Siti Fathonah: “Skenario Allah SWT jauh lebih indah dari yang kita sangka.”

AKU DAN SKENARIO ALLAH SWT

من جد و جد

Teringat perjuanganku dulu saat memperjuangkan untuk bisa masuk di sebuah Perguruan Tinggi dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ku awali serentak mengikuti SNMPTN. Menunggu hasil. Saat pengumuman tiba, kubuka website namun hasilnya tak seperti yang diharapkan, TIDAK DITERIMA — yang saat itu memilih UI Jurusan Sastra Arab dan UIN Bandung Pendidikan Bahasa Arab. Aku shock. Pun SPAN PTAIN, aku memilih di UIN Bandung & Yogja, hasilnya pun TIDAK DITERIMA. Lanjut ku berjuang belajar dengan jurusan yang bertentangan dengan studi SMA-ku dari IPA.

Allah ingin melihatku berusaha. Aku mengikuti ujian SBMPTN. Kudapatkan dorongan yang cukup kuat dari keluargaku. Di antarnya aku ke tempat ujian dengan Ibuku tercinta. Alhasil, kala sore itu pengumuman, Allah TAK mengizinkanku lolos dalam ujian ini. Kembali aku TIDAK DITERIMA. Rasa down ku kembali muncul. Aku menangis tak karuan. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Ternyata Allah ingin melihat usahaku lagi.

Bapakku menyarankan untuk ikut Tes Di Universitas Gunadarma. Sore itu pula, aku berkutik di laptop untuk mendaftarkan diri dan pergi ke ATM untuk registrasi. No. Peserta dan jadwal ujian sudah ada di tangan. Ibuku lagi yang mengantarkanku ke Depok. Stasiun demi stasiun kami singgahi. Tanya alamat ke sini kemari. Sebuah ruangan di lantai 3 terdapat 20 layar monitor menunggu kedatangan kami, peserta ujian. Hujan kala itu menemani.

Siti Fathonah lagi

Setelah itu, menunggu hasil yang tak tentu. Ku hanya bisa berharap dan berdo’a agar mendapat hidayah-Nya. Sambil menunggu, ku berjuang kembali mendapatkan jurusan Pendidikan Bahasa Arab itu, di Universitas Indonesia. Yang dibilang Universitas bergengsi. Aku memberanikan diri mendaftar SIMAK UI dan Ibuku kembali yang mengantarkanku ke sebuah alamat di Bekasi, untuk melaksanakan ujian tulis. Soal-soal sosial yang begitu rumit bagiku. Di lantai 3 ku berjuang.

Pengumuman Universitas Gunadarma telah tiba. Ibuku yang mengambilnya sendiri di Depok saat itu. Kami buka amplopnya di rumah. Dan alhasil, Aku DITERIMA di jurusan Bahasa Inggris dan Psikologi, saat itu ku pilih. Dengan predikat AA. Jangka waktu untuk diambilnya itu masih lama. Aku harus memikirkan ke depannya, apa aku harus mengambilnya atau menolaknya.

Lanjut Ujian tes di Universitas Singaperbangsa Karawang yang saat itu ku ambil Pendidikan Bahasa Inggris. Setelah Aku mengikuti ujian. Kemudian ada tes toefl juga, namun Aku tidak ikut tes toefl karena jadwal yang bentrok dengan ujian tulis UM-PTAIN, karena Aku keukeuh memilih UIN. Akhirnya aku tinggalkan UNSIKA.

Ujian UM-PTAIN, aku mendaftarkan diri lagi untuk memperjuangkan Pendidikan Bhs Arab itu di 2 pilihan UIN yang sama seperti SPAN-PTAIN. Saat itu, Ujian tulis dilaksanakan 2 hari. Aku harus tinggal di mana di Bandung nanti, tempat yang aku pilih untuk ujian. Akhirnya saya hubungi Teman Mas Afik, yaitu Kak Syfa yang berbaik hati mengizinkan aku untuk tinggal di Kost’an nya. Aku berangkat kali ini ditemani kakakku, Mba Siti. Aku mengikuti ujian UM-PTAIN di UIN Bandung. Dengan kuat do’a dari keluarga, mbah, Lek dan saudara-saudaraku. 2 hari terlewati. Tiba-tiba ada informasi bahwa besok terakhir pendaftaran Ujian MANDIRI UIN Bandung. Karena ketidakoptimisannya, aku mendaftarkan diri lagi. Dengan persyaratan-persyaratan yang ada di tas. Aku hubungi orangtua. Bapakku mentransfer uang untuk biaya pendaftarannya. Kali ini aku tidak mengambil Pendidikan Bahasa Arab. Mengingat ditolaknya di jurusan tersebut, aku memilih jurusan Bahasa dan Sastra Arab dan Fisika. Aku daftar untuk ikut Ujian MANDIRI UIN Bandung.

Siti Fathonah

Aku kembali ke rumah. Dan tiba saatnya, pengumuman SIMAK UI. Kubuka website, ku ketik No. Peserta. Hasilnya, menyedihkan. Kali ini tidak terlalu shock. Mungkin karena sebelumnya aku sering ditolak oleh Perguruan Tinggi. Terdengar berita bahwa ada Bimbingan Tes (Bimtes) sebelum dilaksanakan Ujian Mandiri. Aku izin ke orangtua. Dan saat itu mendadak aku dan teman dari SMA yang belum kukenal sebelumnya, berangkat bersama sore itu dengan Mujib. Dengan rasa khawatir, orangtua melepasku sendiri untuk berangkat ke Bandung. Rasa takut yang menemani saat itu, bulan puasa. Aku mengikuti Bimtes selama 8 hari dilanjutkan dengan Ujian Mandiri. Aku belajar dengan keras bersama Bimtes Kempaka (Kelompok Mahasiswa Pelajar Karawang). Ujian MANDIRI pun berlangsung. Duduk paling pojok belakang sebelah kanan. Aku mengisi lembar soal dengan hati-hati. Ujian selesai, Aku kembali ke rumah. Mungkin ini Ujian terakhir yang Aku ikuti. Aku tinggal menunggu 2 hasil dari UM-PTAIN dan Ujian Mandiri UIN Bandung.

Masih kuingat, malam menjelang tanggal 22 Juli 2014, Ibuku sedang membuat kue untuk Hari Raya nanti. Kakakku sedang makan mie, dan Bapakku sudah tidur dengan lelap. Jam hampir menunjukkan pukul 00.00. Aku buka website pengumuman UM-PTAIN via handphone. Kuketik Nama dan No. Peserta. Dan apa yang tertulis di sana? Sangat mengejutkankan bagiku. Kurang percaya dengan hasil tersebut. Kubuka laptop tercinta. Langsung kutulis kembali nama dan no.peserta. Memang. Hasilnya sama seperti yang terlihat di hp. Tertulis,

  • No Tes : 14319200343
    Nama : SITI FATHONAH
    Selamat Anda DITERIMA di Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Hentak hati bahagianya bukan main. Di situ ku menangis. Gak nyangka bakal diterima. Ku bangunkan Bapak, memberitahukan kabar gembira itu. Bapak memberi selamat kepadaku. Bapak menyuruhku pagi itu untuk validasi ke UIN Bandung. Padahal, masih ada pengumuman 1 lagi. Tapi Bapak sudah terlalu semangat karena anaknya sudah diterima. Tidak usah menunggu apa-apa lagi.

Pagi, kami sekeluarga meluncur ke UIN Bandung. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan angkutan Primajasa, sampai juga di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di gedung Jami’ah lantai 3, Aku validasi. Selesai validasi. Ada yang menawarkan sebuah tempat tinggal Asrama/ Ma’had. Sebelumnya, kami melihat kelasku belajar nanti di perkuliahan. Nanti Aku akan belajar di gedung ZB lantai 3. Akhirnya kami mendatangi langsung ke Ma’had Al Jami’ah. Ternyata ma’had tidak jauh dari kelas. Aku daftar gelombang 2. Dan ada tes selanjutnya untuk bisa masuk ke ma’had itu. Setelah itu kami foto-foto dengan melebarkan bibir dengan penuh rasa bahagia. Kami pun pulang ke rumah.

Besoknya. Tanggal 23 Juli 2014, pengumuman Ujian MANDIRI UIN SGD Bandung. Kubuka website, dan hasilnya Aku DITERIMA di jurusan Bahasa dan Sastra Arab lagi. Pun merasa bahagia sekali.

Siti Fathonah lagi bareng ibu

Singkat waktu, Aku diantar Ibu mengikuti tes masuk Ma’had Al Jami’ah. Bahasa Arab 100 soal, Bahasa Inggris 80 soal dan Quisioner yang diujikan saat itu.

Pengumuman tiba. Aku DITERIMA untuk tinggal di Ma’had Al Jami’ah. Kupersiapkan segala hal untuk merantau ke Bandung. Tgl 25 Agustus 2014, Aku diantar Ibu dan Bapak ke Ma’had Al Jami’ah untuk menetap selama 1 tahun. Aku lihat papan pengumuman di kamar mana ku bisa berteduh. Ternyata Lantai 3, kamar 3A tempat berteduhku.
Aku berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberiku banyak sekali pelajaran dan hikmah. Serta menjadi tempat bersandar kala ku rapuh.

Aku berterima kasih kepada orangtua, Kakak, Mbah, dan saudara-saudaraku telah menjadi penyemangat dan mendampingi agar saya tetap kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan. Begitu juga, aku berterima kasih kepada Guru-guru, sahabat-sahabat dan teman-teman atas do’a dan dukungannya. Lantai 3 menjadi tempat bersejarah bagiku. Dan aku percaya bahwa ada pepatah mengatakan :

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian

Firman Allah SWT, surat Al-Baqarah ayat 216 :

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Tuhan tidak pernah terlambat, Dia juga tidak pernah tergesa- gesa. Dia selalu tepat waktu !!

“Skenario Allah SWT jauh lebih indah dari yang kita sangka.”