Tiwi: “Belajar menjadi diri sendiri dan mandiri adalah sebuah bekal untuk bisa melepaskan diri dari belenggu ketergantungan.”

Hello, Wovger. Kali ini aku akan bercerita soal diriku. Namaku Afrianti Eka Pratiwi, kalian bisa panggil aku Tiwi/Ntiw. Saat ini aku sedang menjalani studi di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Aku lahir di Kebumen, 12 April 1995. Tinggal di Bogor. Ya, aku sedang merantau demi menuntut ilmu dan mengejar gelas sarjana. Doakan aku ya supaya tahun depan bisa lulus. Aamiin.

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata ‘sendiri’ dan ‘mandiri’? Dua hal tersebut beda tipis, memang, tetapi saling berhubungan. KBBI mengartikan kata ‘sendiri’ dengan keadaan seorang diri; tidak bersama orang lain, sedangkan kata ‘mandiri’ diartikan sebagai sebuah keadaan dapat berdiri sendiri’ tidak bergantung kepada orang lain. Lihat bedanya? Kalau aku bilang, sendiri adalah keadaan fisik, tetapi mandiri berkaitan dengan kondisi dan keadaan. Kenapa sih aku bahas hal seperti ini? Aku cuma mau menjelaskan tentang diriku.

IMG_20141231_061303

Sudah 21 tahun aku sendiri, tetapi aku belum bisa mandiri. Perihal sendiri mungkin akan aku kaitkan dengan tidak adanya pasangan, tapi di sisi lain, aku punya banyak teman yang siap membantu. Bicara soal mandiri, aku tentu belum mandiri, kalau hal ini dikaitkan dengan finansial semata. Ya, sampai usia ini aku masih meminta ‘uang jajan’ pada orang tua. Bagiku, ini payah. Aku selalu berkaca pada remaja-remaja yang memiliki prestasi atau minimal bisa mendapatkan penghasilan sendiri di usia mudanya. Aku mungkin belum bisa, tapi sudah berusaha. Iya, aku mulai dari hal kecil untuk berjualan pulsa elektrik di lingkungan kampus. Salah satu upaya membuatku mandiri.

Sendiri? Apa ada hal yang salah ketika aku berjalan seorang diri ke cafe? Dimana letak kesalahan ketika aku berjalan seorang diri ke toko buku? Atau dimana letak keganjilan ketika aku pergi seorang diri ke luar kota? Aku sendiri, berdua dengan motorku saja.

“Just because I’m alone does not mean I am lonely.” – Tsugumi Ohba.

Seberapa sering aku pergi seorang diri? Bisa dibilang sangat sering. Aku mencoba menyederhanakan hal-hal yang terjadi. Contohnya, ketika aku dan teman-teman merencanakan suatu pertemuan, biasanya hanya akan berujung wacana. Rencana itu tidak berjalan dengan semestinya. Oleh sebab itulah, aku lebih memilih pergi sendiri, apapun yang kulakukan sesuai keinginanku, tidak perlu ada campur tangan orang lain. Sesederhana itu. Termasuk dalam hal makan dan memilih tempat makan. Klise memang. Aku dan temanku seringkali kebingungan saat mau makan, ketika rencana makan sudah ditetapkan, aku masih harus menunggu kedatangan mereka yang terkadang melewati waktu yang ditentukan. Menyebalkan sekali. Dan lagi-lagi aku lebih memilih untuk makan sendiri saja, sesuka hatiku.

Sendiri itu membuatku jadi mandiri. Tidak percaya? Aku sudah pernah melakukannya. Aku bahkan pernah menonton bioskop seorang diri, karena aku yakin ketika aku mengajak teman yang lain, mereka selalu banyak alasan. Mulai dari tidak punya uang hingga alasan klasik semacam mager (males gerak) ke luar rumah.

IMG_20141231_055412

Meskipun sendiri, aku tetap manusia. Manusia adalah makhluk sosial, yang artinya tetap membutuhkan orang lain. Meskipun aku seringkali berpergian sendiri, bukan berarti aku menjadi seorang yang antisosial. Hanya saja ketika aku pergi seorang diri, aku jadi tahu dimana letak kelemahanku. Apa yang aku bisa lakukan sendiri. Pada akhirnya, aku hanya akan mengandalkan diriku sendiri, menggali kemampuanku lebih dalam lagi. Seperti pengalamanku ketika mendaki gunung. Memang, kami pergi beramai-ramai, tapi saat itu aku harus jadi si mandiri, berjalan dengan kaki sendiri.

So, sendiri membuatku mandiri dalam artian aku tidak perlu bergantung pada siapapun, kecuali Tuhan. Karena kamu memang harus berjuang sendiri, termasuk untuk menghadapi kematian.

Contoh nyata yang akan aku lakukan dalam waktu dekat ini adalah aku akan pergi ke luar pulau seorang diri. Hal ini menuntutku untuk jadi mandiri dan mengenali diriku sendiri. Tidak ada yang lebih baik ketika kamu tahu apa kelebihan dan kelemahan diri sendiri karena seorang perempuan harus bisa mandiri. Be yourself and be brave!