Edde Enovani Iwo: “Di sini sunyi, tapi aku tak merasa sepi.” (Wisata ke Baduy)

Dulu sewaktu masih duduk di kelas  1 SMA, guru Sosiologiku pernah menjelaskan kepadaku dan kepada temanku yang lainnya mengenai Suku Baduy. Beliau pernah bilang:

“Anak-anak, di era globalisasi dan modernisasi ini, yang datang bagaikan pisau bermata dua. Memang mendatangkan efek positif seperti kemudahan dalam mengakses informasi. Tetapi asal kalian tahu, mereka juga membawa efek negatif. Dengan adanya globalisasi dan modernisasi, seperti masuknya arus modal pembangunan yang merusak lingkungan dan masuknya budaya asing, kadang mengikis perlahan budaya asli masyarakat Indonesia. Nah tetapi, ada salah satu budaya yang paling dekat dengan kita, yaitu suku Baduy. Mereka bisa dibilang mengharamkan modernisasi masuk ke dalam wilayah mereka. Boro-boro handphone, lampu saja mereka tidak punya. Mereka tidak pernah menggunakan alas kaki untuk bepergian. Nanti kelas 3 kalian akan ibu ajak untuk mengunjungi suku Baduy ya, agar kalian bisa belajar tentang kebudayaan mereka yang unik,” kata Bu Erni seperti memberikan harapan tinggi kepada murid-muridnya, termasuk aku.

Dan ternyata saat aku duduk dikelas 3, “Jalan-jalan ke Baduy” tidak dapat terealisasi dengan alasan seperti ini:

“Begini anak-anak, kalian kan sudah kelas 3 ya, sudah saatnya sibuk untuk persiapan Ujian Nasional dan Ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Jadi manfaatkan saja waktu kalian untuk belajar.” Ternyata diberi harapan palsu itu memang menyakitkan. #loh

Jadi aku mau cerita, kalau akhirnya aku bisa merealisasikan “Jalan-jalan ke Baduy” 6 tahun kemudian. Yeaaaay!!! Pada tanggal 27 dan 28 Februari 2016 kemarin, aku nekat ikut open trip sendirian dari salah satu travel yang membuka perjalanan ke suku Baduy dengan budget hanya 185.000 rupiah. Murah kan?!!! Itu sudah include semuanya loh. Makan, guidehomestay di rumah penduduk, tiket kereta dari stasiun Duri-Rangkasbitung dan Rangkasbitung-Duri, dan sewa mobil dari Rangkas Bitung ke desa Ciboleger. Amazing!

Meeting point di St. Duri untuk melakukan registrasi ulang pada pihak travel. Awalnya sedikit awkward. Karena rata-rata yang mengikuti trip ini membawa sedikitnya 2 orang. Dan aku sendirian. Modal nekat dan sok tau. Tapi karena memang pada dasarnya aku termasuk orang yang mudah bergaul, jadi aku langsung saja memperkenalkan diri kepada teman-teman trip ku ini.

Stasiun Rangkasbitung, 11.45 WIB

Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam, berada di gerbong kereta ekonomi yang cukup nyaman dan ber-AC, walau tempat duduknya keras, aku dan rombongan tiba di stasiun Rangkasbitung, Banten. Daerah yang aku ketahui sebelumnya karena sebuah foto hitam putih Soekarno yang berkunjung ke ibukota Lebak dengan menggunakan kereta api uap dan kisah seorang asisten Residen Lebak bernama Edward Douwes Dekker. Dan ini adalah kali pertama aku menginjak stasiun ini. Boro-boro stasiun Rangkasbitung. Stasiun Palmerah saja belum pernah (karena aku bukan commuterline user). Desain bangunannya terlihat sangat tua. Terlihat cat dinding yang sudah mengelupas dan tidak terawat. Sayang sekali.

Pihak travel menyediakan 1 mobil elf dan 1 mobil angkutan umum untuk mengangkut rombongan. Bahkan dengan tambahan 1 mobil angkutan umum, masih ada beberapa laki-laki yang duduk di atas kap mobil, karena banyaknya muatan yang tidak memungkinkan lagi menampung penumpang di dalam mobil. Jalan menuju Ciboleger nyatanya tidak semulus yang aku bayangkan. Kita harus melalui ruas jalan yang cukup sempit, masih berbatu-batu, menanjak, dan bahkan kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Maka untuk melewati jembatan tersebut, mobil-mobil harus antri. Sang supir pun harus ekstra hati-hati, karena jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk nyemplung ke sungai. Perjalanan yang cukup menegangkan.

Setelah perjalanan menegangkan, kami tiba di warung rumah warga (aku lupa nama daerahnya) yang jelas daerah ini merupakan rute yang akan dilewati menuju desa Ciboleger, salah satu pintu masuk menuju Suku Baduy. Di warung tersebut, sang pemilik menyediakan bale (terbuat dari bambu) untuk tempat duduk para pembeli. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ternyata sudah ada beberapa perwakilan dari Suku Baduy yang menyambut kami. Aku takjub melihat mereka secara langsung. Mereka menggunakan kain di kepala berwarna putih tulang. Ada yang mengenakan baju berwarna putih dan ada juga yang hitam. Mereka tidak menggunakan alas kaki. Terlihat di tangan mereka membawa contoh kerajinan tangan khas suku Baduy yang sudah menjadi perhatianku sejak aku tiba.

“Mas, eh kang ya. Itu tasnya boleh lihat nggak? Lucu..”

“Ini namanya tas Kepek Neng. Biasanya kita pakai kalau mau ke  kota. Naruh baju di sini sama bekal untuk ke kota. Juga dipakai untuk penyerahan mas kawin,” kata Fulung, seorang remaja yang memiliki kulit sedikit gelap dibanding teman-teman yang lainnya.

“Waah, dibuat dari apa ini Kang?”

“Ini dari daun sarai, rotan, kulit pohon teureup, dan kulit pohon handam Neng. Trus ada sedikit anyaman bambu.”

Yang aku pakai adalah tas kepek khas Baduy

Yang aku pakai adalah tas kepek khas Baduy

Lalu selanjutnya, mereka akan menjadi guide sekaligus porter. Namun aku memilih tidak menggunakan jasa porter karena beban yang aku bawa dalam tas tidak terlalu berat. Lagian aku juga sudah terbiasa berjalan kaki dan membawa tas ketika hiking. Aku ingin merasakan bahwa perjalanan panjang yang akan dilewati tidak mudah. Apalagi ditambah dengan beban di pundak. Namun pada kondisi demikian aku berjuang, aku berusaha, dan aku berkeyakinan bahwa aku bisa melalui setapak demi setapak jalan yang dilewati.

Perjalanan menuju tempat tinggal suku Baduy dimulai dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak, melewati perkebunan, sungai, jalan-jalan yang berliku, menanjak dan menurun, melewati kampung-kampung Baduy luar dan hutan lindung. Perjalanan dengan banyak cerita, inspirasi dan perjuangan dan emosi diuji. Di tengah perjalanan, rasa lelahku dan yang lainnya sangat terobati dengan adanya jembatan akar. Jembatan akar adalah jembatan yang menghubungkan suku Baduy dengan ‘dunia luar’. Untuk melewati jembatan ini, maksimal adalah 2 orang. Karena jembatan ini alami. Tidak menggunakan paku dan alat perekat lainnya. Murni hanya akar yang merekatkannya.

Jembatan Akar

Jembatan Akar

 

Ciboleger, 17.15 WIB

Sebenarnya tidak perlu sebegitu lama untuk sampai di desa Ciboleger ini. Namun karena niat dari guide yang ingin menunjukkanku dan teman yang lainnya pemandangan yang indah dan tempat-tempat bagus lainnya untuk sekedar berfoto ria, membuat perjalanan ini begitu panjang dan melelahkan. Apalagi selama di perjalanan aku dan rombongan sempat terguyur hujan yang cukup deras.

Leuit digunakan suku Badui untuk menyimpan padi

Leuit digunakan suku Badui untuk menyimpan padi

 

“Kang itu rumah penduduk? Kecil banget ya, Kang. Apa muat buat sekeluarga?” tanyaku pada Kang Jali, sebelum kami tiba di desa Ciboleger. Kang Jali adalah yang paling tua diantara guide kami yang lainnya.

“Bukan Neng. Itu namanya Leuit. Lumbung padi. Penduduk di sini tidak boleh menjual beras. Jadi berasnya disimpan di situ. Karena semua penduduk di sini mengolah lahan dan menghasilkan makanan sendiri. Jadi kalo panen, selain buat dimakan, padi juga disimpan untuk tabungan jangka panjang sampai puluhan tahun.” Aku hanya bisa menganga takjub mendengar penjelasan Kang Jali.

Ternyata setelah perjalanan yang sangat panjang, kami baru tiba di suku Baduy Luar. Pantas saja aku jarang menemukan warga yang mengenakan pakaian seperti Kang Jali, Fulung, Sapri, dan guide kami yang lainnya. Ternyata ada perbedaan yang cukup signifikan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Luar secara kasat mata sudah memiliki kebiasaan hidup sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya: memiliki kendaraan seperti motor, memiliki perhiasaan, memakai baju seperti orang kota, dan secara umum sudah tersentuh dengan teknologi informasi. Sementara Suku Baduy Dalam masih menjaga nilai-nilai luhur seperti tidak boleh membangun rumah dengan semen atau paku, tidak boleh menggunakan kendaraan apabila berpergian, tidak boleh hidup berlebihan, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dipertahankan semata-mata karena mereka sangat menghargai amanah dari leluhur mereka. Banyak hal yang membuat mereka tetap bertahan dengan tradisi mereka yang mungkin sebagian orang menganggapnya agak sedikit primitif.

Hari mulai gelap. Kami semua menyiapkan senter untuk bergantian pergi ke kamar mandi. Walau masih kawasan Baduy Luar, penerangan lampu dan listrik juga belum ada di sini. Yang ada hanya di tempat kepala suku Baduy Luar atau kalau biasa di kota disebut sebagai ketua RT. Jadi jika ingin menonton televisi, mereka berbondong-bondong ke rumah kepala suku untuk menonton bersama, sambil bermain angklung dan bernyanyi bersama. Sungguh rasanya damai sekali berada di sini. Aku benar-benar melupakan hiruk-pikuk kota Jakarta. Mana bisa suasana seperti ini ditemukan di kota Jakarta. Yang di kamar saja sudah ada TV masing-masing. Suasana kebersamaan ini akan sangat langka bahkan tidak akan ditemukan jika aku di Jakarta.

Hujan deras mengguyur desa Ciboleger. Membuat langit semakin terlihat gelap bahkan tidak terlihat apapun jika tidak ada lampu petromax dan senter sebagai alat bantu penerangan rumah singgah kami. Waktunya makan malam. Ikan asin, telur ceplok, sayur asam, dan sambal buatan teteh sungguh menggoda indra penciumanku dan indra perasaku. Aku dan teman-teman tripku yang lain membantu teteh menyiapkan piring, sendok, gelas, dan air putih untuk kami makan malam bersama. Sayangnya, kami tidak bisa makan malam bersama teman trip yang laki-laki karena hujan yang turun begitu deras dan rumah singgah mereka yang berbeda 1 blok dari rumah singgah kami, para wanita.

Fulung dan Sapri ikut makan bersama kami. Mereka berdua adalah yang termuda diantara guide yang lainnya. Fulung berumur 19 tahun dengan kulit sedikit gelap, dan Sapri berumur 20 tahun dengan kulit putih, bersih, tanpa flek hitam, dan bibir yang pink alami tanpa pemoles bibir.

“Sapri, kamu ganteng banget sih? Kok bisa putih gitu sih kulitnya? Bagi dong resepnya..” tanya Septi, salah satu teman trip-ku.

“Iya, soalnya Sapri pakai Garnier. Sapri sempetin beli di Alfamart kalau lagi ke kota,” jawab Sapri polos.

“Hahahahahahahahaha…”

Malam itu, walau hujan deras terus mengguyur, gelap gulita tanpa bintang menghiasi malam, rumah singgah perempuan dihiasi dengan tawa dan canda karena adanya Fulung si bungsu yang pendiam dan Sapri si tampan nan polos.

Ciboleger 07.00 WIB

Pagi itu, aku sedikit kecewa karena kami tidak diperkenankan untuk masuk ke suku Baduy Dalam desa Cibeo, yang jaraknya kira-kira 12 kilometer dari desa Ciboleger. Dikarenakan sedang ada upacara adat yang tidak memperbolehkan pengunjung masuk. Upacara adat berlangsung kira-kira sampai pertengahan tahun. Aku tidak bertanya lebih lanjut upara apa yang mereka lakukan. Lagi pula, jika diperkenankan masuk pun, aku rasa waktunya tidak akan cukup. Karena hujan masih mengguyur desa Ciboleger hingga pagi ini.

“Trus kita ke mana dong sebelum pulang Kang? Huuu aku nggak mau ah kalo langsung pulang. Harus jalan-jalan dulu sebelum pulang,” kataku sedikit merengek.

“Yaudah yuk kalau mau jalan dulu sebelum pulang. Sekalian foto-foto di atas sana ada tempat bagus. Tapi sedikit nanjak nggak apa-apa kan?” tanya Kang Jali, disusul teriakan cempreng wanita-wanita teman trip-ku, kegirangan.

Dan kami pun berjalan menanjak batu-batuan yang besar dan licin karena hujan semalaman. Aku tidak tahu kalau treknya cukup sulit seperti ini. Tidak membawa persediaan minum, memakai sendal jepit untuk treking, dan hanya berbekal kamera SLR serta iPod untuk mendengarkan musik selama perjalanan. Cukup nekat.

Perjalanan sebelum kembali ke Jakarta

Perjalanan sebelum kembali ke Jakarta

 

Ahhhhhh aku selalu benci perpisahan. Setiap ada pertemuan pasti selalu ada perpisahan. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari trip singkatku ini. Fulung, Sapri, kang Jali, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah mengajarkan aku dan temanku yang lain tentang kesederhanaan, rendah hati, dan terima kasih sudah mempertahankan budaya, menjaga adat-istiadat dan tradisi kita. Terima kasih.

Di sini sunyi, tapi aku tak merasa sepi.