Riana: “Sah-sah saja memenuhi cinta dalam diri, tapi jangan lupa juga untuk memenuhi gizi. Karena itu faktor berkualitasnya generasi.”

Hai Wovger, namaku Riana Pangestu Utami, dan biasa disapa dengan nama Riana. Aku lahir di Kebumen, 19 Februari 1993. Hobiku adalah membaca buku dan jalan-jalan. Saat ini aku sedang fokus menyelesaikan pendidikan S2 di IPB (Institut Pertanian Bogor) jurusan Gizi Masyarakat, dan mengisi waktu luang dengan menjadi guru les, sama seperti Bias Nur Elmira.

Aku mengambil jurusan Gizi Masyarakat, selain karena dulu S1-ku mengambil jurusan yang sama, juga lantaran mengikuti saran atau hasil diskusi bersama orangtua. Karena kalau dipikir-pikir, sebetulnya disiplin ilmu yang aku tekuni saat ini, berbeda dengan prestasi-prestasi yang pernah aku raih, diantaranya:

  • Juara 2 Olimpiade Fisika Kabupaten tingkat SMP.
  • Juara 1 Mading hari Bumi.
  • Juara 1 Olimpiade Astronomi Provinsi tahun 2009.
  • First Prize APAO tahun 2009 di Damyang, Korea Selatan.
Riana pangestu utami bersama sahabat

Aku bersyukur karena selama menjalani kuliah S2, tak begitu kurasakan perjuangan yang seberat Mbak Putri Panggalih atau teman-teman yang sedang menempuh S2 lainnya. Bukan berarti aku sombong loh ya. Hanya saja, aku ingin berusaha menjalani semuanya dengan penuh rasa suka, tanpa menjadikan itu sebagai beban hidup, apapun yang aku pilih.

Aku juga bersyukur memiliki orangtua yang sejak aku masih kecil, mereka selalu mendukung apapun yang menjadi pilihanku. Tentu, setiap ingin memilih apa saja, aku selalu konsultasi dengan orangtua dulu sebelumnya. Lalu setelah terjadi diskusi, mereka mempercayakan padaku untuk menentukan pilihan. Pola orangtua dalam mendidik ini sangat melatihku agar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan bersedia menerima segala konsekuensi dari apa yang telah aku ambil.

Riana pangestu utami tertawa

Mempelajari Gizi Masyarakat membuatku paham bahwa semua orang punya hak yang sama untuk memperoleh gizi yang baik dan cukup, karena pemenuhan gizi itu penting. Terutama, berkaitan dengan siklus ibu yang akan melahirkan bayi. Tentu status gizi ibunya sangat penting, karena itu akan berdampak langsung pada pemenuhan gizi bayi yang ada dalam kandungan.

Aku juga belajar bagaimana mengatur diet sesuai kebutuhan, hingga dampak investasi di bidang gizi bagi pembangunan bangsa. Karena generasi yang sehat akan menghasilkan orang-orang yang berkualitas. Di sinilah salah satu pentingnya pemenuhan gizi yang baik.

Maka dari itu, untuk Wovger yang masih muda-muda: sah-sah saja memenuhi cinta dalam diri, tapi jangan lupa juga untuk memenuhi gizi. Karena itu faktor berkualitasnya generasi.

Aku punya mimpi ingin menggencarkan pesan-pesan gizi di Indonesia. Aku juga ingin membantu orang-orang agar memperoleh gizi yang cukup. Aku tak peduli nanti bakal jadi apa. Mau jadi dosen, peneliti, ahli gizi, atau apapun, semangatku mewujudkan mimpi-mimpi itu akan terus aku tebarkan. Karena tujuanku ialah memberi kebermanfaatan dalam jangka panjang. Seperti kata Mbak Resti Pratiwi: “Tetaplah menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah manusia paling baik itu yang bermanfaat untuk yang lain?”

Riana pangestu utami dan teman-teman