Krisna: “Kangen adalah ujian utama bagi para pejuang LDR. Tapi cuma LDR yang bisa bikin sensasi ketemuan serasa baru jadian.”

Halo Wovger, namaku Krisna Ardy Prayudana, atau biasa dipanggil Krisna. Lalu nama kekasihku, Lisa Sulistyaningsih. Aku lahir pada tanggal 15 Mei 1990, sedangkan Lisa lahir pada 23 Maret 1990. Hobiku membaca dan olahraga. Sementara hobi Lisa, ngomelin aku. Haha. Nggak deng, bercanda. Hobi Lisa ialah membaca, jalan-jalan, dan makan.

Saat ini, kami menjalani LDR (Long Distance Relationship). Mula-mulanya, saat aku tinggal di Klaten dan ia tinggal di Ponorogo, kami biasa bertemu, setidaknya 1 bulan sekali. Tapi setelah aku tinggal di Jogja, frekuensi pertemuan kami sekarang merenggang jadi 1 hingga 2 bulan sekali.

Lisa Sulistyaningsih

Awal merantau, aku sering dihantui rasa takut, cemas, dan berbagai pikiran negatif lainnya. Aku bahkan sempat khawatir, kalau-kalau, di Ponorogo ia sampai selingkuh. Kekhawatiranku bisa semakin memuncak tatkala aku mengirimkan pesan singkat, namun ia tak segera membalas. Atau, aku menelepon dan ia tak segera mengangkat. Hal-hal sepele semacam inilah yang kadang membuatku menjadi emosi dan gampang marah. Tapi, aku marah karena rasa sayang. Aku marah karena tak ingin ia mendua. Karena aku sungguh-sungguh sangat mencintainya.

Lambat laun komunikasi kami semakin sering, aku jadi bisa mengatasi rasa emosi yang muncul. Sekarang aku tahu, cara untuk membunuh rasa curiga terhadap pasangan ialah dengan sering-sering menjaga komunikasi.

LDR membuatku semakin cinta dengan Lisa. Bayangin deh, sebulan atau dua bulan sekali kami baru bisa ketemu. Pasangan mana coba yang tak didera rindu, kalau jarang bertemu gitu.

Menurutku, kangen adalah ujian utama bagi para pejuang LDR. Tapi cuma LDR yang bisa bikin sensasi ketemuan serasa baru jadian.

Makanya, kami selalu seneng banget tiap kali ketemuan. Rasa ketemuan ketika LDR, beda banget dengan rasa ketemuan saat dulu bisa sering-sering ketemu. Bagiku, sisi positif yang bisa diambil dari LDR adalah membuat kami tak gampang bosan satu sama lain. LDR membuat kami bisa lebih memahami satu sama lain. LDR juga bisa dijadikan tolok ukur, seberapa besar cinta yang pasangan miliki terhadap kita. Atau sebaliknya.

Krisna Ardy Prayudana

Suatu hari aku pernah khilaf. Entah mendapat bisikan setan dari mana, seorang wanita menggodaku, dan aku tertarik. Lalu terjadilah perselingkuhan. Tolong jangan tiru ini, Wovger! Aku pernah mengalaminya, dan aku menyesalinya. Jadi, jangan lakukan hal yang engkau tahu pada akhirnya nanti hanya akan kau sesali.

Ketika menjalani perselingkuhan ini, sebetulnya hati kecilku tak nyaman. Aku betul-betul masih cinta dengan Lisa. Tapi, ah, entahlah. Apa yang membuatku saat itu terjerumus. Sementara di sisi lain, aku juga susah untuk melepaskan hubungan gelap tersebut.

Sampai suatu ketika, Lisa memergokiku sedang berselingkuh. Aku tertangkap basah.Ia menangis. Saat itu, aku benar-benar merasa menjadi pria yang paling brengsek di dunia. Bisa-bisanya, wanita sebaik dan selembut Lisa, aku permainkan begitu saja. Aku menyesal. Sungguh, aku menyesal.

Sasha Carisha

Berkali-kali aku mencoba untuk meminta maaf, namun rasa sakit masih menempel di benak Lisa. Aku tahu, guratan itu tak akan pernah hilang dalam dirinya. Selamanya! Tapi aku sungguh-sungguh khilaf. Aku menyesal. Aku menyesal.

Beberapa hari kemudian, setelah pertengkaran antara kami mereda, Lisa memaafkanku. Aku bahagia bukan main. Aku tak tahu lagi, harus membalas apa untuk kesabaran yang ia miliki. Sungguh, ia betul-betul wanita yang sabar dan berjiwa besar.

Semenjak kejadian itu, aku berkomitmen untuk tak ingin mengulanginya lagi. Aku yakin, dia adalah wanita yang Tuhan kirimkan untukku, untuk menjadi pasangan hidupku. Sekarang, aku ingin fokus mempersiapkan masa depan. Mungkin, 2 tahun ini aku benar-benar ingin mempersiapkan segala sesuatunya. Tunggu aku Lisa… Tunggu aku… percayalah, aku akan menjemputmu, beserta orangtua dan seluruh keluargaku. Pretty cool huh?!

Krisna dan Lisa