwa Yoga merupakan seorang penyandang disabilitas, dia tuli (begitu ia lebih suka disebut) dan memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi. Sehingga ia mengkomunikasikan kisahnya menggunakan bahasa isyarat dan mimik mukanya yang ekspresif. Untuk memahami apa yang ingin ia sampaikan, saya mengajak Gajah atau Pandu Nugraha (inspirator Wovgo sebelumnya) untuk menjadi penerjemah.

Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya, bisa mengobrol dengan Yoga Dirgantara. Cerita-ceritanya sungguh menginspirasi, dan membuat saya menjadi malu jika tidak mensyukuri hal-hal indah yang Tuhan berikan selama ini. Berikut cerita inspirasi dari Yoga.

***

Halo, namaku Yoga. Aku berasal dari Malang, dan sekarang usiaku 25 tahun. Saat Wovger membaca cerita ini, jangan membayangkan jika aku mengisahkan semuanya dengan kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku tidak bisa seperti kalian, yang bisa secara sempurna menggunakan setiap bagian tubuh yang telah Tuhan anugerahkan. Mulut dan telingaku tak bisa melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. Namun melalui bantuan Mas Pandu sebagai penerjemah dan Mas Mukti dari Wovgo, akhirnya aku bisa membagi kisahku dengan cara yang semoga bisa diterima dan dipahami dengan mudah.

Jika berbicara tentang disabilitas yang aku alami, ibuku pernah menceritakan bahwa dulu pada waktu berumur 1,5 tahun, aku pernah terkena panas tinggi, bahkan sampai keluar darah dari telinga. Setelah itu, entah kenapa aku jadi susah untuk berbicara dan mengalami permasalahan pada pendengaran. Tapi, sudahlah. Kini, aku tak lagi peduli, kenapa aku bisa seperti ini.

Mengutuk masa lalu tidak akan merubah keadaan. Sekarang, tugasku ialah bagaimana caranya tetap bisa berjuang meski dengan kekurangan.

Walau harus berjuang dua kali lipat, atau bahkan hingga tiga kali lipat lebih keras daripada orang-orang pada umumnya, tapi aku harus tetap tangguh berdiri. Kalau aku menyerah, bukankah itu sama saja dengan peribahasa: sudah jatuh tertimpa tangga?

Yoga Akar Tuli

Jujur, berat bagiku untuk menghadapi kondisi ini. Tapi aku tak boleh mengeluh. Aku hanya bisa memohon kepada Tuhan: bukan untuk diringankan beban, melainkan dikuatkan dalam memikulnya. Sebagai seorang tuli, tentu aku harus menjalani kehidupan dengan jalan yang tidak biasa. Contohnya saja dalam hal sekolah. Saat orangtua lain bisa dengan mudah memilih sekolah untuk anak-anak mereka yang normal, dulu orangtuaku sangat kebingungan mau menyekolahkanku di mana.

Awalnya, orangtua mendaftarkanku di YPAC (salah satu sekolah luar biasa atau disabilitas di Malang). Namun aku hanya sekolah di sana selama 2 hari, karena sedikit sekali teman tuli-nya. Akhirnya aku pindah sekolah ke SLBN Kedung Kandang. Di sekolah ini aku bisa merasakan bahwa aku tak sendirian, karena ada banyak teman-teman lain yang mengalami hal serupa. Ditambah lagi, SLBN Kedung Kandang ini letaknya juga cukup dekat dengan rumahku, jadi lumayan bisa mengurangi biaya operasional untuk transport.

Selain masalah sekolah yang berbeda dari anak-anak pada umumnya, aku juga harus berjuang dalam pergaulan, lantaran sangat kesulitan dalam berkomunikasi. Aku bisa memahami apa yang mereka bicarakan, tapi mereka tak paham dengan apa yang aku ucapkan. Kadang aku merasa seperti alien yang tak bisa leluasa berkomunikasi dengan orang-orang sekitar.

Tidak hanya itu, dulu aku juga pernah mengalami masa-masa susah dalam berkomunikasi dengan ibuku. Beliau yang tak memiliki basic pendidikan untuk mengasuh penyandang disabilitas, awalnya hanya bisa berkomunikasi seadanya denganku. Tapi walau mulanya sangat susah, lambat laun akhirnya membaik, aku dan ibuku bisa saling memahami dalam berkomunikasi.

Yoga Dirgantara Akar Tuli Malang

Setiap orang memiliki bahasa ibu. Misal, Wovger lahir di Jawa. Sudah pasti bahasa ibunya bahasa Jawa. Nah, bagiku, bahasa isyarat adalah bahasa ibuku. Jadi aku dan ibuku bisa saling memahami dengan mengikuti gerakan isyaratku.

Kondisi ini juga sempat menjatuhkan mental. Aku mengalami minder mulai SD hingga SMP. Selain gara-gara lingkungan, juga karena kebiasaanku pergi ke tempat-tempat umum seperti ke pasar atau supermarket. Banyak orang merasa tidak nyambung saat berkomunikasi denganku, sampai-sampai aku pernah berpikir bahwa semua orang tidak bisa memahami dan menerima kekuranganku dengan baik.

Tapi semenjak di SMA aku sudah merasa percaya diri, bahkan hingga kini sudah terbiasa untuk berkomunikasi dengan orang-orang normal. Begitulah caraku dan teman-teman di komunitas Akar Tuli (komunitas untuk para penyandang disabilitas di Malang) melewati masa-masa minder.

Menurutku, berdamai dengan diri sendiri dan membiasakan berbincang-bincang kepada orang-orang normal adalah salah satu cara yang terbukti jitu.

Bergabung dalam komunitas Akar Tuli cukup membantuku dalam menguatkan mental. Ada sekitar 30 anggota di komunitas ini yang kami anggap semuanya adalah keluarga. Aku tidak tahu bakalan seperti apa jadinya jika selama ini tak mendapat support untuk saling menguatkan dengan mereka.

Sekolah mengajariku bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Ada 2 bahasa isyarat yang diajarkan, yaitu SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Bedanya adalah, SIBI lebih baku dan sulit untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari, sedangkan BISINDO lebih mudah untuk digunakan sehari-hari. Nah, bahasa isyarat BISINDO inilah yang digunakan oleh teman-teman Akar Tuli untuk memudahkan dalam berkomunikasi satu sama lain.

Yoga Dirgantara Akar Tuli Malang Indonesia

Dulu setelah selesai sekolah, aku sangat ingin membuka usaha di bidang kuliner. Tetapi takdir berkata lain, karena ternyata aku mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan sekolahku — perusahaan yang memang menerima orang-orang disabilitas. Pikirku, ya sudah, aku ambil saja kesempatan ini. Hitung-hitung sembari belajar, menimba pengalaman baru, menambah relasi sekaligus mengumpulkan modal.

Selesai bekerja di perusahaan tersebut, kemudian aku bekerja di salah satu perusahaan percetakan. Tetapi di sini aku tak bertahan lama, karena dulu bosku gampang sekali marah-marah. Namun tak mengapa, karena sekarang aku sudah pindah dan bekerja di bagian produksi di salah satu pabrik rokok di Malang. Hmm… ternyata hidup di dunia kerja memang tak semudah yang aku bayangkan, Wovger.

Ada sebuah cerita menarik di pabrik rokok. Jadi suatu hari ketika pabrik tempatku bekerja mengumumkan akan ada “lembur”, aku malah menangkapnya itu pengumuman “libur”. Hahaha. Aku kadang tertawa-tawa sendiri, kalau mengingat itu kembali.

Walaupun aku hanyalah orang biasa, dengan kondisi berkekurangan pula, tetapi aku juga punya hak untuk bermimpi, kan? Apalah artinya hidup jika tak memiliki mimpi. Mimpi membuatku bertumbuh menjadi pribadi yang lebih besar.

Meski tak semua mimpi jadi kenyataan, tapi setidaknya beranilah memiliki harapan, bukan sekedar menghujat keadaan, begitulah kalimat yang sering aku bisikkan kepada diri sendiri.

Aku tak menyangka bahwa ternyata salah satu mimpi masa kecilku, ada yang benar-benar menjadi kenyataan. Jadi ceritanya, saat kelas 3 SD, gara-gara sering nonton film Mr. Bean, aku jadi punya mimpi kalau suatu hari nanti ingin melihat Big Ben (bangunan jam raksasa di London). Mimpi yang sepele banget ya? Hahaha. Tapi aku bersyukur karena akhirnya mimpi yang telah lama kupendam tersebut bisa terwujud pada tahun 2014 lalu. Sungguh, aku melihatnya secara langsung dengan mata kepalaku sendiri di London. Tepatnya, ketika aku mewakili Indonesia di ajang Mister Deaf Internasional.

Yoga

Awalnya aku tidak membayangkan bisa mengikuti ajang ini. Apalagi bisa lolos dan mewakili Jawa Timur bersama dua temanku yang lain. Sama sekali tak ada. Bahkan, kala itu ibu sempat tak mengizinkanku untuk mengikuti ajang ini. Beliau khawatir dengan pekerjaanku, karena kalau sampai ikut, sudah pasti aku harus meninggalkan pekerjaanku selama beberapa hari. Beruntung, bagian personalia perusahaan memperbolehkanku ikut dan memberi waktu libur hingga 1 minggu.

Tak mudah berkompetisi dalam ajang ini, karena aku banyak dihantui rasa pesimis. Namun meski demikian, aku tetap harus berusaha keras. Karena cuma itu satu-satunya cara yang bisa kutempuh untuk mewujudkan mimpi masa kecilku.

Satu hambatan hilang, lalu hambatan lain datang. Rasa pesimis hilang, kemudian sakit datang. Parahnya, sakit ini datang menjelang grand final. Aku tak boleh menyerah, kataku saat itu kepada diri sendiri.

Perjuanganku bersama dua temanku pun akhirnya membuahkan hasil, karena akhirnya kami bisa menjadi juara 1 di antara finalis lainnya. Juri menilai kami dari segi kemampuan, bakat, sosialisasi, kelancaran presentasi (tentunya menggunakan bahasa isyarat) dan wawasan. Pasca mendengar kabar ini, ibuku menangis haru dan bangga atas apa yang telah aku raih. Rasa khawatirnya ternyata bisa aku bayar dengan hasil yang tak pernah terbayangkan.

Ada sebuah pengalaman unik yang pernah aku alami. Jadi ketika akan pergi menuju Inggris, aku transit terlebih dahulu di Dubai. Nah, saat di Dubai ini, aku bertemu dengan sepasang kakek nenek. Entah bagaimana ceritanya, tiket kami tertukar. Beruntung, ini bisa segera teratasi, dan perjalananku ke London bisa berjalan dengan lancar. Eh, tak tahunya ketika sampai di bandara London, aku dan sepasang kakek nenek itu bertemu kembali, lalu ngobrol-ngobrol sebentar sambil menertawakan kejadian saat di Dubai. Pergi ke Inggris merupakan sebuah pengalaman indah yang tak pernah kusangka akan terwujud. Sejak itulah, aku mulai percaya akan kekuatan mimpi-mimpi.

Oh ya, Wovger, di Inggris aku melihat ada sesuatu yang berbeda. Di sana disediakan fasilitas umum bagi para penyandang disabilitas. Selama di sana aku merasa sangat terbantu dan dimudahkan. Aku berharap, fasilitas serupa juga kelak bisa ada di Indonesia. Aamiin.

Meski sekarang bekerja, namun aku masih ingin menempa diri belajar lebih dalam tentang memasak. Karena mimpi untuk membuka usaha di bidang kuliner yang telah tertanam semenjak lulus sekolah, ternyata masih tertanam kuat sampai sekarang. Aku ingin terus-menerus mengulang-ulang mimpi ini, dan berupaya keras untuk mewujudkannya.

Yoga Dirgantara