Meme: “Bisnis itu, dijalankan. Jangan cuma dipikirkan. Karena, kalau cuma dipikirkan, nanti malah nggak jalan-jalan.”

Hai, kenalin namaku Putri Megasari Irawan, tapi biasa dipanggil Meme. Aku lahir di Surabaya pada tanggal 15 April 1992. Aku adalah keturunan Cina (dari Papa) dan Jawa (dari Mama). Tapi kalau Wovger lihat fotoku dengan saksama, kayaknya mukaku nggak ada Cina-nya sama sekali ya. Sepertinya darah Jawa dari Mamaku malah yang lebih dominan.

Sekarang, aku kuliah jurusan manajemen di UNESA. Untuk mengisi waktu luang kalau lagi nggak ada kuliah, aku iseng-iseng belajar berjualan via online. Tapi jangan buru-buru bilang kalau orang Cina pasti pebisnis. Karena asal Wovger tahu, aku adalah keturunan Cina yang anti dengan jualan. Bukan karena gengsi, tapi karena takut kalau sampai nggak laku. Ah, tapi itu dulu, karena sekarang pada akhirnya aku suka berbisnis juga. Hahaha.

Putri Megasari alias Meme and friends

Dulu aku sama sekali belum tahu gimana caranya bisnis online, gimana cara melayani pelanggan dengan baik, sosial media apa yang paling tepat digunakan untuk berjualan, sampai jenis transaksi seperti apa yang aman dan masih banyak lagi. Itu semua adalah keraguan demi keraguan yang aku temui saat pertama kali memutuskan untuk belajar berjualan.

Keluarga Papaku yang sudah pasti dominan Cina itu kebanyakan punya usaha sendiri dan berjalan semua, mulai dari usaha onderdil, toko kue sampai peternakan ayam. Kalau melihat usaha-usaha mereka, rasanya seperti mudah sekali untuk menjalankannya. Sedangkan aku sendiri merasa tak ada bakat. Beneran! Aku berpikir begitu berulang-ulang kali.

Apa mungkin gara-gara aku ini anak tunggal yang sangat dimanja, terutama sama Mama? Karena sikap dimanja seperti itu membuatku tak memiliki kepekaan tentang bagaimana rasanya mencari uang sendiri dan kerja keras membangun usaha dari nol.

Putri Megasari alias Meme

Pertanyaan “Apa aku tak punya bakat berbisnis?” yang sering aku utarakan pada diri sendiri, justru memantik rasa penasaranku untuk lebih membuka diri terhadap hal-hal yang berhubungan dengan wirausaha. Itu baru permulaan. Kemauanku semakin menjadi-jadi tatkala orangtua yang sering memanjakanku itu malah meragukanku. Lalu kemauan ini semakin membesar saat melihat banyak teman-temanku yang ternyata berjualan online, mulai dari baju, kosmetik, makanan, hingga barang-barang elektronik. “Harus segera take action!” kataku waktu itu ke diri sendiri. Tak lama setelahnya, aku iseng-iseng jualan baju dan tas. Tapi, aku baru berani melakukannya secara online, itu pun dibantu oleh satu orang temanku. Karena seberani-beraninya aku ingin membuka bisnis, tetap saja perasaan takut rugi itu masih menghantui. Kalau ada partner bisnis kan, kalau semisal rugi, nilai kerugiannya nggak gede-gede amat. Begitu pula kalau untung, karena sudah pasti dibagi dua. Hehehe.

Aku pernah menghadapi suatu masa dimana sama sekali tak ada orang yang ingin membeli daganganku, lalu rugi dan berakhir dengan kehilangan pelanggan. Waktu itu aku panik bukan main, seperti ingin memarahi diri sendiri dengan ucapan:

“Kan, dibilang juga apa? Nggak ada darah pebisnis kan? Udahlah, Meme. Mundur aja, mundur!”

Putri Megasari bersama Doraemon

Tapi aku bersyukur, karena kemudian seorang teman menasihatiku:

“Namanya usaha itu pasti ada jatuh bangunnya. Nggak mungkin 100% laku semua. Jadi emang harus telaten. Tapi kalau kamu jualan baju dan nggak laku, bisa jadi bakat bisnis kamu di bidang yang lain.”

Aku seperti memperoleh secercah harapan. Tanpa menunggu lama, aku kemudian berjualan power bank dan aksesoris handphone. Kenapa aku memilih berbisnis itu? Karena saat itu memang power bank dan aksesoris semacam headset atau casing sedang banyak peminatnya.

Ternyata benar, barang-barang daganganku mulai banyak terjual. Tapi tetap aku akui, saat berjualan power bank dan aksesoris handphone, aku juga pernah memiliki masa-masa sepi seperti tanpa pelanggan. Kalau sudah begini, yang bisa aku lakukan ialah mengingat-ingat nasihat temanku dulu. Aku juga kemudian mengamini bahwa apa yang orang-orang katakan itu rupanya benar: roda kehidupan itu berputar. Jadi kalau power bank dan aksesoris handphone-ku pernah laris, pasti juga akan ada masa dimana kelak akan sepi.

Kalau sudah begitu, hal-hal yang aku lakukan selain promo di sosial media, juga membuka stan di daerah taman Bungkul, Surabaya setiap ada acara Car Free Day. Selain itu, aku juga menggunakan sistem Cash On Delivery (COD) area Surabaya. Istilahnya, jemput bola. Hal seperti ini tentu juga berguna untuk membangun kepercayaan pelanggan.

Putri Megasari

Bisnis pun semakin berkembang, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka toko. Aku kemudian membuka sebuah toko di Wonocolo, Surabaya. Tepatnya, di rumah nenekku. Meski masih terbilang toko kecil, tapi aku merasa puas karena usaha ini sudah bisa berjalan dengan stabil. Sehingga bisa memberi pilihan kepada pembeli, antara online atau offline.

Disela-sela waktu luang, terkadang aku melamun dan berpikir, seandainya waktu itu aku menuruti rasa takutku, sudah pasti sampai sekarang aku masih terkungkung dalam lembah ketakutan. Masih menjadi anak Mama yang manja dan tak tahu betapa bahagianya bisa menghasilkan uang dari keringat sendiri, serta menjadi dewasa karena keadaan. Bagiku, hidup adalah proses belajar terus-menerus. Merasa takut akan ketidakpastian justru membuat kita terjerembab dalam lubang keragu-raguan. Jadi solusi untuk mengatasi hal tersebut ialah bergerak dan bertindak.

Menurutku, bisnis itu, dijalankan. Jangan cuma dipikirkan. Karena, kalau cuma dipikirkan, nanti malah nggak jalan-jalan.

Aku berharap, semoga kelak bisnisku semakin berkembang dan membesar. Aku juga ingin cepat lulus kuliah demi membahagiakan kedua orangtua, namun aku juga ingin agar setelah lulus, orangtua mengijinkanku untuk fokus mengelola bisnisku. Saling mendoakan ya, Wovger. Semoga impian kita semua tercapai. Aamiin.

Putri Megasari alias Meme dan kawan-kawan