Koko: “Pendidikan adalah hal penting untuk mencapai kemajuan daerah maupun bangsa.” (Perjuangan anak kampung Madura menempuh pendidikan)

Pendidikan adalah hal penting untuk mencapai kemajuan daerah maupun bangsa. Pemerintah mewajibkan seseorang untuk mendapatkan pendidikan selama 9 tahun, meskipun demikian, mengingat Indonesia adalah salah satu anggota masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), tampaknya pendidikan selama sembilan tahun tidaklah memumpuni seseorang untuk bersaing di pasar bebas tersebut, karena itu saya rasakan sendiri.

Nama saya: Koko, asal saya: Madura. Pendidikan menurut saya sangatlah penting, saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Saya lima bersaudara dan saya anak bungsu. Perjuangan dalam pendidikan saya rasakan ketika saya ingin menginjakkan kaki di bangku menengah atas (sederajat) — karena kalau SD & SMP di desa saya masih gratis, kalau menengah atas sudah bayar.

Awalnya tidak pernah punya keinginan untuk melanjutkan sekolah ke SMA. Tapi pada suatu saat saya ada keinginan dan mimpi besar ingin merubah ekonomi keluarga. Jalan satu-satunya menuntut ilmu yang lebih tinggi, karena kebanyakan teman-teman sebaya saya lulusan SD dan SMP hanya jadi pedagang, tukang besi tua, dan lain-lain. Saya ingin merubah ekomoni keluarga. Akhirnya, pada saat itu, saya bilang ke ibu saya:

“Bu, Koko ingin melanjutkan SMA.”

Ibu awalnya diam, kemudian dia menjawab:

“Kita dapat uang dari mana nak, sedangkan buat makan kita masih susah.”

Tapi dengan tekad kuat, saya meyakinkan ibu saya. Ibu bilang mau dia usahakan, tapi dari sisi lain, setiap malam ibu saya menangis, karena buat persiapan awal (buat beli seragam) ibu tidak punya uang sama sekali. Ibu nangis sepanjang malam, dia bingung bagaimana cara belikan anaknya seragam sekolah. Akhirnya H-1 saya masuk sekolah. Waktu ibu saya terlelap, (alm) ayah saya datang ke dalam mimpinya dan berkata:

“Udah De’ gak usah di pikirin, anakmu bener-bener mau nuntut ilmu, bukan main-main. Orang yang niat menuntut ilmu pasti selalu dikasih kemudahan oleh Allah.”

Dari itu, beban pikiran ibu saya mulai berkurang. Alhamdulillah ada tetangga, kebetulan dia punya toko, dia mau memberikan hutang baju kepada ibu saya. Ibu saya sangat bahagia, karena berkat dia, saya punya seragam, dan ibu saya ngutang celana putih, pramuka, dan abu-abu. Alhamdulillah; baju putih, baju pramuka, sepatu dan buku, saya dikasih sama tetangga — yang baik sama keluarga saya. Walau ada beberapa tetangga yang sangat benci dikarenakan keluarga saya miskin sampai-sampai ada yang berkata:

“Ngapain sih tuh orang miskin mau sekolah lagi? Mending kerja, bantu ibunya cari duit, paling-paling gak bakalan naik kelas!” Dengan parahnya mereka berkata seperti itu .

E9522A6B870926F97441CB041511CB55.976

Tapi saya tak pernah berkecil hati, malah saya jadikan pecutan penyemangat. Akhirnya saya masuk ke salah satu sekolah menengah atas, dan saya sangat senang, walaupun dari rumah, kira-kira 4 kilometer. Saya jalan setiap hari. Saya jalan kaki dari rumah ke sekolah, dan tidak ada sedikitpun rasa keluh kesah. Di waktu senggang sekolah, saya cari kerja, bantu-bantu orang. Demi mencukupi kebutuhan sekolah, saya kerja apa saja, yang penting dapat uang halal buat sekolah. Terkadang, saya angkat beban yang sangat berat (seharusnya dikerjakan orang dewasa), tapi saya kerjakan demi sekolah.

Di sekolah, saya orangnya suka bergaul, jadi saya punya banyak teman. Selama sekolah, saya tidak penah yang namanya minta uang buat jajan kepada ibu, karena saya tahu, ekonomi ibu seperti apa. Alhasil, setiap di sekolah, teman-teman saya jajan, saya hanya bisa diam di kelas, baca-baca buku dan cari kesibukan. Walau ada teman saya mungkin merasa iba, kadang ada yang mengajak saya ke kantin, dibelikan makanan, ditraktir jajan, walau kadang sedih karena kebaikan teman saya. Tapi saya selalu bersyukur.

Waktu berjalan begitu cepat. Akhirnya saya mau naik kelas 2 SMA, dan waktu acara kenaikan, saya mendapatkan predikat siswa teladan. Bangganya ibu, karena saya bisa membungkam mulut orang-orang yang iri sama saya. Alhamdulillah saya mendapatkan piala dan piagam. Alhamdulillah, di kelas 2 SMA saya dibelikan motor bodong sama kakak saya yang jadi TKI di Arab. Mungkin dia merasa kasihan, melihat saya jalan kaki terus-menerus. Saya memakai sepeda pembelian kakak saya untuk sekolah. Selain saya gunakan untuk sekolah, juga saya pakai untuk ngojek, ngangkutin rumput tetangga. Yang penting saya dapat uang. Apapun akan saya kerjakan. Kadang sebelum berangkat sekolah, saya ngojek dulu. Atau pulang sekolah, saya ngojek dulu. Kebetulan, saya sekolah dari jam setengah 1 sampai jam setengah 5, dan saya mempunyai rasa bangga, karena saya tidak merepotkan ibu lagi untuk masalah biaya sekolah.

IMG_20151108_202828 (1)

Teman saya sudah memiliki HP, sementara saya cuma bisa melihat sedih dan tidak tega mau minta ke ibu. Akhirnya saya ngumpulin uang dari hasil ngojek — hasil kerja selama 6 bulan. Akhirnya, terkumpul uang 600 ribu, dan saya belikan HP. Saya senang karena udah punya HP sendiri dan beli dari hasil keringat sendiri.

Waktu berjalan dengan cepat dan saya mau kenaikan kelas ke kelas 3, dan alhamdulillah saya masih bisa mempertahankan predikat siswa teladan selama 2 tahun berturut-turut. Ibu saya bangga dan saya juga ikut senang karena ibu saya bahagia. Di masa-masa SMA ini, menurut saya adalah masa paling indah, karena saya pertama kalinya merasakan jatuh cinta, galau, merana, dan itu semua saya jadikan kenangan terindah di masa-masa SMA.

Saya memasuki puncak sekolah, yakni Ujian Nasional. Dan untuk mengikutinya, saya harus membayar 900 ribu; uang sebanyak itu, saya dapat dari mana? Ahirnya, saya memberanikan diri bilang ke ibu, dan ibu juga kaget. Kata dia:

“Ibu dapat uang (sebanyak itu) dari mana?”

Ahirnya, saya merelakan sepeda motor saya dijual, demi mengikuti ujian. Alhamdulillah, motor saya laku dan saya bisa ikut ujian. UN berjalan, dan saat pengumuman kelulusan, saya lulus dengan nilai memuaskan. Alhamdulillah juga, saya mendapatkan BEASISWA untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu perguruan tinggi di Malang. Rasa senang dan bersyukur saya panjatkan, karena gak nyangka, bakalan dapet beasiswa. Tapi di sisi lain, ada orang-orang yang iri dan tidak suka dengan keberhasilan saya, malah sampai tega berkata seperti ini:

“Iya, BEASISWA emang gratis. Tapi biaya hidup dan makannya, apakah juga gratis? Mikir dong! Kalau miskin, ya miskin aja, gak usah sok-sokan mau kuliah!”

Gara-gara itu — perkataan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, ibu saya meneteskan air mata. Saya juga geram. Akhirnya, saya mempersiapkan berkas-berkas buat BEASISWA. Setelah selesai saya kirim (berkas) ke Malang, saya menunggu kira-kira satu bulan untuk pengurusan berkas di kampus Malang. Kebetulan yang ngurus (berkas saya) profesornya langsung. Profesor itu temen kepala sekolah saya.

Singkat cerita, saya meninjau ke Malang sendiri. Tapi hasinya? Nama saya tidak terdaftar, karena profesornya lupa menyantumkan dan menyerahkan berkas ke kampus Malang. Alhasil, saya tidak terdaftar di kampus Malang.

Ibu saya sedih karena saya tidak jadi kuliah, dan orang-orang yang iri sama saya, menari-nari di atas penderitaan saya — karena saya tidak terdaftar di kampus. Tak lama kemudian, akhirnya saya dan kepala sekolah menemui profesor yang menangani beasiswa saya, dan profesornya pun berkata:

“Maaf ya de’, ini benar-benar kesalahan dan keteledoran saya, karena kesibukan saya, sehingga saya lupa memasukkan berkas-berkas kamu ke kampus. Sekali lagi, dengan beribu kata, saya minta maaf.”

Dia menjanjikan saya beasiswa serupa di tahun depan, dan saya menjawabnya,

“Terima kasih untuk kebaikan bapak kepala sekolah dan profesor, mungkin ini bukan rejeki saya. Oh ya, saya minta doa dan support-nya saja, saya berencana ingin ke Jakarta. Saya mau kerja, dan kalau ada rejeki, saya mau kuliah.”

Kemudian profesornya menjawab:

“Saya support dan doakan yang terbaik buat kamu. Tetap semangat ya!”

8C906CF63E636E5A601FD4544CE5FF55.976

Saya ke Jakarta, berangkat dari Madura pada tanggal 28 oktober 2013. Saya bekerja di salah satu resto di Jakarta, tapi saya tidak betah. Saya pindah kerja, di restoran lagi. Bulan demi bulan saya kumpulkan uang gaji saya buat kuliah, dan buat menghidupi ibu saya di kampung. Uang sudah terkumpul cukup buat kuliah, tapi ibu ada keperluan yang sangat penting, dan akhirnya saya berikan semua uang yang saya kumpulkan buat kuliah tersebut kepada ibu. Bagi saya, ibu lebih penting dari apapun.

Tiga bulan menuju pandaftaran kuliah, saya mengumpulkan uang kembali. Alhamdulillah, uangnya terkumpul buat pendaftaran, uang formulir dan uang daftar ulang. Tapi saya tidak pegang uang lagi ke depannya. Saya bingung, tidak punya uang buat beli laptop, karena kata teman saya, kalau kuliah butuh laptop. Saya bingung dapat uang dari mana untuk beli laptop, sedangkan uang saya sudah habis buat uang pendaftaran. Tak disangka, ada malaikat berwujud manusia yang Allah kirimkan kepada saya, yaitu dia seorang teman — orang yang udah saya anggap mbak sendiri — yang dengan ikhlas membantu saya, membelikan saya laptop. Dengan senangnya saya ucapkan banyak terima kasih, karena masih ada orang yang baik. Dengan perjuangan yang sangat panjang, akhirnya saya keterima di salah satu kampus ternama di Jakarta, dengan jerih payahku sendiri.