Jajat: “Tetaplah tenang, karena semua ini pasti akan berlalu.”

Aku terlahir di sebuah desa bernama Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, rumah orang tuaku hanya beberapa meter dari pantai Laut Utara. Terlahir dalam sebuah keluarga sederhana pada 19 April 1995. Ayahku merupakan lulusan SMP dan ibuku hanya lulusan SD. Aku merupakan anak ke-4 dari 6 orang bersaudara. Kakakku yang merupakan anak pertama tidak sampai lulus SD, sedangkan kakakku yang kedua tidak melanjutkan SMP setelah ia lulus SD. Namun kakakku yang ketiga dapat menyelesaikan pendidikan SMK-nya  di jurusan Teknologi Pangan. Kemudian kedua adikku, yang laki-laki sekarang duduk di bangku SMP sedangkan adikku yang perempuan yang merupakan anak bungsu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dari keluargaku itu, hanya aku saja yang dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Ini berkat adanya beasiswa BIDIK MISI dari pemerintah. Semoga kedua adikku nanti dapat menyusul dan bisa merasakan bangku kuliah selanjutnya.

Tahun 2008

Ibuku Menjadi TKI

Pada tahun ini adalah dimana aku harus merasakan perihnya menjalani kehidupan tanpa seorang ibu. Karena ibuku pergi meninggalkan kami sekeluarga menjadi seorang TKI di luar negeri, tepatnya di negara Kuwait. Ibuku meninggalkan 6 orang anaknya, putri bungsunya saat itu masih berusia 2 tahun. Aku sangat kasihan kepada adik perempuanku, di kala usianya yag masih balita ia tidak bisa merasakan kehangatan pelukan ibunya.

Setelah kepergian ibuku, ekonomi keluarga bukannya menjadi lebih baik justru malah menjadi semakin sulit. Aku yang saat itu masih duduk di bangku SMP kelas VII di MTs Hasanudin Kandanghaur, banyak menjalani kesedihan dan kesulitan pada masa itu. Setelah pulang dari sekolah aku langsung makan siang dan kemudian berangkat untuk memulung bersama kakakku (anak ke-3) yang saat itu kelas VIII, karena selisih usia kami tidak begitu jauh. Serta diikuti juga dengan adikku yang masih kelas 2 SD. Sehingga kami ketiga bersaudara ini selalu berangkat memulung bersama setelah pulang sekolah dengan karungnya masing-masing. Ayahku saat itu juga berprofesi sebagai pemulung, begitu pula dengan kakakku yang kedua (anak ke-2), dia juga mempunyai pekerjaan yang sama seperti ayahku. Berbeda dengan kakak pertamaku, ia berprofesi sebagai nelayan tradisional dan jarang pulang ke rumah.

PIMNAS 28 Kendari3

Pernah suatu waktu ketika aku sedang memulung, aku bertemu dengan teman-temanku, malu sekali rasanya aku bertemu mereka dengan keadaanku saat itu. Biasanya aku langsung berjalan cepat dan menutupi wajahku dengan topi yang aku pakai. Tidak sedikit juga dari teman-temanku yang menanyakan hal itu ketika di sekolah,

“Kemarin kok, aku lihat kamu pakai topi merah, bawa karung juga, kemarin kamu mulung yaa?” tanya temanku.

Jika ada yang bertanya seperti itu, aku akan menjawab,

“Iya, terus kenapa? Emangya kalau aku gak mulung kamu mau kasih makan aku?”, jawabku.

Namun untungnya, prestasiku di SMP tidak kalah dengan siswa yang lain. Alhamdulillah, aku selalu menjadi juara kelas dari kelas VII sampai kelas IX sehingga banyak teman-temanku yang simpati juga kepadaku.

Tahun 2009

Ekonomi keluarga semakin memburuk pada tahun ini dikarenakan penghasilan ayahku dari memulung tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka aku sering disuruh oleh ayahku untuk berutang beras, mie, telur, dan kebutuhan lainnya. Ini aku lakukan hampir setiap hari dan pada warung yang berbeda, sehingga jadilah wajahku yang sudah terkenal di setiap warung yang istilahnya dikenal sebagai ‘wajah utang’. Sehingga aku malu dibuatnya, namun aku buang jauh-jauh perasaan malu itu. Pernah suatu hari persediaan beras tinggal sedikit, sehingga yang dilakukan adalah membuat beras menjadi bubur dengan memberi air yang banyak atau tetap menanak beras menjadi nasi, namun dengan jatah sepiring berempat.

PIMNAS 28 Kendari Jajat

Tahun  2010

Ibuku Pulang

Pada tanggal 21 Maret 2010 akhirnya ibuku pulang dari Kuwait dan dia sangat gembira ketika melihat putrinya yang dahulu ia tinggalkan masih kecil, kini telah tumbuh besar dan sangat berbeda dari dua tahun yang lalu. Suasana menggembirakan itu ternyata tidak begitu lama, ketika ibuku mengetahui bahwa uang yang selalu dikirimkannya selalu habis untuk membayar utang di warung. Rumah pun keadaannya masih sama saja, bahkan beberapa sisa utang di warung masih belum lunas juga. Maka pada tanggal 3 Agustus 2010 ibuku memutuskan untuk berangkat ke luar negeri menjadi TKI kembali. Ia meninggalkan anak-anaknya untuk kedua kalinya seperti dua tahun silam, namun kali ini keadaannya lebih menyedihkan karena kakakku yang kedua sedang sakit batuk-batuk yang sudah lama dan badannya pun kian hari semakin kurus. Belum lama setelah keberangkatan ibuku, tanggal 6 Oktober 2010 kakakku yang sedang sakit itu meninggal dunia. Sebelum kematiannya ia sempat dirawat di rumah sakit. Berdasarkan analisis, dokter mengatakan bahwa kakakku menderita penyakit bronchitis yang kronis dan pengobatan yang dilakukan saat itu dianggapnya sudah terlambat. Sehingga esoknya pada pukul 02:10 WIB kakakku menghembuskan napasnya yang terakhir.

Tahun 2011

Ketika mendengar kabar bahwa anaknya meninggal dunia, ibuku berniat untuk segera pulang ke Indonesia, namun karena proses pemulangan yang tidak mudah maka ibuku baru bisa pulang pada bulan Januari 2011. Kondisi keluargaku menjadi baik kembali setelah kedatangan ibu dan aku pun mendapatkan beasiswa full untuk melanjutkan SMA di Bandung tepatnya di BINA SISWA SMA PLUS CISARUA Provinsi Jawa Barat, serta aku melakukan kegiatan belajar intensif di SMAN 1 CISARUA Kabupaten Bandung Barat.

Di Universitas Padjdjaran

Tahun 2016

Tak terasa masa pendidikan SMA-ku di Bandung telah berakhir, masa-masa sulit ketika SMP juga telah kulewati. Saat ini aku sedang menjalani pendidikanku sebagai mahasiswa di ITB (Institut Teknologi Bandung). Berkat adanya beasiswa BIDIK MISI dari pemerintah. Aku sekarang dapat mengenyam pendidikanku di tingkat sarjana. Aku sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang besar ini dan juga berterima kasih kepada Kementrian Pendidikan Nasional yang telah mengadakan beasiswa BIDIK MISI ini, sehingga masyarakat yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena masalah biaya namun mempunyai semangat dan cita-cita  yang tinggi, dapat mempunyai kesempatan untuk mewujudkan impiannya.

Setelah aku lulus dari ITB aku akan melanjutkan pendidikanku S2 di Jerman lalu S3 di MIT, USA. Itu adalah cita-citaku sekarang, lalu aku akan mendirikan sebuah yayasan pendidikan bagi orang-orang yang kurang mampu dalam segi ekonomi serta untuk anak-anak jalanan. Aku akan “mentransfer” ilmuku kepada generasi penerus bangsa selanjutnya. Kemudian aku ingin menjadi salah satu ilmuwan terhebat di dunia dan membawa nama Indonesia di kancah internasional serta membuat daerah kelahiranku menjadi maju. Namaku akan dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia walaupun aku telah meninggalkan dunia ini. Sehingga hidupku bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama.

Kunjungan ke Universitas Indonesia