Hanif: “Manusia-manusia jujur, keras, lantang, menyesuaikan, tapi tetap tidak meninggalkan beragam kelakuan uniknya. Itulah anak Sosiologi.”

Hai Wovger, kenalin, namaku Hanif Sholikha. Aku lahir di Malang 8 November, 21 tahun silam, tapi sementara ini lagi tinggal di Kalimantan. Seneng banget berkesempatan jadi inspirator Wovgo. Kali ini aku dan tim penulis Wovgo mau ngobrolin tentang gimana rasanya jadi mahasiswa Sosiologi. Di antara Wovger ada yang mahasiswa Sosiologi? Atau bukan mahasiswa Sosiologi? Semuanya boleh merapat pokoknya. Ini dia rangkuman obrolannya.

Gimana ceritanya awal mula bisa masuk jurusan Sosiologi?

Hanif Sholikha Sosiologi di Balai Desa Jetak

Aku bisa masuk jurusan Sosiologi ini berkat Gusti Allah yang mampu meluluskan hambanya untuk seleksi di Jalur Undangan. Sempat terombang-ambing karena kakak laki-lakiku mengiming-imingi untuk masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntasi Negara) — ya, kampusnya Mas Christian Karunianto –, tapi karena kesempatan jalur undangan lebih menggairahkan, aku pikir cari celah yang aman saja.

Untuk menghadapi proses jalur masuk undangan ternyata bikin bimbang juga, karena aku harus memilih mana jurusan yang tepat. Beberapa trik untuk lolos jalur seleksi undangan salah satunya adalah dengan melihat passing grade dan mempertimbangkan daya tampung serta peminat pada jurusan yang akan dipilih.

Waktu itu, kesempatan yang diberikan kepada peserta jalur undangan adalah dengan memilih dua universitas negeri dan masing-masing universitas memilih dua jurusan/prodi yang berbeda. Karena aku ini orang yang penuh perencanaan — ehm, sombong dikit biarin — setelah memikirkan matang-matang, akhirnya berani memutuskan 4 jurusan yang akan aku ambil untuk kemudian di seleksi. Keduanya aku pilih di Kota Malang, satu di UB (Universitas Brawijaya) dengan pilihan Sosiologi dan Perencanaan Pembangunan, satu lagi di UIN Maliki dengan pilihan Hukum Syariah dan Pendidikan IPS.

Hanif Sholikha Sosiologi dan teman KKN

Jreeng… jreeng… yang membuatku was-was adalah keempatnya aku pilih bukan atas dasar keinginan dan kesukaan, apalagi kecintaan secara tulus murni terhadap bidang-bidang ilmu tersebut. Yang menjadi pertimbanganku selama berhari-hari adalah cari yang peminatnya sedikit tapi daya tampungnya banyak. Sekali lagi, cari yang peminatnya sedikit tapi daya tampungnya banyak! Huahaha. Kemudian setelah itu urutkan yang paling disukai.

Jadi intinya sudah bisa ditebak, aku ngebet supaya bisa keterima jalur undangan dan nggak pusing-pusing lagi tes ujian tulis atau bahkan tes masuk STAN. Maafkan hamba yang tidak suka belajar ini, Tuhan. Meski begitu, Tuhan memang paling josss dalam mendengarkan doa hambaNya! Akhirnya, keterima undangan dan masuk jurusan Sosiologi. Masalah nanti kuliahnya gimana? Dipikir sambil jalan.

Tersadar udah jadi newbie anak Sosiologi, lalu yang teringat kala itu adalah Ibu Sri Budi Praptiwi. Guru Sosiologi sewaktu SMA yang suupeeeeerrr ueeenakkk banget kalau menerangkan materi. Hmm… bismillah saja, semoga kedepannya Sosiologi memang semenyenangkan pelajaran SMA. Ini adalah doa dan harapan polos yang nggak taunya bakalan mrongos waktu dijalani.

Tugas-tugasnya anak Sosiologi itu biasanya apa aja? Maksudnya, bahasannya tentang apa?

Hanif Sholikha Sosiologi

Hmmm…selayaknya anak kuliahan pada zamannya, nggak berat kok tugas kita. Cuma kadang rasanya pingin ke rooftop gedung kampus Lt 7. Ngapain? Terjun? Bukan, cuma liat-liat pemandangan di bawah aja kayaknya seru. Oke, abaikan.

Tugas sebagai anak Sosio adalah mengkritik sana-sini. Iya ini jujur. Karena dalam perkuliahan, kami selalu dihadapkan dengan contoh fenomena-fenomena sekitar, yang tanpa ampun selalu penuh dengan konflik dan berbagai macam social disorder. Kritik-kritik yang kita sampaikan memang sengaja dibangun agar tercipta solusi-solusi dan tercapainya keteraturan sosial sesuai apa yang diharapkan pada kondisi yang terjadi. Selain itu kita juga dituntut untuk lebih banyak speak up dan menulis. Menulis bisa menjadi salah satu media untuk menuangkan serta “merekam” ide-ide dan pemikiran. Pembicaraan ini berat banget. Seberat hubunganmu dengan mantan. Nah, begitulah rasanya.

Setiap bidang ilmu kan pasti ada kerumitannya masing-masing. Lantas, serumit apa sebenarnya Sosiologi itu?

Hanif Sholikha Sosiologi rapat

Serumit hubunganmu dengannya. Iya. Rumit, kalau nggak mau memahami. Bukan rumit karena nggak bisa memahami. Kerumitannya bisa dibagi tiga; teori, metode, dan penerapan keduanya, baik dalam kehidupan nyata atau dalam kaitan dengan kajian ilmu lainnya. Tapi nggak rumit-rumit amat, biasanya tiap-tiap mahasiswa Sosiologi pasti punya spesialisasinya masing-masing. Ada yang kuat di teori, ada yang kuat di metode, ada juga yang ahli lapang. Ahli lapang ini adalah anak-anak yang paling cekatan dan fleksibel alias mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat yang menjadi objek penelitian. Nggak jarang mereka dijadikan panitia untuk mengurus tetek bengek selama penelitian. Contohnya seperti aku, aku memang lebih suka terjun lapang, praktik lebih asik dari pada teori.

Makna Sosiologi menurutmu pribadi dan hal apa yang bisa dibanggakan dari jurusan Sosiologi?

Hanif Sholikha Sosiologi UB

Maknanya adalah, aku bisa memahami lingkungan sekitar. Serius! Nggak guyon! Itu secara pribadi.

Yang bisa dibanggakan? Jelas ada! Sosiologi UB selalu jadi kebanggaan. Aku merasa, aku “dipulangkan” “ke tempat” aku yang sebenarnya. Bertemu dengan manusia-manusia jujur, keras, lantang, menyesuaikan, tapi tetap tidak meninggalkan beragam kelakuan uniknya. Itulah anak Sosiologi.

Dosen-dosen yang meskipun diberi berkah dengan tingginya ilmu, masih tetap bersahaja dengan lelucon yang khas dan sapaan ramah ke mahasiswa-mahasiswanya. Teman-teman satu kelas, satu angkatan, Kakak tingkat, Adik tingkat, kakak adikan, yang bahkan tanpa kita berjabat tangan — tinggal ceplas ceplos olok olokan — semuanya saling akrab dan saling kenal.

Terus apa adanya, apa adanya ini dalam artian sesungguhnya, jika disejajarkan dengan jurusan sosial lainnya macam anak Hubungan Internasional, Komunikasi, Psikologi, pasti semua orang sudah bisa menebak mana yang Sosiologi. Saking apanya? Saking bulaknya. Sandal jepit, kaus oblong, bahkan juga sampai ada yang pakai sarung ke kampus, siapa lagi kalau bukan anak Sosiologi?

Bukan… bukan bermaksud menjatuhkan jurusan sendiri, but sometimes ada seni yang menarik dibalik keunikan anak Sosiologi yang melebihi anak Seni Rupa. Dari sana, muncul pemikiran-pemikiran liar mereka yang belum tentu, orang yang berseragam rapi akan berani memiliki pemikiran yang sedemikian rupa.

Banyak orang memandang sebelah mata, jurusan Sosiologi ke depannya seperti apa? Akan bekerja di mana dan pandangan awam lainnya. Tapi sadarilah, manusia harus lebih berterima kasih kepada jurusan ini, karena tanpa adanya kami — sombong dikit biarin — kalian nggak bisa mengetahui dan merasakan potensi daerah masing-masing. Ambil contoh tentang social mapping atau pemetaan. Social mapping ini berfungsi untuk memetakan wilayah yang akan dijadikan bahan penelitian kami, untuk mengetahui potensi apa aja yang bisa digali untuk kemaslahatan umat bersama. Lah, tanpa adanya itu orang-orang tidak akan mampu menentukan kebijakan dari segi ekonomi, budaya, pendidikan bahkan sampai sumber daya alam semacam jalan-jalan atau akses desa. Seharusnya, masyarakat itu lebih ‘membumikan Sosiologi’.

Mungkin kendalanya adalah bahasa yang dibuat sulit untuk dipahami. Setiap hari penduduk dunia melakukan kegiatan sosial, berinteraksi, dan bermasyarakat. Itu semua merupakan lingkup pembahasan Sosiologi. Dan sekarang, ada yang masih awam dengan isitilah Sosiologi? Ya, Sosiologi terbelenggu dalam sebuah kata yang sulit dipahami. Menggunakan istilah yang diadopsi dari luar, berasal dari kata socios logos yang membuat orang gagal paham atas ilmu tersebut.

Apa yang kamu dapatkan setelah mengenal Sosiologi?

Hanif Sholikha Sosiologi UB Malang

“Aku jadi tau kamu, aku jadi paham kamu. Kamu jadi tau aku, kamu bisa memahami aku. Kita tak lagi menggunakan kacamata kuda. Bahwa sebanyak jumlah manusia yang ada, sebanyak itu pula jumlah cara berfikir manusia. Kalau kita minta sama rata, lebih baik keadilan dibuang saja.”

Nah itu pelajaran setelah mengenal Sosiologi, tapi ini serius. Dulu yang nggak terlalu care sama orang lain, sekarang jadi lebih paham. Jadi nggak gampang men-judge orang. Jadi berani berpikir liar dan berani kembali lagi ke hakikat berpikir sesuai dengan kondisi diri. Aduh, pokoknya banyak.

Susah senangnya jadi mahasiswa Sosiologi itu apa aja sih?

Hanif Sholikha Sosiologi dan tim

Susah kalau dana penelitian nggak turun-turun. Padahal mata kuliah penelitian buanyak banget. Hahaha.

Senangnya adalah justru susahnya itu jadi kesenangan. Contohnya, saat terberat waktu turun lapang. Turun lapang biasanya diadakan setelah UTS dan menginap di lokasi penelitian selama 4 hari 3 malam. Kegiatan itu selalu ada dari semester 1 hingga 6, bersama tim-tim yang solid. Mahasiswa dibiasakan untuk hidup mandiri dan harus dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat di lokasi penelitian. Meskipun hanya 4 hari, tapi ini sudah cukup untuk melatih soft skill agar lebih siap jika suatu saat terjun di dalam masyarakat secara nyata.

Kesenangan lainnya itu karena lahir di keluarga baru, yakni dari kalangan mahasiswa sendiri yang semakin akrab karena intensitas bertemu dan hidup bersama. Selain itu juga keluarga di lokasi penelitian yang kebanyakan adalah masyarakat desa yang terkenal rukun, ramah, dan guyub. Lebih banyak link.

Tanggapan keluarga mengenai kuliahmu saat ini gimana? Lalu, siapa yang paling mendukung?

Hanif Sholikha Sosiologi dan teman

Dukungan paling banyak hanya secara doa dan materi, kalau moril kayaknya nggak terlalu. Jujur, aslinya Bapak nggak begitu mendukungku di jurusan ini. Bukan karena apapun, hanya karena Bapak juga nggak paham aslinya Sosiologi itu ngapain sih? Seperti pembahasan di atas tadi: Anak Sosiologi kalau lulus mau kerja apa? Pemikiran Bapak semacam ini sebenarnya lahir dari lingkungan kerja bapak yang notabene anak-anak dari teman sepekerjaan Bapak, kuliahnya kalau nggak kedokteran, pendidikan, hukum, akuntansi, ekonomi, dan ilmu ilmu yang kelihatannya high class.

Aku nggak kaget. Tapi terbukti, setelah beberapa semester berjalan, dan meskipun di awal hanya — kebetulan keterima — di Sosiologi, Bapak lama-kelamaan juga mulai paham jurusan ini dan terus mendukung untuk tetap berada di jalan yang benar.

Kalau Ibu? Ibu cuek. Nggak banyak khawatir, nggak banyak komentar. Nasihat beliau: “kuliah kuliaho sembarang seng penting nek lulus kudu dadi uwong.” (Kuliah kuliah aja terserah yang penting kalau udah lulus jadi ‘orang’).

Ya, masak mau jadi setan buk, batinku. Intinya, Ibu mendukung karena ketidaktahuannya. Sedangkan Bapak menentang karena kekhawatirannya.

Apa impian terbesar kamu yang belum tercapai? Terutama yang berhubungan dengan Sosiologi.

Hanif Sholikha Sosiologi dan kawan

Nggak muluk-muluk. Cuma satu, menjalani ritual skripsi terlebih dahulu, sebelum mencapai gelar S.Sos alias wisuda. Ah klise. Semuanya juga kayak gitu, mmm apa ya, mungkin ingin buka perpustakaan, terus ingin buka percetakan sendiri yang berhubungan sama Sosiologi. Sepele sih, tapi ilmu itu nggak sebatas untuk memperoleh kerja atau jabatan yang tinggi, kan? Seperti kata Mbak Resti Pratiwi: Tetaplah menjadi orang yang bermanfaat. Bukankah manusia paling baik itu yang bermanfaat untuk yang lain?