Tommy: “Bahagia belum tentu sehat, begitu pula sebaliknya. Namun dengan traveling menggunakan sepeda, keduanya bisa diperoleh.”

Hai, Wovger. Namaku Tommy Putra Prakasa. Orang-orang sekelilingku suka memanggilku Tommy. Aku lahir di Malang, 11 November 1992. Kesibukanku saat ini ialah bekerja di salah satu bank pemerintah, dan punya usaha warnet. Meski kini keseharianku lebih banyak untuk bekerja dan usaha, tapi aku juga tetap menyisihkan waktu luang untuk menjalankan hobi. Salah satu hobi yang paling aku geluti adalah bersepeda. Untuk tetap bersemangat dalam menjalankan hobi, aku bergabung dengan sebuah komunitas di Malang, yakni komunitas Sepeda Pancal Ing Ngalam (SPIN). Menurutku, bersepeda merupakan kegiatan yang asik dan menyehatkan.

Bergabung dalam komunitas membuatku punya banyak teman dengan hobi yang sama, dan juga bertemu orang-orang yang pengalaman bersepedanya lebih banyak. Gara-gara sepeda pula, aku bisa memperoleh gelar sarjana. Kok bisa? Ya, karena skripsi yang aku kerjakan bertemakan sepeda, yakni membahas tentang gerakan sosial Jogjakarta Last Friday Ride. Saat melakukan penelitian pun aku juga disambut dengan hangat oleh teman-teman bikers Jogjakarta.

Bersepeda community

Jenis sepeda yang aku miliki adalah fixed gear atau yang sering disebut fixie. Sepeda yang sempat booming di kalangan anak-anak muda beberapa tahun yang lalu. Sepeda yang saat itu aku beli dengan harga kurang dari 4 juta. Biasanya, aku merawat sepedaku 2 kali seminggu. Mulai dari dibersihkan secara rutin, sampai cek berkala seperti melumasi rantai. Untuk perawatan, hampir tiap bulan aku jarang mengeluarkan biaya, dengan catatan, selama tidak terjadi kerusakan.

Biasanya aku bersepeda keliling kota Malang, sambil kulineran. Paling jauh, aku pernah ‘mancal’ dari Malang ke Surabaya, pernah juga dari Surabaya ke Madura lalu balik lagi ke Surabaya lagi. Kalau ada rencana traveling ke luar kota seperti ke Jogja, Solo dan Bali, aku juga membawa sepeda. Tentu, sepedanya aku taruh di bagasi bus atau aku naikkan ke kereta. Baru kemudian aku gunakan untuk berkeliling kota saat tiba di tempat tujuan. Bukan bersepeda dari Malang ke Jogja, Solo dan Bali. Kalau sampai bersepeda dari Malang ke Jogja, Solo dan Bali, bisa-bisa kakiku putus. Seperti hubungan asmaramu, Wovger. Hahaha.

Tommy Putra Prakasa

Senikmat-nikmatnya hobi, tetap saja ada risikonya. Panas dan capek adalah risiko pasti, namanya juga berkegiatan fisik. Risiko lain yang kerap ditemui para pesepeda biasanya terjadi saat sepedanya rusak selama melakukan perjalanan. Apesnya lagi, kalau rusaknya terjadi saat bersepeda di kota lain. Wah, sudah pasti bingung mencari spare part. Lantaran belum begitu hafal dengan kota orang. Tapi itu semua bisa diatasi kalau bersepedanya bareng-bareng dengan teman dari komunitas sepeda setempat.

Hobi bersepeda ini melatihku menjadi pribadi yang lebih peka dengan keadaan sosial. Melalui bersepeda pula, aku bisa merasakan panasnya suhu udara yang merupakan salah satu dampak dari pemanasan global. Dengan bersepeda, kita turut menjaga lingkungan, yakni dengan tidak menambah polusi di jalanan. Hobi bersepeda juga mengajarkan kemandirian. Karena untuk anggota komunitas sepertiku, sudah seharusnya bisa memperbaiki sepeda sendiri saat mengalami kerusakan. Bersepeda bersama teman-teman komunitas, selain sehat, juga membahagiakan.

Karena menurutku, bahagia belum tentu sehat, begitu pula sebaliknya. Namun dengan traveling menggunakan sepeda, keduanya bisa diperoleh.

Bersepeda juga mengajarkanku arti kesabaran. Karena kalau biasanya jarak 7 kilometer bisa ditempuh selama 5 menit menggunakan sepeda motor, dengan bersepeda, aku membutuhkan waktu lebih banyak untuk sampai di tujuan. Namun, bersepeda membuatku jauh lebih sehat dibanding naik kendaraan. Ah, bersepeda.

Komunitas bersepeda