Angga: “Tak ada yang bisa mengalahkan rasa puas selain berbahagia menggunakan uang yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri.”

Menjadi manusia dengan kesibukan ganda memang melelahkan. Namun karena ini merupakan proses hidup yang aku pilih, sudah semestinya aku menjalani ini dengan penuh keikhlasan. Halo Wovger, aku Angga Ramadhani, dan biasa dipanggil Angga. Aku lahir di Surabaya, 16 Maret 1992. Hobiku ialah membaca. Aku paling suka membaca buku-bukunya Kahlil Gibran dan Raditya Dika. Menurutku, buku Kahlil Gibran itu keren. Kayak teka-teki namun dalam bentuk sastra. Jadi perlu dibaca lebih dari satu kali untuk mengerti isinya. Sedangkan buku Raditya Dika, aku menyukainya karena kocak dan apa adanya. Saat ini, aku tercatat sebagai mahasiswa Akuntansi semester 6 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan juga seorang karyawan produksi di sebuah pabrik karton. Dua kegiatan yang sangat menghabiskan waktuku sehari penuh.

Aku bersyukur sekali karena pihak kampus memberi perhatian kepada orang-orang yang menjalani kuliah sembari bekerja. Aku diberi kewenangan untuk mengatur jam kuliah sesuai dengan jam kerjaku. Jadi misalnya, ketika aku bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, maka aku bisa memilih untuk mengambil kuliah malam. Lalu jika jam kerjaku sore hingga malam, aku pun diperkenankan untuk mengambil kuliah pagi. Bagiku, dua kegiatan ini sama pentingnya. Sehingga aku harus ekstra telaten dan pandai-pandai me-manage waktu.

Angga Ramadhani

Sebelum bekerja sebagai karyawan produksi di pabrik karton seperti sekarang, aku sudah pernah bekerja di warnet, lalu jadi admin di sebuah apartment, hingga bekerja di restoran. Itu semua aku lakukan karena memang aku ingin sekali segera kuliah.  Selain itu, juga lantaran sebuah janji yang pernah aku ucapkan kepada orangtua, bahwa setelah lulus SMA, aku tak ingin membebani orangtua secara materi.

Singkat cerita, aku bisa mengumpulkan uang dari pekerjaan-pekerjaan yang aku lakoni tersebut. Aku sempat dilanda kebingungan ingin kuliah di mana. Tapi itu tak berlangsung lama, karena pada akhirnya aku memutuskan untuk mencoba ikut SNMPTN. Tak kusangka, ternyata aku diterima! Tepatnya, di kampus UNESA, Surabaya.

cie angga ke universal studio

Uang terkumpul, dan diterima di UNESA melalui jalur SNMPTN, bukan serta-merta kemudian masalah selesai. Tidak. Karena selanjutnya aku jadi berpikir:

“Kalau aku kuliah di UNESA, bagaimana bisa aku bekerja? Bagaimana caraku membayar biaya-biaya kuliahku sampai lulus? Padahal, pengumuman penerimaanku di UNESA ini bersamaan dengan diterimanya aku sebagai karyawan di pabrik karton.”

Terpaksa, tiket emas SNMPTN untuk kuliah di UNESA aku relakan. Kemudian, aku mencari-cari kampus lain, yang bisa memberi kelonggaran kepada karyawan sepertiku. Dan takdir pun mepertemukan aku dengan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Kenapa aku tetap keukeuh untuk bekerja dan tak memilih untuk fokus kuliah sembari menanti-nanti datangnya beasiswa setiap semester? Karena aku sadar, aku bukanlah orang yang cerdas secara akademik. Bisa diterima di UNESA lewat jalur SNMPTN, yah, itu cuma sedang beruntung saja. Tidak, Wovger. Tidak. Aku tidak pesimis. Aku tahu siapa diriku. Aku tahu letak kekuatan dan kelemahanku. Jadi, keputusanku ini, sudah aku pertimbangkan matang-matang.

angga dan teman wisudanya

Semakin lama kuliah, tugas semakin menumpuk. Seringkali aku harus lembur, agar tugas kuliah dapat terselesaikan. Saat menginjak semester 5 aku pernah merasa kelelahan. Merasa tak ada gunanya capek-capek setiap hari kerja lalu kuliah. Karena di semester tersebut, tugas-tugas kuliahku betul-betul amburadul, ditambah lagi dengan sistem kerja yang setiap tahun berganti, yang membuatku harus bergerak cepat dalam memutuskan, agar dapat menyeimbangkan keduanya.

“Tak ada yang salah dengan pilihan hidup. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Awalnya mungkin seperti jatuh, tapi kelak kamu akan memetik kesuksesan,” begitu nasihat Ayah pada suatu hari.

Semenjak itu, semangatku berkobar-kobar. Jadi kalau sampai hari ini aku masih bersemangat dalam menjalani keduanya, salah satunya karena motivasi dari Ayahku yang masih tertancap kuat dalam benak.

Menurutku, tak ada yang bisa mengalahkan rasa puas selain dengan memenuhi janji yang telah diucapkan sendiri. Aku bersyukur, sampai hari ini, Tuhan masih memberiku kekuatan untuk memegang erat janjiku kepada orangtua. Aku benar-benar bahagia, bisa kuliah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari menggunakan uangku sendiri.

angga ke singapura deh