Asrul: “Membangun bisnis itu boleh, tapi jangan sampai melupakan sedekah. Percayalah, hal-hal baik akan datang setelah bersedekah.”

Halo Wovger, perkenalkan, namaku Asrul Ramadhani. Putra Sidoarjo kelahiran 11 Maret 1992. Sekarang, banyak orang mengenalku sebagai Ners (salah satu sebutan untuk profesi perawat yang sudah mengikuti pendidikan profesi ners) dan pebisnis roti bakar.

Awal mula menjalani bisnis, keadaan ekonomiku sedang kocar-kacir. You know lah, biaya kuliah kesehatan itu mahal. Ditambah lagi, setelah mengambil gelar sarjana, aku harus mengambil gelar lagi: Ners. Selain ekonomi tak keruan, pinjaman di sana-sini juga belum kelar pelunasannya.

Asrul Ramadhani dan kawan-kawan

Saat itu, keadaan hidupku betul-betul serba terhimpit. Maksud hati ingin terus maju, tapi kok kenyataan seperti memukulku agar bersedia mundur. Menyadari bahwa hidup sedang pengap, kemudian aku berkonsultasi dengan guru ngajiku yang bernama KH. Abdullah, menyampaikan masalah yang aku alami. “Kamu punya Allah yang besar,” begitu nasihat beliau, menanggapi curahan permasalahanku.

Berbekal modal seadanya, aku kemudian bersama seorang sahabat berinisiatif untuk membuka bisnis kecil-kecilan, yakni berjualan roti bakar. Roti Bakar Bang Akri, namanya. Nama ‘Akri’ berasal dari singkatan ‘Arek Krian’ yang menggambarkan semangat para pemuda di tempat di mana aku lahir.

Asrul Ramadhani sendirian

Roti bakar Bang Akri, di dalamnya terdapat selai dan buah-buahan. Pemilihan selai pun juga berasal dari ekstrak buah yang bagus. Basic dari dunia kesehatan membuatku harus betul-betul memperhatikan semua hal, agar makanan yang dikonsumsi adalah roti bakar yang berkualitas.

Tidak mudah menjalankan bisnis ini. Jatuh dan bangun juga pasti ada. Bahkan, orangtuaku sendiri sampai menangis melihat kondisi hidupku saat itu. Tak cukup sampai di situ, Kakakku malah marah besar dengan mengatakan:

Awakmu mantri sarjana! Opo jarene tonggomu Le? Kamu seorang sarjana kesehatan (masa jualan). Apa kata tetangga?”

Menanggapi sikap pesimis tersebut, aku cuma menjawab enteng:

“KH. Ahmad Dahlan — pendiri Muhammadiyah — berdagang dan juga berilmu. KH. Hasyim Asyari — pendiri Nahdlatul Ulama — pun demikian. Bahkan beliau juga seorang tabib. Jadi, apa salahnya kalau aku juga berbisnis?”

Aku tetap memutuskan untuk melanjutkan bisnis ini, apapun yang terjadi. Alhamdulillah, bisnis ini disambut baik oleh para pembeli. Walhasil, outlet yang tadinya hanya 1 buah, semakin lama semakin berkembang, hingga kini menjadi 10 outlet di sekitar Sidoarjo.

Menurutku, berkembang itu penting. Tapi bersedekah itu wajib. Membangun bisnis itu boleh, tapi jangan sampai melupakan sedekah. Percayalah, hal-hal baik akan datang setelah bersedekah.

Asrul Ramadhani

Aku menjual roti bakar Bang Akri dengan harga mulai dari 12 ribu hingga 25 ribu (khusus roti bakar spesial yang ditambah toping). Alhamdulillah, omzet yang aku peroleh, bisa dibilang, lebih dari cukup. Sehingga, aku bisa tetap bekerja sebagai perawat di RS swasta di daerahku, sembari menjalankan bisnis. Ya, aku adalah perawat yang gemar berbisnis.

Kini orangtuaku bahagia setelah melihat hasil kerja kerasku, begitu pula kakakku. Sekarang, aku mulai merambah ke Jakarta, merealisasikan rencana untuk membuka home industri roti. Saling mendoakan ya Wovger, semoga Tuhan memberi kelancaran terhadap rencana-rencana kita semua. Aamiin.

Asrul Ramadhani berjualan