Teguh Widodo: “Tuhan memang menerima kita apa adanya. Tapi jika kita berusaha, Tuhan pasti tak akan membiarkan kita hidup seadanya.”

Hai Wovger, namaku Teguh Widodo. Aku lahir di Purworejo, 11 Juli 1995. Kini aku memasuki usia 21 tahun, dan sudah bekerja di sebuah pabrik produsen ban yang cukup besar di Jakarta. Yah, walau masih dalam masa training, tapi aku sangat bersyukur dengan pekerjaanku yang sekarang. Karena kalau mengingat-ingat kembali pekerjaanku dan kondisi batinku yang lalu-lalu, maka menurutku pekerjaan sekarang adalah yang paling pas.

Ijinkan aku bercerita tentang hidup yang aku lalui…

Sejak sekolah aku sudah dituntut untuk bekerja keras, demi membantu meringankan tanggungan orangtuaku dalam membiayai sekolahku dan adikku. Orangtua sering mengajakku untuk ikut bekerja di ladang. Mulai dari membersihkan rumput, menyedot air, dan masih banyak lagi. Semua aku kerjakan agar sekolahku bisa tetap berjalan.

Pasca lulus dari SMK, aku bingung: mau bekerja di mana? Ingin merantau untuk mengadu nasib pun aku tak punya ongkos yang cukup, karena meski aku menanam tembakau dan saat itu juga sedang musim tembakau, namun tembakau yang aku tanam mengalami gagal panen gara-gara banjir. Saat itulah perekonomian keluargaku mulai goyang.

Teguh Widodo Naik Motor Polisi

Bermodal memecah tabungan 200 ribu hasil bekerja menyedot air di ladang, aku memberanikan diri merantau ke Solo, lalu bekerja di sana sebagai kuli panggul — tukang angkat-angkat merang. Di tempat tersebut aku bekerja dari jam 4 pagi sampai jam 3 sore. Rasanya memang sangat berat. Sehingga aku hanya sanggup bekerja selama 2 minggu. Tapi aku bersyukur, karena uang dari hasil aku bekerja tersebut cukup lumayan, dan bisa aku gunakan untuk aku merantau ke Bandung.

Selama di Bandung, aku ikut temanku bekerja di sebuah bengkel dengan gaji 300 ribu per 2 minggu. Beruntung, bengkel memberiku jatah makan dan menyediakan tempat untuk tidur. Di sini aku dituntut bekerja 7 hari penuh dalam seminggu, sehingga aku tidak bisa pergi ke Gereja setiap hari minggu. Merasa tak kuat dengan sistem kerja yang padat, ditambah gajinya yang sangat kecil untuk ukuran kota sebesar Bandung, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari bengkel setelah 1 bulan bekerja.

Setelah dari Bandung aku mencoba peruntungan di Cengkareng dengan bekerja sebagai kernet truck box dan sering mengirim paket ke Jakarta dan Bandung. Di sini aku tinggal bersama Pak Lek — adik dari orangtuaku. Lagi-lagi, aku hanya kuat untuk bekerja sebentar, sekitar 2 minggu. Bukan gara-gara gajinya yang kecil, melainkan karena pekerjaan ini mengharuskanku untuk sering-sering bergaul dengan para sopir. Wovger pasti tahu lah, gimana kelakuan kebanyakan para sopir. Jadi nggak perlu aku ceritakan di sini. Itulah yang membuatku tak tahan dan memilih untuk keluar.

Teguh Widodo Mendaki

Sampai di titik ini aku sempat putus asa. Tak tahu lagi harus bagaimana. Tetapi, hidup harus terus berjalan. Tiada guna meratapi nasib, karena sedikit pun tak akan membantu memulihkan kondisiku. Berangkat dari pemahaman demikian, aku berusaha kembali bangkit.

Berbekal modal seadanya, aku mencoba peruntungan dengan menjual mainan keliling di SD dan TK. Gara-gara pendapatan tak menentu, akhirnya aku pindah tempat jualan ke Balaraja, Tangerang. Tapi, ternyata omset jualanku lebih parah, malah menurun.

Dalam kondisi dan tekanan yang begitu banyak seperti ini, aku mencoba lari ke tempat yang tepat, yakni dengan sering-sering bersekutu di Gereja. Kebiasaan ini membuatku lebih dekat kepada Tuhan.

Dari setiap kesusahan demi kesusahan yang aku hadapi ini, aku seperti diingatkan bahwa ternyata aku tidak mampu berjalan sendirian tanpa penyertaan Tuhan.

Merasa bahwa aku tak mungkin menggantungkan hidup dari berjualan mainan, aku memilih untuk menutup usaha kecil-kecilan ini. Kemudian aku kembali mencari kerja, dan diterima di pabrik plastik kemasan. Di pabrik tersebut aku bekerja dengan gaji 50 ribu per hari, dan harus melawan banjir setiap kali hujan turun. Menurutku, gajiku selama bekerja di sini sudah lebih baik jika dibanding pekerjaanku yang lalu-lalu. Tapi, beberapa hal membuatku tak betah, sehingga aku pindah kerja lagi. Kali ini aku pindah ke Cikarang, tepatnya di kawasan Delta Silikon 3. Lagi-lagi, ada hal yang membuatku tak betah: aku bekerja mulai Senin hingga Sabtu dengan gaji di bawah UMR. Hal-hal itulah yang membuatku kembali memilih resign.

Teguh Widodo Menembak

Namun meski demikian, ada hal yang bisa membuatku bersyukur selama berada di Cikarang, yakni aku mengalami pemulihan secara spiritual. Aku dipertemukan dengan komunitas yang tepat di Gereja. Di sini, aku merasa lahir kembali secara rohani dan semakin menyerahkan diri kepada Tuhan.

Hari demi hari aku gunakan untuk berdoa kepada Tuhan. Apalagi kalau bukan doa memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak (UMR) dan nyaman dengan lingkungan serta pekerjaannya? Karena memang inilah yang sangat aku butuhkan saat itu. Tanpa menunggu lama, Puji Tuhan, doaku dikabulkan. Aku diterima di sebuah PT. Fatalnya, ternyata PT ini tak jauh beda dengan tempat-tempatku bekerja sebelumnya: memberi gaji di bawah UMR dan parahnya, tempat kerjaku yang ini sangat rentan dengan risiko fisik dalam bekerja. Tak perlu berpikir-pikir lagi, aku langsung memilih untuk resign.

Kalau melihat tempat kerja demi tempat kerja yang pernah aku lalui, aku merasa seperti selalu masuk ke lubang yang sama terus-menerus. Hidup terasa berjalan begitu-begitu saja. Seperti tanpa arah. Menatap info lowongan kerja, aku seperti mati rasa.

“Ah, paling perusahaan ini bakal kayak yang lalu-lalu,” pikirku.

Teguh Widodo foto

Tapi entah mendapat bisikan dari mana, tiba-tiba aku merasa yakin ingin memasukkan lowongan kerja ke sebuah perusahaan. Aku dipanggil, lalu menjalani serangkaian tes, dan hasilnya: aku diterima di salah satu perusahaan produsen ban di Jakarta!

Jujur, aku masih setengah bahagia. Mencoba waspada, kalau sampai perusahaan ini akan sama seperti perusahaanku yang lalu-lalu. Namun ternyata, dugaanku salah. Teman-temanku ramah, pekerjaanku menyenangkan, dan gajinya sesuai UMR. Bahkan, bisa lebih kalau ada lemburan. Aku bahagia. Di sini aku benar-benar merasakan bagaimana penyertaan Tuhan.

Lambat laun aku jadi semakin percaya bahwa Tuhan memang menerima kita apa adanya. Tapi jika kita berusaha, Tuhan pasti tak akan membiarkan kita hidup seadanya.

Kini, aku memang masih jauh dari kata makmur. Tapi aku betul-betul merasa damai sejahtera dengan pekerjaanku yang sekarang. Sungguh, ini merupakan perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Ternyata, jika aku terus berusaha dan mengandalkan pribadi yang tepat, yaitu Tuhan, aku akan menuai setiap hasil dari usahaku ini. Ya, seperti sekarang. Aku benar-benar bisa mendapatkan apa yang aku cari-cari selama ini. Aku harap, Wovger yang sedang merasakan apa yang pernah aku rasakan, semoga segera memperoleh apa yang dicita-citakan. Amen.