Litha Kusuma Wardhani: “Suarakan cita-citamu, untuk menebar 1001 mimpi bangsa Indonesia.”

Act a like lady things like a boss. Siapa bilang jadi wanita tidak bisa kemana-mana dan melakukan apa-apa? Buatku jadi wanita harus banyak action, karena semakin banyak kita beraksi, semakin pula kita bisa mengeksplore diri kita lebih jauh. Halo Wovger! Perkenalkan nama saya Litha Kusuma Wardhani, lahir di Jakarta, 9 Februari 1996 dan sekarang saya aktif menjadi seorang mahasiswa semester 4 di Universitas Negeri di Jakarta. Ditanya soal cita-cita aku ingin menjadi Public Figure masyarakat Indonesia untuk berani bermimpi dan jangan takut melangkah. Dari kecil aku ingin sekali menjadi seorang yang menginspirasi untuk banyak orang, khususnya anak-anak, karena aku sangat suka dengan anak-anak.

Hobi saya adalah traveling, teaching, drawing, design, dan juga modeling. Saya seringkali bingung hal mana yang paling menonjol pada diri saya sendiri, karena pada dasarnya saya terlampau aktif, dan hingga kini saya aktif di kelima hal tersebut. Kata orang kita harus fokus, ya saya fokus untuk mewujudkan cita-cita saya menjadi Public Figure, dan mimpi tertinggi saya adalah menjadi Miss Universe. Saya tidak takut untuk mewujudkan mimpi itu, karena berlangsung 2-3 tahun lagi saya akan mencoba mimpi itu untuk menjadi nyata.

Litha Kusuma Wardhani ada di youtube

Sejak saya SMP, saya mulai mencari jati diri, saya selalu lima langkah lebih maju ketimbang teman-teman saya, dan saya percaya itu semua akan terwujud dengan keyakinan dalam diri saya sendiri. Saya belum banyak mengelilingi nusantara, tapi saya sudah cukup banyak berkunjung langsung ke sebuah petualangan tentang hidup. Awalnya mama saya ingin sekali ikut class modeling, dan pada akhirnya saya waktu SMP mengikuti beberapa contest iklan dan catwalk, dan beberapa diantaranya saya pernah meraih kemenangan 16 besar Finalis Gadis Sampul, None Favorit Tingkat sekolah, 5 besar WRP model hunt, Japan Festival kebudayaan 2011, 1st place I’m Belia I’m Fabulous, dan sekarang saya lolos seleksi casting Bintang Cita-citaku — sebuah film layar lebar (tahap 2).

Selepas SMP saya mulai berani lebih jauh mencari apa passion saya yang sebenarnya, akhirnya karena saya pribadi yang aktif, menyenangkan, ceria, dan juga usil, mama saya ingin saya ikut cheerleaders, and finally karena saya bertubuh kecil, sayalah yang terpilih menjadi flyer. Saya senang memenangkan lomba cheerleaders. Di sekolah tim cheers saya pelopor berdirinya cheers sekolah dan tidak menyangka bahwa pengalaman pertama kali kita lomba, kita sang juara Forum Cheerleader Indonesia. Dan ada sedikit cerita bahwa saat itu kaki saya sedang terkilir, namun saya tetap optimis bahwa saya bisa melakukannya dalam keadaan kaki saya yang sakit. Semangat saya terlalu berkobar hingga rasa sakit itu tidak saya rasakan.

Litha Kusuma Wardhani bersama teman-teman

Di lain hal saya pribadi yang sangat sangat suka mendongeng, men-design buku anak-anak, berbagi dengan anak-anak, me-manage event tentang anak-anak, berkomunikasi dengan anak-anak, dan saya sangat perduli dengan isu pendidikan. Saya merasa moral anak bangsa masa kini cenderung buruk, mereka mengenal hal yang seharusnya belum mereka kenal, hingga akhirnya mereka terjerumus pada hal yang membuat kekhawatiran untuk banyak pihak.

Dan itulah sebabnya saat pendaftaran SNMPTN (Jalur Undangan) saya keukeuh untuk berjibaku di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Jurusan Teknologi Pendidikan. Yap karena saya perduli dengan pendidikan dan ingin memfasilitasi anak-anak dengan media yang saya buat, di sinilah saya akhirnya memutuskan belajar. Dan tidak menyangka bahwa dari 360 siswa, saya adalah 60 siswa yang terpilih di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di jalur yang sangat menyenangkan, tanpa test dan tanpa mengeluarkan banyak biaya, dan sontak mama saya sungguh bangga dengan saya. Bukan hanya karena saya terpilih di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Melainkan karena saya memiliki mimpi-mimpi yang jelas untuk negara.

Litha Kusuma Wardhani di taman

Begitu saya akhirnya resmi menjadi Mahasiswi UNJ, saya banyak menghabiskan waktu untuk menjadi panitia kampus, namun karena saya sadar kekurangan saya adalah cepat bosan dengan sesuatu, saya akhirnya berani untuk aktif di luar kampus dengan mengikuti kegiatan volunteer. Awalnya mama saya keukeuh tidak setuju, dikarenakan hal yang sederhana “Volunteer itu tidak dibayar, dan ketika saya peduli dengan banyak orang, saya melupakan diri saya sendiri.”

Namun saya mengusahakan untuk tidak lupa diri saya sendiri, bahwa di lain hal saya tetap bekerja sebagai model dan di lain hal saya menggunakan modal yang saya raih dengan keringat saya sendiri untuk saya alokasikan untuk hobi saya. Dan hobi design saya juga cukup menjanjikan untuk keberlangsungan hobi saya. Banyak teman dekat saya yang memesan scrapbook saya. Scrapbooking is work with heart, dan dari sudut manapun saya bergelut, saya selalu bekerja dengan hati. Pilihan saya adalah pilihan yang memang saya rancang untuk masa depan saya.

Litha Kusuma Wardhani diliput Metro TV

Dan sejauh ini, meskipun saya aktif pada non akademik, saya tidak pernah melupakan akademik saya. Beberapa semester yang sudah saya lewati saya tidak pernah meraih Indeks Prestasi saya (IP) di bawah 3,25. Saya sangat bersyukur akan itu. Saya sangat bersyukur saya telah meraih banyak hal yang tidak semua orang dapat meraih semua hal ini. Saya aktif di SOS Children Village, sebuah yayasan yang merawat anak untuk dibesarkan dan dijadikan orang yang berdedikasi untuk negeri ini. Di sana wadah saya untuk membantu anak-anak kecil meraih cita-cita mereka. Di lain tempat, saya juga banyak mencari kegiatan kepemerintahan, salah satunya saya berhasil goal untuk menjadi volunteer di Dinas Pendidikan, membantu mereka survey lapangan untuk monitoring Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Bersama anak-anak, saya pernah bersama Sekolah Mater (Masuk Terminal) untuk menjadi pemandu anak-anak saat jalan-jalan. Di sana saya terharu waktu berpisah dengan saya raut wajah mereka sedih. Ah saya kangen dengan murid-murid itu — yang saya ajarkan menggambar.  Atau saya juga terharu dengan Dilts Foundation sebuah rumah singgah, mereka jalan-jalan nganterin aku dari rumah singgah ke Angkot, kemudian kita nyanyi, ngobrol, bercanda dan juga melalui rel kereta, terus pas saya naik angkot, mereka teriak kenceng dan excited banget.

Litha Kusuma Wardhani memeluk pohon

Atau mungkin saya punya pengalaman yang lebih membuat saya miris juga ketika saya menanamkan materi tentang menabung, mereka semua diam dan tidak bersuara. Ternyata mereka untuk sehari-hari aja udah pas, dan untuk ditabung tidak ada sisa. Di situ hati saya bagai disudut sembilu dingin balok es. Rasanya saya cengang mendengar “kak, tapi seminggu hanya 6000 dan hanya bisa buat uang kas dan keperluan sekolah.”

Ketika kalian ingin menjadi volunteer, percayalah, kalian tidak dibayar untuk ini. Tapi pengalaman hidup yang kalian dapatkan sungguh luar biasa.

Litha Kusuma Wardhani iklan

Namun ketika saya terjun lebih jauh, jiwa volunteer saya, ternyata saya mendapat benefit dari hal lain seperti menjadi pengisi radio KBR atau wawancara dari Metro TV, dan saya tidak menyangka mendapat sebanyak itu. Terimakasih ya Allah. Intinya ketika kalian melakukan sesuatu harus didasari dengan rasa senang, sehingga dalam menjalankannya pun takkan terasa berat. Dan satu hal lagi yang saya sangat bangga ketika saya terpilih menjadi Volunteer Kemendikbud  DARI 507. Saya menjadi  1 dari 70 lainnya dan yang tidak saya sangka adalah saya yang termuda untuk menjadi salah satu volunteer. Juga bisa berhadapan langsung dengan Pak Anies Baswedan, yes you are good person, Sir! Terimakasih untuk menginspirasi saya untuk bermimpi lebih jauh lagi. Saya percaya ini adalah pendobrakan awal untuk perlahan saya meraih cita-cita saya yang bergitu tinggi. Guys, teruslah kalian beraksi jadi apapun itu, karena ketika kalian mengasah diri kalian, kalian semakin mengenal diri kalian, dan semakin pula kalian sadar bahwa diri mu adalah cerminan semangat pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan, teruslah berkaya, jadi apapun itu! #IniCeritaku  – Karena aku tidak ingin biasa-biasa saja, tapi ingin menjadi luar biasa.

At Museum Layang-Layang Indonesia