Fajar: “Jika rindu keluarga ialah kepastian bagi para perantau, maka sukses di perantauan adalah harga yang harus dibayar.”

Hai Wovger, namaku Fajar. Lengkapnya Fajar Rachmadi Priyambada. Aku lahir di Madiun, 13 Maret 1992. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Hobiku bermain musik dan olahraga. Sekarang, aku bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang lebih akrab disebut BMKG.

Aku nggak pernah menyangka kalau masa depanku dalam bidang pekerjaan akan banyak berhubungan dengan cuaca dan gempa. Karena cita-citaku sejak dulu sebetulnya ingin jadi programmer. Sementara disisi lain, dulu aku juga nggak ingin jadi beban orangtua dalam hal biaya pendidikan. Makanya, saat itu aku sering-sering memutar otak, memikirkan, bagaimana caranya agar tetap bisa kuliah di jurusan IT, namun tanpa membebani orangtua secara finansial. Sehingga, solusi paling jitu saat itu ialah: mencari kampus yang memberi beasiswa di jurusan IT.

Tapi, saat itu pengetahuan dan pengalamanku masih minim sekali. Aku kurang berani untuk mencari hal-hal (dalam kasus ini: beasiswa) yang teman-teman terdekatku belum membuktikannya. Mau tak mau, mimpi menjadi programmer aku kubur dalam-dalam, lalu memilih menerima ajakan temanku untuk mendaftar kuliah di STAN. Mengapa STAN? Karena cuma ini kampus yang aku tahu bisa memberikan pendidikan gratis dan memiliki jaminan kerja yang jelas.

Fajar Rachmadi Priyambada dan kawan-kawan

Rupanya aku tak seberuntung Mas Christian Karunianto yang bisa diterima kuliah di STAN. Aku sempat panik, karena tak tahu lagi harus mendaftar kuliah ke mana? Mengingat referensiku tentang kampus-kampus yang memberikan beasiswa secara full masih terbilang minim sekali. Sampai akhirnya seorang teman mengabariku kalau STMKG (Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru.

“Meski tak sepopuler STAN atau IPDN, tapi kampus ini ada ikatan dinasnya. Langsung di bawah BMKG. Jadi lulusannya sudah pasti akan menjadi PNS di lingkungan BMKG,” cerita seorang temanku.

Mendengar kabar tersebut, mataku berbinar-binar. Seperti mendapat angin segar. Cepat-cepat aku menceritakan hal ini kepada orangtua. Mereka menyambut baik ceritaku, lalu memberi doa dan restu agar aku segera mendaftar. Aku pun mendaftar, lalu menjalani serangkaian tes, dan alhamdulillah diterima di jurusan Geofisika. Bisa dibilang, aku ini sekolah di BMKG karena tersesat. Tetapi, tersesat yang membawa nikmat. Hehehe.

Setelah lulus kuliah, aku langsung diangkat menjadi pegawai BMKG di pusat gempa bumi regional 3 sebagai pengamat dan analis gempa bumi di Kuta, Bali. Tugasku ialah memantau apabila ada aktivitas gempa bumi. Sebagai contoh, jika terjadi potensi adanya tsunami, maka BMKG akan memberikan peringatan secara dini kepada masyarakat. Tentu hal ini demi meminimalisir adanya korban jiwa. Selain itu, aku juga memberi pemahaman kepada masyarakat, agar mereka bisa tanggap dan siaga terhadap bencana.

Fajar Rachmadi Priyambada Kondangan

Jika mungkin Wovger ada yang bertanya:

“Kenapa sih harus ada BMKG segala?”

Jadi, BMKG itu ada, karena Indonesia harus selalu siaga terhadap bencana apa pun. Tentu, untuk mengetahui hal ini, diperlukan orang-orang yang ahli dalam menginformasikan pertanda akan adanya bahaya. Nah, disinilah salah satu peran penting adanya BMKG.

BMKG merupakan instansi atau lembaga pemerintah non kementrian di bawah Presiden. Tupoksinya, memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya informasi tentang cuaca, iklim, gempa bumi dan tsunami, serta memberi informasi tentang tanda waktu.

Fajar Rachmadi Priyambada Liburan ke Pantai

Saat ini, kantor-kantor BMKG sudah tersebar di seluruh wilayah NKRI, bahkan hingga ke pelosok daerah. Setidaknya, ada 4 deputi di BMKG:

  • Meteorologi, yakni bagian yang mengurusi segala informasi yang berkaitan dengan cuaca.
  • Klimatologi. Bagian ini bertugas untuk memberikan informasi mengenai iklim. Informasi ini sangat penting, khususnya bagi para petani. Sehingga mereka dapat meminimalisir kerugian-kerugian gagal panen yang diakibatkan karena iklim.
  • Geofisika. Bagian ini tugasnya memberi informasi tentang gempa bumi, peringatan dini tsunami, dan tanda waktu. Untuk tanda waktu, biasanya BMKG bekerja sama dengan instansi lain. Misalnya untuk penentuan hilal awal ramadhan yang bekerja sama dengan kementrian agama.
  • Instrumentasi, Kalibrasi dan Rekayasa Jaringan. Ini merupakan bagian yang mengurusi maintenance peralatan dari ketiga deputi lainnya.
Fajar Rachmadi Priyambada Terjun Lapangan BMKG

Prestasi BMKG di kancah Internasional juga nggak bisa dianggap sepele, karena asal Wovger tahu: Kepala BMKG juga merupakan Presiden Regional 5 atau pimpinan lembaga (semacam) BMKG se-Asia Pasifik. Memang, diakui, perkembangan BMKG bergerak sangat pesat, terutama setelah tsunami di Aceh pada tahun 2004 silam.

Selain itu, kinerja BMKG pun sekarang sudah jauh lebih baik. Salah satu contoh, masyarakat yang dulunya apatis dengan hal-hal semacam ini, sekarang mulai membuka hati dan pikirannya untuk bersedia di edukasi serta bekerja sama.

Tak cukup sampai disitu, teknologi yang digunakan pun termasuk salah satu yang tercanggih di dunia, setara dengan yang dimiliki oleh Jerman maupun Amerika. Bahkan, untuk peringatan dini tsunami, informasi BMKG dijadikan rujukan oleh negara-negara di sekitar Samudera Hindia.

Tujuan kami ialah untuk masyarakat, jadi kami harus rajin dan telaten dalam memberi sosialisasi serta pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana penanganan jika terjadi bencana.

Fajar Rachmadi Priyambada Tersenyum

Semenjak bekerja di BMKG, aku jadi merasa lebih dekat dengan alam, khususnya alam Indonesia. Lalu memahami sejarah terbentuknya alam Indonesia dan mengenal dengan lebih baik budaya masyarakat Indonesia. Aku juga banyak mendapat pengalaman-pengalaman menarik saat bersosialisasi dengan masyarakat yang memiliki adat berbeda-beda. Misalnya ketika ditugaskan di Pulau Sumba, NTT. Masyarakat di sana, kalau bertemu orang, salam yang mereka berikan bukanlah jabat tangan. Melainkan, saling menempelkan hidung dengan hidung. Hal semacam ini terasa asing bagiku, mengingat aku yang sejak kecil sudah terbiasa dengan adat Jawa.

Kemudian ada lagi pengalaman yang menurutku lucu. Jadi suatu hari ketika kami mengadakan sosialisasi kepada anak-anak SD di Bali, dengan polosnya, ada seorang anak bertanya:

“Kalau ada tsunami, apakah kita tetap bisa surfing?”

Sontak, seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Aku pun sampai tak kuat menahan sakit perut gara-gara ketawa. Hahaha. Kebanyakan kejadian-kejadian unik semacam ini justru aku alami ketika bersosialisasi langsung dengan masyarakat. Ini membuktikan bahwa Indonesia itu kaya akan adat serta budayanya.

Fajar Rachmadi Priyambada di Balawista

Sekarang, terhitung aku sudah bekerja di BMKG selama 3,5 tahun. Banyak PR besar yang masih harus kami tangani. Alam Indonesia memang indah. Namun dibalik itu semua, ada banyak hal mengancam, seperti cuaca ekstrim, kebakaran, gempa bumi, hingga tsunami. Maka dari itu kami ada, dan siap untuk berupaya menjaga alam Indonesia. Jadi, siapa pun yang sudah menjadi bagian dari BMKG, harus siap di tempatkan di mana pun. Bahkan, sampai ke tempat-tempat pelosok sekali pun.

Kalau mungkin Wovger ada yang bertanya: ‘apa tidak rindu dengan keluarga?’

Rindu jelas iya. Rindu sekali bahkan. Tetapi ini tugas negara, dan aku sedang mengembannya. Ini amanah yang harus aku jalankan dengan sebaik-baiknya. Agar aku bisa selalu mensukseskan setiap pekerjaan yang sedang aku lakukan.

Karena, bagiku, jika rindu keluarga ialah kepastian bagi para perantau, maka sukses di perantauan adalah harga yang harus dibayar.

Saling mendoakan ya, Wovger, semoga kita semua dikuatkan dalam mengemban amanah masing-masing. Oh ya, mohon doanya juga, semoga kelak aku bisa menghajikan kedua orangtuaku. Aamiin.

Fajar Rachmadi Priyambada