Rizal: “LDR memang berat. Tapi bisa diatasi dengan saling percaya, saling menghargai, saling mengerti dan saling menjaga komunikasi.”

Panggil saja aku Rizal. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku lahir di Mojokerto, 8 Mei 1988. Sekarang aku tinggal di Malang dan sedang menjalankan bisnis di bidang Event Organizer. Bisnisku, kebanyakan berhubungan dengan wedding. Hampir tiap hari melihat orang menikah. Sementara aku sendiri belum kunjung menikah. Bukannya tak ingin menikah. Aku malah justru sangat ingin menikah. Hanya saja, untuk menuju ke sana, memang ada beberapa hal yang harus dipersiapkan secara matang.

Sekarang aku tengah menjalani LDR (Long Distance Relationship), sama seperti kisah Krisna Ardy Prayudana dan Lisa Sulistyaningsih. Tentu kami-kami (atau mungkin Wovger juga) yang menjalani LDR ini sudah pasti paham, apa saja masalah-masalah yang sering ditemui oleh para pelaku LDR.

Kalau Wovger sudah membaca cerita Krisna Ardy Prayudana dan Lisa Sulistyaningsih, tak ada salahnya membaca kisahku bersama sang kekasih. Barangkali menemukan sesuatu yang berbeda dalam kisahku.

Rizal Malang

Namanya Nanda. Tapi bukan Nanda Yuli Rahmawati, inspirator Wovgo yang pernah sampai ke Korea itu. Bukan. Ini Nanda yang lain. Kami menjalani LDR sekitar satu tahun terakhir. Awalnya cukup berat, memang. Karena Nanda adalah tipe wanita yang tak terlalu nyaman dengan LDR. Sementara, faktanya Nanda harus pulang ke Jakarta, sedangkan aku harus mengelola bisnis yang sudah aku rintis di Malang.

LDR membuatku merasa kesepian. Hobi-hobi yang aku sukai, terasa begitu hambar jika hanya aku lakoni sendirian, tanpa kehadiran Nanda. Tapi masing-masing dari kami harus bisa beradaptasi dan berdamai dengan keadaan.

Kami hanya bisa bertemu pada saat lebaran, atau hari-hari tertentu yang memang mengharuskan bertemu. Menurutku, salah satu hal yang paling berat saat LDR ialah membunuh rasa kangen yang mendera. Lebih berat lagi, jika sedang terjadi suatu masalah di antara kami. Tak cukup jika hanya menyelesaikannya via text atau telpon, karena ini sangat rawan miskomunikasi. Harus ekstra sabar dan lebih detail dalam menjelaskan suatu permasalahan. Harus seimbang antara ego dan logika.

Hubungan ini bukan pacaran ala-ala ABG yang gampang bilang putus kalau ada masalah. Karena sejak awal, kami sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan ini secara serius. Ditambah lagi, keluarga kami juga sudah menyambut positif hubungan ini dan merencanakan untuk bertunangan. Jadi, aku harus menjaga hubungan ini sampai kapanpun, entah bagaimana caranya.

Rizal Mojokerto

Semakin lama LDR ini berlangsung, kami jadi semakin bisa memahami satu sama lain, menghargai pendapat satu sama lain. Aku bersyukur, karena dulu sebelum menyatakan cinta kepada Nanda, kami sudah terlebih dahulu menjalin persahabatan selama 7 tahun. Sehingga, kami sangat memahami karakter masing-masing, serta tahu bagaimana penanganan yang seharusnya dilakukan saat terjadi masalah.

LDR memang berat. Tapi bisa diatasi dengan saling percaya, saling menghargai, saling mengerti dan saling menjaga komunikasi.

Setidaknya, tetaplah menjaga kontak. Baik itu cuma sekadar chat atau telpon. Selalulah berusaha meluangkan sedikit waktu untuk memberi kabar. Biasakan untuk selalu hadir dalam hubungan. Misalnya, aku hampir tiap pagi membangunkan Nanda via telpon. Bahkan, hal ini telah menjadi kebiasaan. Sekali saja tak melakukannya, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ini bukanlah posesif, melainkan, salah satu bentuk perhatian.

Aku berharap, Tuhan segera menyatukan kami dalam janji suci bernama pernikahan. Aku juga ingin agar kelak bisa hidup bersama Nanda, sembari terus mengembangkan usaha yang sedang aku rintis. Lalu, aku juga ingin membuka usaha baru, jika usaha yang sedang aku jalani saat ini sudah bisa mandiri. Semoga segalanya disegerakan dan dilancarkan. Aamiin.

Rizal