Mila: “Menjadi customer service mengajarkanku untuk lebih percaya diri, mampu menjadi pendengar yang baik dan memahami karakter manusia.”

Tak semua orang minder itu pemalu. Karena usaha terus-menerus yang tak kenal lelah akan membawanya menjadi orang yang lebih percaya diri.

Perkenalkan, Wovger, namaku Ika Mila Pratiwi, biasa dipanggil Mila. Aku lahir pada tanggal 10 Februari 1992 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini aku bertempat tinggal di Tuban, Jawa Timur. Aku menyukai hobi yang berkaitan dengan kreativitas, entah itu menggambar atau membuat kerajinan tangan. Selain itu, akhir-akhir ini aku punya hobi baru: belajar berkebun hydroponic. Namanya hobi, kalau ada uangnya ya syukur, kalau enggak ya nggak apa-apa. Lha wong hobi.

Membahas soal pembukaanku dalam artikel ini, aslinya aku adalah orang yang disiplin, cuek, penampilan asal-asalan, minder, pemalu (sama seperti Mbak Siti Maulidahniar Qoriah) dan bahkan tomboy. Namun Tuhan menempatkanku dalam keadaan yang saat itu, menurutku, bukan aku banget! Aku bekerja sebagai CS (Customer Service).

Ika Mila Pratiwi tersenyum

Cerita bermula ketika aku sedang bingung-bingungnya mencari pekerjaan, kemudian aku membaca ada sebuah lowongan sebagai CS di salah satu perusahaan. Awalnya, aku minder, gara-gara berkaca dari diriku yang memang minder, pemalu, cuek pada penampilan dan tomboy ini. Ah, apa ya bisa? Tanyaku saat itu, kepada diri sendiri.

“Kita tak pernah tahu hasil akan sesuatu sebelum benar-benar mencobanya,” begitu kata pepatah, yang aku lupa entah siapa.

Kondisi sudah menghimpit. Kesempatan adanya lowongan juga tak tahu kapan akan datang lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar. Tak peduli seperti apapun hasilnya, seperti kata Mas Ahmad Yusuf, bahwa tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha. Selanjutnya, biar Tuhan yang menentukan nasib terbaik untuk kita. Bukankah begitu, Wovger?

Ika Mila Pratiwi dan teman

Kabar baik pun tiba: aku diterima! Sungguh perasaan bahagia tiada tara menyelimutiku. Namun ini tak berlangsung lama, karena aku harus berhadapan dengan kenyataan pekerjaan. Menjalani 3 bulan pertama menjadi CS, aku merasakan banyak hal. Mulai dari tertekan dengan sistem kerja, minder melayani customer, dan harus membunuh sikap pemalu dalam diri dengan frekuensi menghadapi customer secara bertubi-tubi. Berangkat dan pulang kerja selalu aku iringi dengan derai air mata. Semua tekanan itu betul-betul membuatku stres. Aku tak kuat, Yaa Tuhan. Hamba tak sanggup.

Lalu aku menyadari fakta bahwa: setiap perkerjaan selalu memiliki kesulitannya sendiri. Tak ada karyawan yang masuk kantor langsung menjadi pintar. Pasti semua memulainya dari nol. Kalau dalam pekerjaanku sebagai CS, proses dari nol itu seperti belajar product knowledge, memahami karakter setiap orang, lalu belajar tentang sistem kerja.

Bekerja menjadi CS itu, mata, bibir dan tangan semua harus bergerak secara sinkron, meski saat itu melakukan hal yang berbeda secara bersamaan. Seperti: bibir harus berbicara lancar kepada pelanggan, tangan harus lihai mengetik dan mata harus menatap pelanggan serta sesekali kembali fokus menatap layar komputer. Bisa Wovger bayangkan bagaimana reweuhnya, kan?

Ika Mila Pratiwi senyum

Tapi lama-lama aku terbiasa dengan ini semua dan bisa beradaptasi. Aku jadi bisa paham bagaimana karakter masing-masing orang, apa kebutuhannya atau masalah mereka, hingga bagaimana cara mengatasinya. Aku semakin bisa menikmati pekerjaan. Imbasnya, customer senang denganku. Bahkan, kami juga kadang-kadang bertegur sapa saat bertemu di suatu tempat. Sekarang aku bisa bilang bahwa bertemu orang baru setiap hari itu rupanya menyenangkan. Kalau Wovger ingin merasakan sensasinya, jadi CS dulu coba. Hahaha.

Menjadi customer service mengajarkanku untuk lebih percaya diri, mampu menjadi pendengar yang baik dan memahami karakter manusia.

Ika Mila Pratiwi yang dulu dengan yang sekarang, beda. Beda banget. Mila yang dulu cuek, sekarang kalem. Mila yang dulu tomboy dan tak peduli pada penampilan, sekarang tahu bagaimana caranya menjaga penampilan. Untuk hal ini, aku sedikit-sedikit belajar dari Mbak Monika Anindita juga. Hehehe. Mila yang dulu minder dan pemalu, sekarang menjadi lebih percaya diri. Dan, aku menyukai semua perubahan-perubahan ini.

Ika Mila Pratiwi CS