Eka Sri Wulandari: “Selalu ada cerita di balik sebuah perjalanan.”

Aku bukanlah seorang traveller, tetapi aku hanya orang yang suka melakukan perjalanan. Kecintaanku pada jalan-jalan mungkin sudah dirasa terlambat. Bagaimana tidak, saat ini usiaku menginjak 26 tahun. Usia di mana tidak ada lagi waktu untuk bermain-main, tapi sudah saatnya memikirkan masa depan. Menikah, menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu, yah itulah kodrat seorang wanita.

Tapi hal itu tidak lantas membuatku mengurungkan niat untuk bisa melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia, terlebih lagi menuntaskan Pulau Jawa. Kenapa hanya pulau jawa? Tidak, cita-citaku tidak hanya pulau jawa saja, tetapi mengelilingi Indonesia. Step by step, karena saat ini fokusku tidak hanya untuk jalan-jalan saja.

Mengapa aku lebih suka menyebut diriku sebagai orang yang suka jalan-jalan daripada traveller? Karena sebenarnya aku sendiri belum mengetahui apa arti sebenarnya dari traveller, dan aku merasa pengalamanku ini masih sangat secuil. Ah sudahlah, traveller atau bukan, itu hanya sebatas julukan saja.

Eka Sri Wulandari Purwodadi, 29 Januari 1990

Eka Sri Wulandari
Purwodadi, 29 Januari 1990

Awal mula aku jatuh cinta pada jalan-jalan, ketika pertama kali di tahun 2013 aku memutuskan untuk melakukan hal yang baru yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya bersama dengan seorang teman perempuanku. Domisiliku saat ini di ibu kota, ditambah lagi dengan rutinitasku di kantor, membuatku sedikit bosan dan jenuh hingga pada akhirnya aku ingin merasakan suasana baru di kota lain. Kota yang kupilih pertama kali untuk sekedar singgah adalah Yogyakarta. Kota yang sangat terkenal dengan keindahan tempat wisatanya. Tempat yang sudah lama sekali aku impikan, aku ingin sekali melihat betapa megahnya Candi Borobudur dan betapa indahnya Pantai Parangtritis yang sudah sangat sering aku dengar ceritanya dari orang-orang di sekelilingku, juga bagaimana suasana jalan Malioboro di malam hari. Hingga pada akhirnya aku pun bisa melihat secara langsung dan merasakannya.

Kompleks Candi Borobudur - Magelang

Kompleks Candi Borobudur – Magelang

Dari pengalaman pertamaku itulah, akhirnya aku merasa jatuh cinta dengan jalan-jalan, sehingga aku ingin pergi ke tempat-tempat lain di kota-kota lain untuk melihat betapa sebenarnya negara Indonesiaku ini sangatlah indah.

Tahun 2014 aku kembali lagi ke kota gudeg, kali ini bersama 3 orang lainnya yang salah satu dari mereka adalah teman dekat lelakiku, kami berempat kembali menyusuri tempat-tempat yang menjadi icon kota tersebut seperti Keraton, Taman sari, Candi Prambanan, Candi Ratu Boko dan Pantai Kukup. Setelah perjalananku yang kedua, rasa ingin menjelajahi setiap cuil keindahan Indonesia terutama Pulau jawa (sebenarnya sih lebih karena murah..hehehehe) semakin kuat dan lebih kuat lagi.

Kompleks Candi Prambanan - Yogyakarta

Kompleks Candi Prambanan – Yogyakarta

Tahun 2015 aku mulai melakukan perjalanan lagi, kali ini tema perjalananku adalah alam bebas dan aku memutuskan untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah bersama partner setiaku yang InsyaAllah juga akan menjadi Imamku kelak. Pemandangan dataran hijau yang diselimuti kabut sepanjang hari seolah-olah membuatku merasa di atas awan, ya… memang tidak salah jika tempat ini dijuluki Negeri di atas Awan. Untuk pertama kalinya aku melakukan pendakian seumur hidupku, walau yang kudaki ini hanyalah sebuah bukit tempat di mana kita bisa melihat golden sunrise yaitu Bukit Sikunir. Lelah, letih, habis nafas, ditambah bobot tubuhku yang membuat pendakianku semakin terasa berat  dan rasanya ingin menyerah saja saat itu, tetapi aku ingat niatku adalah untuk melihat setiap keindahan ciptaan Tuhan yang ada di negaraku ini, dan hal itu yang membuatku semangat dan terus berjuang sampai akhirnya aku bisa mencapai puncak bukit dan menantikan sang fajar perlahan-lahan mengintip dari celah-celah awan. Ada sedikit rasa kecewa ketika aku tidak bisa mendapatkan golden sunrise seperti yang banyak orang katakan, karena keadaan kabut saat itu lumayan tebal, tetapi hal itu tidak menghilangkan rasa takjubku pada pemandangan di depanku. Saat itu yang ada di pikiranku adalah betapa kecilnya aku sebagai seorang manusia di hadapan Allah sang pencipta alam semesta.

Sunrise Bukit Sikunir - Dieng

Sunrise Bukit Sikunir – Dieng

Masih di tahun yang sama, di akhir tahun 2015 aku kembali melakukan perjalanan ke sebuah kota kecil di Purwokerto, Jawa Tengah. Setiap mendengar kata Purwokerto, pastilah langsung teringat dengan wisata alam Baturraden. Kembali aku melakukan perjalanan bersama seorang teman perempuanku dan partner setiaku. Di sana aku kembali dihadapkan dengan bentangan alam yang indah dan udara yang sejuk, yang tidak bisa aku rasakan selama aku tinggal di ibu kota. Tak ada kata yang dapat terucap kecuali puji-pujian bagi Allah sang maha pencipta alam semesta ini.

Batu Ratapan Angin - Dieng

Batu Ratapan Angin – Dieng

Perjalananan demi perjalanan yang aku lalui dari satu kota ke kota lain menyisakan kesan tersendiri bagiku. Banyak hal-hal positif yang bisa kuambil dari perjalanan ini, di mana aku belajar untuk hidup mandiri dalam mempergunakan uang yang kubawa, agar cukup sampai aku kembali lagi ke ibu kota, belajar untuk menghargai waktu dan memanfaatkan waktu jalan-jalan yang ada semaksimal mungkin, serta belajar untuk menjadi manusia yang berbeda dan mulai berani melakukan hal-hal yang baru di luar rutinitasku yang seperti pepatah mengatakan “Bagai Katak dalam Tempurung” dan sebagai bentuk rasa sayang terhadap diri sendiri yang setiap hari hanya berkutat dengan komputer.

Alam mengajarkan kita banyak hal, salah satunya adalah bagaimana kita sebagai manusia tidak bisa menentang kehendak alam, walaupun perjalanan sudah di rencanakan di musim kemarau agar bisa melihat sunrise, tetapi nyatanya tetap saja sunrise-nya tertutup kabut. Selain itu juga alam mengajarkan bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, termasuk juga dengan suhu udaranya, kalau biasa di Jakarta panasnya sampai buat sakit kepala. Lain ceritanya kalau di Dieng, justru udara dinginnya yang bisa buat kepala migrain, karena suhunya bisa minus jika musim kemarau.

Baturraden - Purwokerto

Baturraden – Purwokerto

Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan terus belajar, bagiku belajar tidak harus melulu melalui jalur akademik, kini saatnya aku belajar melalui alam sekitarku, melalui perjalanan-perjalananku. Karena alam akan memberikanku banyak cerita di setiap perjalananku, dan mengajariku banyak hal yang tidak aku dapatkan dari bangku sekolah atau kuliah, serta menjadikanku sebagai pribadi yang lebih bisa bersyukur dan lebih mencintai alam ini. Aku pun tak akan berhenti sampai di sini saja, selama aku masih bernafas, selama raga ini masih kuat berjalan bahkan berlari, aku tak akan pernah lelah untuk selalu melakukan perjalanan ke setiap sudut kota di negaraku Indonesia. Percayalah bahwa selalu akan ada cerita di balik sebuah perjalanan.