Azza: “Hasil-hasil baik akan selalu bersama mereka yang maju dengan ketulusan doa serta kesungguhan upaya.”

Bertahan hidup sendirian di negara orang dengan penuh perjuangan, kebahagiaan dan cucuran keringat adalah upayaku untuk meraih cita-cita. Perkenalkan, namaku Azza Hanif Harisna, biasa dipanggil Azza. Aku lahir di Malang pada 17 November 1992 silam.

Rasa ingin tahu yang tinggi membuatku penasaran dan ingin tahu banyak hal. Maka dari itu, aku ingin menjadi seorang peneliti. Aku tak menyangka kalau ternyata berbekal cita-cita tersebut, bisa membawaku untuk mewujudkan mimpi dengan kuliah S2 di Jepang. Ya, aku sedang menjalani studi di Jepang, sama seperti Mbak Shofiyati Nur Karimah.

Semuanya bermula ketika aku masih kecil dan Ayah sering mengajakku main ke tempat kerjanya. Pekerjaan beliau saat itu berada di balai penelitian bidang pertanian, tapi beliau bukan seorang peneliti. Kebetulan, di sana ada mikroskop. Dulu, aku pernah secara iseng menggunakannya untuk melihat semut. Kemudian, aku coba lagi dengan melihat objek-objek lainnya. Menyenangkan sekali rupanya. Ternyata, kesenangan masa kecil itu terbawa hingga aku memimpikan ingin menjadi seorang peneliti, suatu hari nanti.

Azza Hanif Harisna dan teman-teman

Aku melewati masa-masa SD hingga SMA dengan rutin mengikuti lomba-lomba yang kebanyakan berhubungan dengan bahasa Inggris. Mungkin seharusnya aku mengambil jurusan bahasa Inggris ketika kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Tapi tidak, aku malah mengambil jurusan Biologi. Saat itu, yang aku tahu, kalau ingin menjadi peneliti ya harus mengambil jurusan Biologi. Namun setelah kuliah, aku baru sadar bahwa ternyata menjadi peneliti itu tak melulu dari jurusan Biologi, jurusan lain pun bisa. Seperti Mbak Emmy Yuniarti Rusadi yang juga peneliti, tetapi dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota.

Ketika kuliah, aku bergabung dengan sebuah tim di Universitas Brawijaya. Tim ini sering mengikuti lomba-lomba. Aku dan teman-teman pernah memperoleh medali perunggu untuk presentasi, dan medali perak untuk poster kategori PKMP di PIMNAS 2014. Tim kami juga pernah ikut International Genetically Engineered Machine (IGEM) 2014 dan kembali meraih medali perunggu.

Azza Hanif Harisna di Jepang

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, keinginanku untuk menjadi peneliti terus berapi-api. Aku tak ingin berhenti disini, aku harus melanjutkan pendidikanku, kataku waktu itu ke diri sendiri. Kemudian, aku menghubungi beberapa profesor yang berada di Korea dan Thailand. Aku mengenal beliau dari sebuah acara konferensi. Kepada mereka, aku menyampaikan niatku untuk melanjutkan studi S2. Ada yang memberi respons bagus padaku, tapi kebanyakan belum tertarik dengan personality-ku. Untuk mewujudkan cita-citaku ini, aku bahkan pernah apply beberapa program internship namun ditolak. Aku sedih bukan main, tapi mau bagaimana lagi, memang demikian jalannya.

Ketimbang melanjutkan diri untuk larut dalam kesedihan, aku memilih untuk sering-sering mengevaluasi diri. Jangan-jangan, alasan kenapa aku ditolak adalah karena memang ada syarat-syarat atau kualitas yang belum aku penuhi. Lalu aku memutuskan untuk ikut komunitas traveling Gamananta dan menjadi pembicara konservasi lingkungan serta melakukan kegiatan sosial pendidikan di MI AL-Ihsan, memotivasi adik-adik supaya sayang dengan lingkungan. Aku harus menambah banyak prestasi dan menawarkan kemampuan yang berbeda dari calon-calon mahasiswa lainnya jika kelak ingin diterima kuliah ke luar negeri.

Azza Hanif Harisna happy

Kemudian, tiba-tiba aku teringat bahwa dulu saat masih semester 7 akhir, dosen Biologiku memberi informasi tentang beasiswa Manbukagakusho, yaitu beasiswa dari pemerintah Jepang. Tapi waktu itu aku belum lulus kuliah S1, jadi informasi tersebut boleh dibilang seperti aku abaikan.

Tak butuh waktu lama, aku langsung mencari-cari info tentang beasiswa tersebut, baik melalui internet maupun berkonsultasi dengan dosen-dosenku di jurusan Biologi. Setelah informasi lengkap aku peroleh, alhamdulillah restu dari kedua orangtua juga menyertai. Aku pun memberanikan diri untuk mendaftar.

Jangan berpikir bahwa sekali mendaftar langsung diterima, karena aku harus berkali-kali mengalami revisi dokumen, kemudian magang ke Malaysia selama satu bulan. Waktu terasa seperti pendek sekali, sedangkan ada banyak hal yang harus aku segerakan penyelesaiannya.

Azza Hanif Harisna di lapangan

Setelah lama berlelah-lelah, kabar bahagia pun tiba: aku diterima di Ritsumeikan University, jurusan Biomedical Science, Graduate School of Life Sciences. Alhamdulillah, aku sujud syukur dan bahagia tiada tara. Ternyata benar, bahwa hasil-hasil baik akan selalu bersama mereka-mereka yang maju dengan kesungguhan upaya.

Di Jepang, aku bahagia karena bisa bebas eksplor apa saja yang ingin aku teliti, tanpa ada batasan alat dan dana, selama ada ijin dari sensei dan asalannya rasional. Cuma ada satu hal yang membuatku sedih: di sini nggak ada tukang nasi goreng malam-malam seperti di Malang. Hahaha.

Saat tim penulis Wovgo mewawacarai ini, aku sedang memasuki semester dua. Masa dimana aku harus lebih giat dalam belajar, baik itu ilmu-ilmu yang diajarkan dalam perkuliahan, bahasa, maupun hal-hal lainnya. Aku semakin bersemangat dalam menjalani kuliah, karena selain bidang yang aku pelajari adalah minatku, juga lantaran dukungan penuh dari keluarga. Jangan pulang sebelum lulus S3, begitu kata orangtua. Hahaha.

Azza Hanif Harisna in Japanese

Orangtua adalah inspirasiku. Ibu mungkin tak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan ayah pun lulus sarjana baru tahun 2011 lalu. Namun mereka adalah penyemangatku. Aku bersyukur, memiliki orangtua seperti mereka, tidak pernah menyuruh atau memaksa belajar ini dan itu. Mereka hanya berpesan bahwa ilmu itu bisa menjadi pegangan, maka dari itu, harus membekali diri dengan belajar, lalu menebarkan ilmu yang diperoleh, walaupun itu masih dalam lingkup kecil. Intinya seperti yang pernah Mbak Resti Pratiwi itu bilang kan: menjadi orang yang bermanfaat?

Aku meyakini satu hal bahwa, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, seperti yang Allah katakan pada surat Al-Insyirah dalam Al-Quran. Aku sudah membuktikannya melalui prosesku saat berjuang ingin memperoleh beasiswa S2 di Jepang. Bahkan, sampai hari ini pun aku masih bertemu dengan kesulitan demi kesulitan baru. Tapi aku selalu berdoa dan berusaha, serta percaya bahwa janji akan datangnya kemudahan setelah kesulitan itu benar adanya.

Azza Hanif Harisna dan kawan-kawan