Widya: “Jangan menggampangkan sesuatu, karena kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.”

Hari selasa 06 Januari 2015, merasa gelisah karena keesokan harinya aku harus mulai mengajar di SMAN Kab.Tangerang. PPL perdana sudah di depan mata dan aku harus melakukannya meskipun aku merasa canggung dan gelisah karena aku belum mempunyai pengalaman sebelumnya maka dari itu aku merasa cemas sejak hari kemarin. Hari itu pun tiba, rabu 07 Januari 2015. Jam menunjukan pukul 11.30 siang, aku mulai berangkat dari rumah menuju sekolah . Di dalam perjalanan menuju sekolah SMAN ternyata agak macet karena itu adalah jam keluar sekolah. Angkot yang aku tumpangi berhenti di dekat SDN, ternyata anak-anak SDN sudah pada bubar. Ternyata itu yang membuat macet dan itu salah satu faktornya.

Jam sudah menunjukan pukul setengah satu dan aku masih berada di Legok. Prediksiku ternyata meleset dan salah. Aku masih berada di Legok. Setengah satu lewat aku masih berada di pasar curug dan kondisi jalan tersebut macet, membuatku resah pada akhirnya aku memutuskan untuk turun dan naik ojek. Jam 13.00 akhirnya aku tiba di sekolah SMAN. Dengan keadaan cemas akhirnya aku sampai juga sesuai dengan jadwal dan aku tidak telat karena aku memutuskan untuk tidak datang telat pada hari pertamaku ngajar. Meskipun masih ada waktu lima belas menit tetapi setidaknya aku tidak terlambat. Hehehehe. Aku ingin mempunyai kesan yang baik di hari pertamaku ngajar terhadap murid-murid ataupun pihak sekolah.

Kesan hari pertamaku mengajar adalah aku seperti dikejar-kejar oleh waktu. Bagaikan dikejar oleh gulungan ombak di tengah lautan. Itulah yang aku rasakan pada saat itu, aku merasa dikejar-kejar oleh sesuatu. Pesan dari aku adalah jangan sekali-kali kalian menggampangkan sesuatu meskipun menurut kalian itu sudah fix kalian prediksi dan sudah diputuskan secara matang-matang, akan tetapi kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi, seperti halnya yang terjadi pada diriku pada saat itu. Datanglah lebih awal dan jangan suka mengulur-ngulur waktumu.

20150204_142446

Meskipun kesan pertamaku dikejar-kejar oleh waktu, aku tidak mengulanginya lagi untuk kedepannya. Aku berusaha datang lebih awal. Pertama kali mengajar itu rasanya nervous banget, banyak bayangan yang menghantui, tapi ketika kita sudah melaksanakan atau mengahadapinya, semua jadi baik dan lancar. Memang hari pertama aku masih nervous, dan masih belum bisa menguasai kelas. Seusai mengajar aku dan teman-teman lain saling berbagi cerita mengenai hari pertama ngajar. Kebanyakan mereka mengeluh terhadap siswanya, karena mereka sulit diatur. Alhamdulillah di kelas yang aku pegang siswa-siswanya tidak banyak tingkah, sebagian dari mereka sopan dan pintar-pintar.

Satu minggu sudah berlalu, aku mulai mengerti bagaimana cara mengajar atau menjadi seorang guru. Perlahan-lahan aku mulai menguasai kelas. Akan tetapi, rasanya masih lama untuk menunggu sampai dua bulan. Dua bulan berlalu, dan sebentar lagi aku dan teman-teman akan mengadakan perpisahan di sekolah itu. Selama dua bulan, banyak cerita di dalamnya. Ketika aku akan mengajar anak iis 1 dan jadwalnya di jam terakhir. Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk mengajar, tetapi semuanya tidak berjalan dengan lancar, karena infocus yang akan aku pergunakan untuk ngajar tidak ada, karena sudah dipakai semua, jreeeeekkkkk, aku mulai kebingungan mungkin aku mulai terlihat gugup dan anak-anak mungkin mulai mengetahuinya. Aku bingung karena semua yang sudah ku persiapkan berantakan karena tidak adanya infocus. Meskipun tanpa infocus aku mulai mengajar. Tetapi, waktu begitu lama. Jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana mu, kamu harus bisa mengatasinya, kamu harus bisa mengimprovisasinya itu nasihat dari salah satu temanku.

Di minggu ketiga guru pamong kita akan pergi umroh, beliau kurang lebih selama dua minggu pergi umroh. Semua kami handle, beliau mengajar kewirausahaan di MIA kelas 10, Pajak di MIA di kelas 11. Selama dua minggu itu kami rolling mengajar. Dari semua teman-temanku hanya aku yang tidak banyak komentar, tapi sebenarnya juga aku merasa lelah dengan keadaan pada saat itu. Ya, mau gimana lagi, karena kita di situ sedang mencari ilmu/pengalaman. Aku menganggapnya ini adalah sebuah pengalamanku. Teman-temanku mengeluh karena mereka merasa cape. Hampir satu minggu kita berada di sekolah, yang seharusnya cuma dua kali dalam seminggu. Tetapi aku tidak mengambil pusing dan tidak mengeluh, meskipun terkadang suka mengeluh.

Dua bulan telah berlalu aku bersama teman-teman mengikuti PPL di sekolah tersebut. Banyak suka duka yang aku bersama teman-teman lalui. Dan sekarang saatnya kami mengadakan acara perpisahan sekolah. Sesuai dengan rencana yang sudah dirapatkan aku mempunyai tugas untuk membacakan doa penutup. Terjadi sebuah perubahan karena MC yang telah ditetapkan tidak hadir, jadi aku yang menggantikan untuk menjadi MC. Lagi-lagi pengalaman yang sangat mendadak menjadi MC, belum pernah sama sekali menjadai MC di sebuah acara, sungguh itu pengalaman pertama kali aku jadi MC di sebuah acara, mau tak mau harus menjadi MC karena tidak ada yang mau, mau tak mau aku harus mengajukan diri. Lagi-lagi aku harus bisa keluar dari zona zaman dan mengalahkan rasa takut menjadi orang yang percaya diri. Alhamdulillah acara pun berjalan dengan lancar. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat.

20150204_142406