Welga: “Naik kereta, memandangi stasiun dan terowongan bangunan Belanda, adalah cara lain untuk belajar dan menemukan aspek sejarah tak terduga.”

Naik kereta api tut… tut… tut…

Wovger pasti pernah mendengar lagu itu dong. Lagu tentang kereta api. Kalau Arif Fauzi merupakan penggemar bus, maka aku adalah penggemar atau penumpang kereta api. Bukan hanya penumpang biasa, namun penumpang militan. Betul-betul suka kalau kemana-mana naik kereta api.

Oh ya, perkenalkan, namaku Welga Febdi Risantino, panggil saja Welga. Aku lahir di Jember, 17 Februari 1992 dan anak kedua dari dua bersaudara. Meski suka naik kereta api, tapi aku bukan masinis atau orang yang bekerja di Industri Kereta api. Aku merupakan pekerja di salah satu TV swasta yang bertempat di Jakarta, sebagai tim kreatif. Kesukaanku naik kereta, pas sekali jika disandingkan dengan hobiku di bidang fotografi. Aku bisa menggunakan waktu-waktu di dalam kereta untuk mengambil gambar.

Aku mulai jatuh hati dengan kereta api sejak SD. Dulu, tiap hari minggu, aku sering diajak Bapak ke stasiun kereta api hanya untuk melihat kereta . Mungkin niat Bapak kala itu adalah memperkenalkan alat trasportasi padaku. Biasanya, demi memuaskan batinku, aku sering naik kereta Langsir. Kereta Langsir merupakan lokomotif yang hendak berpindah jalur rel.

Welga Febdi Risantino di kereta

Tapi suatu hari, aku sempat pernah keliru, yang biasanya naik kereta Langsir, ternyata kereta tersebut malah mau berangkat ke Surabaya. Wah, akhirnya sebelum kereta melaju cepat, aku langsung lompat dari kereta . Itu adalah momen yang memalukan. Lucu tapi deg-degan, karena takut nggak bisa pulang hehehe.

Sejak saat itulah, aku makin suka naik kereta api hingga saat ini. Banyak jurusan yang pernah aku tempuh, seperti jurusan Jember-Banyuwangi (Baru), Jember-Malang, Jember-Surabaya, Jember-Jombang, Jember-Jogja, Jember-Jakarta, Malang-Tulungagung dan KRL keliling Jakarta. Impian naik lereta yang belum terwujud itu, keliling Jawa. Dari Banyuwangi paling ujung timur Pulau Jawa sampai paling barat ada stasiun Merak. Pasti butuh waktu dan tabungan yang cukup besar untuk mewujudkan keinginan yang satu ini.

Aku jadi gemar menabung demi bisa keliling Jawa naik KA. Biasanya aku sisihkan uang hingga 500 ribu per bulan, agar suatu saat aku bisa berkeliling naik KA mengunjungi sembilan DAOP di Pulau Jawa. Aku sampai membayangkan, jika impianku ini terlaksana, aku ingin jadi backpacker kereta yang tidur di kereta atau stasiun, mandi juga di stasiun, foto-foto sama kereta . Pernah aku menghitung estimasi waktu yang dibutuhkan untuk keliling Jawa, yaitu 7 hari. Mulai dari jurusan Jember lewat Surabaya, Semarang, Jakarta, Merak, terus ke Bandung, Jogja, kemudian balik ke Jember lagi. Impian itu benar-benar nyata di depan mataku, tapi untuk saat ini masih belum memungkinkan, soalnya ada tanggungan pekerjaan yang nggak bisa ditinggal dan weekend-pun masih bekerja aja, jadi malah makin jarang naik kereta . Bagiku, seorang pecinta kereta api tidak dihitung dari intensitas ia naik kereta , tapi bagaimana ia bangga dan senang dengan seluruh aspek yang ada di kereta api.

Welga Febdi Risantino di stasiun

Sebagai pencinta kereta api / Railfans, aku harus mencoba segala kelas KA, mulai dari kelas ekonomi sampai ke eksekutif agar aku makin paham seluk beluk kereta api. Aku pun bahkan sempat mengikuti komunitas pecinta KA saat berkuliah di Malang, yakni railfan +444. Sebenarnya, komunitas pecinta KA ada banyak jenis, seperti Komunitas Edan Sepur, Ada Semboyan 35, pokoknya tergantung kota masing-masing.

Welga Febdi Risantino

Yang aku dapatkan dari komunitas banyak banget, aku dapat teman baru yang suka kereta dari berbagai sudut pandangan. Ada yang suka history dan kereta klasik, ada yang suka riset jalur kereta api jaman dulu, ada yang suka traveling naik kereta (istilahnya Joyride). Kegiatannya pun bisa dibilang macam-macam, nggak hanya kumpul dan sharing aja. Namun juga ada hunting foto, lalu kegiatan menghias lokomotif kereta saat memperingati Hari ulang tahun KA, mencuci lokomotif, bahkan aku pernah jadi volunteer dengan membantu penumpang di stasiun Malang perihal kereta mana yang akan dituju. Pokoknya semua tentang kereta itu menyenangkan banget.

Kalau ditanya kenapa harus kereta api, bukan bus seperti kesukaan Arif Fauzi? Apalagi sekarang tiketnya makin naik dan isu kereta anjlok yang lumayan intens bermunculan di berita? Apa nggak takut?

Aku sih cuma bisa menjawab, kalau waktunya nggak selamat ya nggak selamat aja. Nggak cuma di kereta , di bus maupun pesawat pasti juga ada risiko, bukan? Begitu pula dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setiap alat transportasi. Tapi kalau menurutku pribadi, Kereta itu merupakan tempat yang bisa merefreshkan pikiran melalui pemandangan indah yang nggak ada di Jalan Raya. Lewat persawahan, masuk ke terowongan, masuk ke hutan sampai relnya bisa membelah gunung dan nggak macet.

Welga Febdi Risantino Kereta Api

Meskipun kita ngga naik kereta, ada kepuasan tersendiri saat kita menemukan spot-spot untuk dinikmati sepanjang jalur rel. Misalnya dengan mendatangi terowongan kereta api yang memiliki nilai sejarah tertentu. Mengunjungi stasiun bersejarah, atau menelusuri jalur kereta yang telah mati. Banyak yang bisa dinikmati dan banyak ilmu sejarah yang bisa didapat. Jadi, bisa menghargai sejarah melalui kereta api.

Naik kereta, memandangi stasiun dan terowongan bangunan Belanda, adalah cara lain untuk belajar dan menemukan aspek sejarah tak terduga.

Menurutku, pengalaman yang paling menyenangkan itu kalau udah mendapatkan tiket kereta dengan nomor bangku dan nomor Kereta yang kita inginkan. Karena bagi yang suka naik Kereta, pasti akan memilih spot atau tempat duduk yang bisa melihat pemandangan luar. Kalau aku sendiri, lebih suka duduk di nomor-nomor tengah dan dekat dengan jendela. Apalagi kalau bukan biar bisa menikmati pemandangan dan hunting foto? Hehe.

Welga Febdi Risantino di Kereta Api

Aku juga pernah punya pengalaman buruk. Tepatnya saat aku masih SD, dan naik kereta dari Blitar ke Jember. Waktu itu kereta yang aku tumpangi namanya KA Rengganis, yang saat itu memasuki stasiun Mangli (mendekati kota jember). Namanya juga anak-anak, antusias banget lihat pemandangan dari pintu Kereta . Tapi tiba-tiba, gerbong yang aku tumpangi bergoyang, dan gerbong di depanku miring hampir 30 derajat. Aku hampir jatuh, seketika tangan Bapakku terjulur dan menarikku ke dalam, rasanya seperti hampir terlempar ke luar. Bisa dibayangkan, kalau itu sampai terjadi mungkin sekarang aku nggak di sini dan cerita ke Wovger soal Kereta api.

Pesanku buat teman-teman, terutama anak muda untuk saling menjaga dan mencintai moda transportasi yang satu ini. Karena banyak kejadian seperti pelemparan batu oleh oknum yang nggak bertanggung jawab. Selain itu, pernah juga, karena iseng, ada yang suka menaruh batu-batu di sepanjang rel. Akibatnya, kereta sewaktu-waktu bisa anjlok. Yang jadi korban bukan hanya keretanya aja, tapi juga penumpang yang ada di dalam. Daripada menimbulkan bahaya dan merugikan, yuk saling menjaga dan merawat agar trasnportasi di Indonesia makin ciamik lagi.

By the way, itu tadi kisahku dan kereta api. Harapannya, selain aku harus bisa naik kereta keliling Jawa, aku juga berharap agar bisa lebih banyak terlibat di bidang kereta api, entah itu dari segi bisnisnya seperti di bidang logistik atau bekerja di industri kereta api itu sendiri. Ya, paling nggak karena aku berasal dari jurusannya broadcast (Komunikasi), nyantol kerja di majalah KA pasti menyenangkan. Hehe.

Welga Febdi Risantino malam hari