Emmy: “Ujian hidup ialah rasa sayang dari Tuhan untuk mengukur seberapa kuat keinginan manusia menjadi orang yang berguna.”

Halo Wovger! Kali ini tim penulis Wovgo berkesempatan untuk mewawancarai Emmy Yuniarti Rusadi, atau yang biasa dipanggil Emmy. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya lulusan SMA dan kini berwiraswasta, lalu ibunya lulusan SMEA dan kini menjadi ibu rumah tangga. Berkat doa kedua orangtua yang tak pernah putus, dan upaya yang tiada surut, mereka mampu mengantarkan Emmy hingga lulus S2 di UGM.

Jangan pernah berpikir kalau jalan yang Emmy tempuh dalam bidang pendidikan lancar-lancar saja. Tidak. Ia bahkan pernah diremehkan dengan kalimat-kalimat semacam:

“Ah, apa iya, bisa melanjutkan SMA?”

“Ah, apa iya, bisa melanjutkan kuliah?”

“Kenapa nggak nikah aja?!”

Emmy berpikir bahwa ia masih sangat muda dan punya banyak mimpi untuk dicapai. Ia masih ingin terus belajar. Bagi wanita kelahiran Magelang, 7 Juni 1990 ini, tiada hal lain yang bisa meninggikan martabat manusia, kecuali dengan terus belajar. Apa yang orang-orang remehkan ternyata tak terbukti. Karena selepas SMP, ia bisa melanjutkan ke SMA dengan banyak bantuan beasiswa.

Emmy Yuniarti Rusadi

Lulus dari SMA, tepat pada tanggal 7 Juni 2008 — bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 18 — Emmy kemudian diterima kuliah di S1 UGM — prodi PWK (Perencanaan Wilayah dan Kota) jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan. Sungguh, ini merupakan kado terindah dari Tuhan di hari ulang tahunnya.

Pendidikan S1 ia jalani dengan biaya orangtua dan beberapa beasiswa. Namun sayangnya, beasiswa tak selalu ia peroleh setiap semester. Dan soal biaya kuliah, Emmy mengaku bahwa ia adalah orang yang selalu paling telat membayar BOP (Biaya Operasional Pendidikan) setiap semester.

Setiap hari, ia naik bus dari rumah (Magelang) ke kampus (Jogja). “Dulu ketika ada jalur 5, itu merupakan satu-satunya moda transportasi yang membawa saya ke kampus. Kalau itu tidak ada, maka alternatifnya D6. Tetapi kalau menggunakan alternatif D6, tentu saya tetap harus jalan kaki untuk bisa sampai ke kampus,” kenangnya.

Emmy Yuniarti Rusadi Urban Planner

Emmy bercerita bahwa ia pernah mengalami terlambat ujian gara-gara menunggu bus hingga satu jam lamanya. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya ia memilih untuk jalan kaki dari Jombor sampai ke kampus UGM. Saat itu, hujan turun deras sekali. Ia hanya membawa payung berukuran kecil, yang kalau digunakan hingga ke kampus, orang-orang pasti akan mengira kalau ia hujan-hujanan. Sesampai di kampus, dosennya bertanya:

“Kaki kamu kenapa?”

“Lho, memangnya kenapa Pak?” tanya Emmy kebingungan.

“Kayaknya lecet deh.”

Ia kemudian memeriksa, dan ternyata benar: kakinya lecet. Lalu ia sendiri merasa aneh, bisa-bisanya, kaki lecet kok sampai tidak sadar.

Kejadian-kejadian semacam itu mengajarkannya untuk menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Tidak mencari kambing hitam atas terjadinya masalah. “Tidak ada yang bisa merubah diri kita, selain diri kita sendiri,” katanya kepada tim penulis Wovgo. Emmy banyak belajar dari Negara-Negara maju, bagaimana mereka menggunakan waktu yang mereka miliki secara produktif.

Pernah ada suatu masa dimana ia mengalami saat-saat seperti merasa hidup sendirian. Tidak ada bantuan. Tidak ada orang yang memperhatikan. Ia tak bisa banyak berbuat. Katanya, walau bagaimanapun, kehidupan ini tetap harus lanjut. Ia berpikir bahwa, “Mungkin Tuhan ingin menguji: seberapa kuat keinginan saya menempa diri untuk menjadi orang yang bermanfaat.”

Emmy Yuniarti Rusadi Universitas Gadjah Mada

Selain kuliah, sejak dulu sampai hari ini, Emmy juga aktif berkecimpung dalam beberapa gerakan sosial, diantaranya:

  • ASEC: Actual Smile English Club. Gerakan ini dibentuk oleh Emmy secara nasional. Basisnya bahasa Inggris, atau bisa dikatakan, memaksa orang untuk belajar bahasa Inggris tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Selain bahasa Inggris, ASEC juga punya gerakan untuk menanamkan jiwa-jiwa leadership. Di sini juga diajarkan bagaimana bergaul dengan kawan-kawan dari Negara asing, tanpa harus merasa minder. Karena bagi teman-teman yang bergerak di ASEC, posisi semua orang di Negara manapun, sejajar. Tujuannya pun sama-sama untuk belajar .
  • KOPHI: Koalisi Pemuda Hijau Indonesia. Gerakan ini banyak berkecimpung di bidang lingkungan.
  • Yogyakarta Youth Meeting – bagian dari Indonesia Youth Meeting Movement. Ini merupakan gerakan khusus untuk mengawal pembangunan berkelanjutan. Sebetulnya, ini teori yang sudah lama, namun baru disepakati dunia nantinya pada bulan Juli tahun 2016 ini di Quito, Amerika Latin.
  • United Nation HabitatGlobal Research. Salah satu research global. Untuk gerakan ini, Indonesia menjadi role model di salah satu daerah Asia Pasifik. Lalu contoh yang diambil berasal dari Jawa dan luar pulau Jawa. Untuk pulau Jawa, kota yang dijadikan contoh adalah Jogja. Lalu untuk luar pulau Jawa, yakni kota Medan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di UGM, ia bersyukur karena memperoleh beasiswa S2 full di UGM. Ini merupakan angin segar bagi keluarganya. Karena ini sangat mengurangi beban orangtuanya dalam membiayai kuliah. Sehingga, dana dari orangtua bisa dialokasikan untuk membiayai pendidikan kedua adiknya.

Emmy Yuniarti Rusadi Calon Walikota Termuda

Minimnya fasilitas selama kuliah bukan berarti menjadi penghambat pendidikan yang Emmy jalani. Ia percaya bahwa mimpi, jika diulang-ulang melalui doa dan upaya, maka akan menjadi kenyataan. Ia bersyukur karena telah membuktikannya melalui beragam prestasi, diantaranya:

  • Menang sayembara nasional tentang pengembangan desa. Saat itu ia mengambil contoh di daerah Dieng. Menurutnya, Dieng merupakan salah satu daerah tertinggi di Jawa yang ternyata manajemen air dan manajemen perumahannya kurang tertata. Sayembara tersebut diselenggarakan oleh kementrian PU (Pekerjaan Umum) pada tahun 2013. Senang ketika menang? Tentu, katanya. Namun yang lebih membahagiakan baginya ialah, menjadi bagian dari solusi.
  • Salah satu delegasi termuda untuk APSA (Asian Planning School Asosiation) pada bulan November 2013.
  • Menjadi presenter termuda di APSA (Asian Planning School Asosiation). Saat itu pelaksanaannya di National Taiwan University.
  • Calon ketua BEM KMFT. Dalam sejarah, itu merupakan perempuan pertama yang mencalonkan diri untuk menjadi Ketua BEM KMFT.
  • Menjadi delegasi untuk Asia Pacific Urban Forum Youth. Lalu dilanjutkan pada Asia Pacific Urban Forum. Kemudian dilanjutkan lagi pada High Label Meeting Regional pada bulan Oktober tahun 2015.
  • Menjadi alumni termuda yang pernah bekerja di United Nations.
  • Menjadi big finalis pada Stockholm solar challenge. Emmy dan teman-teman mendesain daerah pelabuhan di Stockholm. Karena Stockholm merupakan daerah Skandinavian yang justru minim sumber sinar matahari, namun mereka memiliki ambisi untuk menciptakan photovoltaic.

Setelah lulus S2 di UGM, ia bekerja di UNMGCY (United Nations Major Group for Children and Youth). Spesifiknya, ini untuk pembangunan berkelanjutan. Yaitu bagaimana mengajak anak-anak muda untuk berpartisipasi membangun kota-kota mereka. Ada banyak cara yang bisa dilakukan.

“Tentu, hal tersebut tidak bertabrakan dengan nilai-nilai budaya yang ada dan kreativitas yang muncul dari pikiran-pikiran mereka,” kata Emmy.

Emmy Yuniarti Rusadi Jogja Independent

Secara pribadi, Emmy lebih suka untuk bergerak secara kolaborasi. Misalnya, urban planner berkolaborasi dengan orang-orang dari bidang Geografi , IT, Teknik Elektro dan bidang-bidang lainnya.

Seringnya ia menggunakan transportasi bus, membuatnya banyak berbincang-bincang dengan masyarakat, terutama warga Jogja. Dari situ ia jadi tahu banyak hal seperti, keresahan-keresahan warga Jogja, apa-apa saja harapan mereka terhadap kota Jogja, kemudian siapa saja mereka: apakah warga asli, ataukah pendatang, dan masih banyak lagi.

Selain itu, Emmy juga seorang peneliti. Blusukan dan mengobrol dengan warga hampir menjadi menu harian baginya. Banyak sekali keluhan-keluhan yang warga tumpahkan kepada Emmy. Lama-kelamaan, ia sampai pada sebuah titik dimana ia merasa mampet jika hanya menghentikan keluhan-keluhan itu dalam pikirannya, dan tidak melakukan apa-apa.

Beberapa hal, memang ada yang bisa ditangani melalui gerakan komunitas dan gerakan-gerakan mandiri lainnya. Tetapi, untuk bisa melakukan perubahan yang signifikan, sepertinya tak ada jalan lain kecuali lewat jalur pemerintahan. Ia bersyukur karena kemudian di Jogja ada Joint (Jogja Independent). Untuk saat ini, Joint mewadahi calon-calon walikota yang ingin maju secara independen. Pesertanya terbuka untuk siapapun. Termasuk Wovger yang sedang membaca artikel ini. Kalau tahun ini belum mendapat kesempatan, mungkin pada kesempatan berikutnya.

Emmy Yuniarti Rusadi UGM

Menurut Emmy, Joint bukanlah gerakan yang hanya ikut-ikutan tren belaka. Namun ini lahir dari keresahan atas situasi politik di Indonesia yang sekarang memang cukup mengkhawatirkan. Mau mencalonkan diri saja, kadang sudah diberondong pertanyaan:

“Memangnya kamu punya duit berapa?”

Menurutnya, ini fatal, karena kalau sejak awal sudah menggunakan cara berpolitik yang demikian, kelak jika sudah jadi, maka pejabat tersebut akan berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan dana yang telah mereka gelontorkan. Atau kalau dana-dana itu diperoleh dari sokongan orang-orang tertentu, jika pejabat itu jadi, sudah pasti mereka-mereka yang menyokong tersebut akan bertanya:

“Saya dapat apa? Saya dapat bagian berapa?”

Dan semacamnya.

Emmy bercerita kalau di Joint, sama sekali tak ada sikut-sikutan antar calon. Karena semua telah sepakat: siapapun yang maju, maka akan didukung sepenuhnya. Tujuan utamanya bukan soal siapa yang jadi. Melainkan, untuk mengedukasi masyarakat tentang cara berpolitik baru yang lebih bermartabat.

Emmy Yuniarti Rusadi JOINT

Ia kemudian teringat ucapan seorang professor:

“Kamu masih muda. Kalau kamu bergerak sekarang, itu jauh akan lebih menjadi sejarah, ketimbang kamu menunggu tua seperti saya.”

Dari lubuk hati yang paling dalam, ia merasa mendapat panggilan hati untuk ikut berkontribusi. Emmy memantapkan diri untuk maju sebagai bakal calon walikota Jogja melalui jalur independen. Ia ingin mewujudkan Jogja untuk menjadi kota yang lebih baik, kembali nyaman, Jogja yang lebih terlihat lagi basis budaya dan kreativitasnya.

Ia ingin sekali menjadikan Jogja sebagai salah satu inspirator kota untuk pengembangan kota berkelanjutan. Misalnya, menciptakan transportasi yang lebih teratur, RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang jauh lebih massif, anak-anak dilibatkan di kampung mereka untuk membuat keputusan dan masih banyak lagi. Itu semua demi mewujudkan Jogja yang layak huni.

“Kalau sekarang banyak warga yang merasakan bahwa Jogja semakin panas, itu berarti Jogja kurang layak huni,” katanya tegas. Bagi Emmy, layak huni itu ketika manusia bisa lebih nyaman dalam merasakan hidup.

Emmy Yuniarti Rusadi dan Ahmad Mufid

Dari 15 kandidat yang mendaftar melalui Jogja Independent, hanya 13 orang yang menjalani prakonvensi. Lalu 13 orang tersebut melewati sesi presentasi visi dan misi serta sesi tanya jawab di depan 9 pakar yang menjadi tim panel. Setelah melalui masa prakonvensi, dari 13 nama itu kemudian mengerucut menjadi 5 nama yang terpilih, yakni: Emmy Yuniarti Rusadi, Adrie Primera Nuary, Fitri Paulina Andria, Garin Nugroho, dan Rommy Heryanto.

Tim panel tak hanya mempertimbangkan secara kuantitatif, namun juga beberapa aspek kualitatif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di ruangan saat konvensi, ada 105 formulir yang dikembalikan, dan satu formulir tidak sah karena semua dicoblos.

Formulir yang dikembalikan lalu dibagi dua. Pertama, yang levelnya diutamakan seperti ketua RW dan ormas. Kedua, adalah warga diluar undangan. Dari kelompok pertama, sebanyak 50 persen memilih Garin Nugroho, sedangkan kelompok kedua, 39 persen juga memilih Garin Nugroho. Menurut mekanisme yang disepakati JOINT, Garin Nugroho diminta memilih satu orang untuk menjadi pasangannya. Garin pun kemudian memilih Rommy Heryanto.

Melalui status di facebooknya, Emmy mengucapkan selamat kepada Garin Nugroho dan Rommy Heryanto selaku bakal calon Walikota dan bakal calon Wakil Walikota melalui JOINT. Ia juga berharap agar Kota Jogja dapat terus menjadi perhatian dunia atas karya-karya yang dilahirkannya. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengawal serta mendukung perjuangan JOINT, sehingga bisa menjadi praktik bersama dalam memaknai kerjasama dan pentingnya memperjuangkan kebaikan.

Bagi Wovger yang ingin berkontribusi, Emmy juga mengucapkan selamat datang pada era baru perpolitikan, yakni politik yang dilakukan dengan gembira karena letupan harapan. Politik yang mempersilakan orang-orang terbaiknya menjadi tumpuan kebaikan. Politik yang memberikan keterbukaan rembug dan partisipasi lintas bidang. Jadilah bagian dari sejarah. Pengisi sejarah. Berkontribusilah ciptakan sejarah. Kami mengajak segenap kekuatan di manapun berada untuk itu. Tidak, bukan kami peminta-minta. Namun biarkan kami membuka jalannya. Atas nama kita. Warga.

joint