Hastira Soekardi: “Anak-anak; kesedihan mereka adalah kesedihanku. Kegembiraan mereka adalah kegembiraanku. Mereka adalah bagian hidupku.”

Ternyata, mengajar menjadi bagian hidupku, yang membuat aku bahagia berada di antara siswa-siswaku. Hatiku selalu bicara. Hati yang aku tautkan dalam hati mereka, sehingga mereka bisa belajar dengan baik. Hampir 10 tahun aku mempersembahkan hatiku dengan ikhlas untuk mengajar remaja yang masih labil dalam banyak hal. Kesungguhan aku untuk dekat bersama mereka membuat hati mereka juga terbuka untukku. Sungguh bahagia. Hari-hari itu menjadi bagian hidup yang tak pernah aku lupakan. Mereka adalah bagian hidupku. Kegembiraan mereka adalah kegembiraan aku. Kesedihan mereka juga kesedihanku.

Saat aku sudah tak mengajar lagi, foto-foto yang tersiman rapih selalu aku lihat kembali. Untuk mengenang masa-masa itu. Masa yang penuh dengan kebahagiaan di tengah-tengah meraka, yang aku anggap sebagai sahabatku. Tapi ada satu hal di mana aku harus hijrah. Walau hati sulit untuk berpisah dengan sahabat-sahabatku itu, tapi kenyataannya harus dihadapi. Banyak yang melihatku dengan pandangan kasihan. Tapi untuk apa? Aku tak butuh dikasihani. Aku tumbuh dengan keinginan aku untuk mengajar dengan keikhlasan tinggi. Hijrahku ini harus bermanfaat lagi. Tapi apa yang harus aku perbuat? Mengajar adalah duniaku. Aku tak mau lepas dari duniaku.

ini ceritaku 2

Aku mencari komunitas-komunitas di mana aku bisa mengajar. Sampai aku lelah, tapi akhirnya aku menemukan tempat aku bisa berbagi ilmu. Anak-anak seusia sekolah dasar. Padahal aku tidak begitu suka dengan anak-anak kecil. Tapi daripada tidak ada, akhirnya aku coba juga. Perlahan tapi pasti, aku mulai suka dengan dunia anak, bahkan aku bisa membuat buku kumpulan dongeng anak. Sungguh sesuatu yang tak pernah aku sangka sama sekali.

Perlahan aku mulai merasakan kegembiraan berada di antara anak-anak. Tapi terasa ada yang kurang. Aku bukan bagian dari komunitas itu, hanya mengajar saja. Aku akhirnya tak bisa maksimal untuk mengajarkan mulai dari awal, karena fondasi sudah diberikan oleh mereka-mereka yang lama di sana. Aku putuskan keluar dan membuat sendiri komunitas anak, Circle of  Happiness namanya. Artinya; Lingkaran kegembiraan. Mengapa demikian? Karena aku ingin anak-anak belajar dengan gembira. Bukan belajar akademik, tapi lebih ke pembentukan karakter anak.

ini ceritaku 3

Dengan banyak kegiatan, tanpa disadari anak-anak sudah banyak belajar tentang gotong royong, kerja sama, tanggung jawab, jujur, kedisplinan dan sebagainya.  Dan hasilnya benar-benar menggembirakan. Anak-anak gembira, semua materi bisa masuk tanpa mereka sadari kalau mereka lagi belajar. Hasilnya sangat luar biasa. Aku takjub dengan hasil yang aku peroleh. Hatiku tertinggal di hati anak-anak. Anak-anak merupakan sebagian dari hatiku. Anak-anak iu menjadi bagian dari hidupku. Menakjubkan…. Tak ada kata yang sia-sia, perjuangan aku membesarkan komunitas ini sudah mulai terlihat. Walau masih berupa lilin-lilin kecil, namun tak mengapa. Karena cahaya yang kecil kelak akan membesar, dan bisa menerangi banyak orang untuk melihat anak-anak bertumbuh bersama. Ah, hatiku mulai menyanyikan nyanyian cinta kembali.

Setelah lama meredup semenjak memutuskan keluar mengajar hampir tiga tahun yang lalu, kini aku menemukan kembali cahaya hidupku. Anak-anak itu, merekalah sumber kekuatanku. Apapun akan aku lakukan untuk mereka. Aku mencari banyak donasi, banyak guru, banyak materi hanya agar mereka bisa mendapatkan banyak wawasan baru. Kini air mataku menetes kembali — tangis haru, bahagiaku, bahagianya anak-anak. Apalagi sekarang sudah banyak yang mulai mengenal komunitas ini. Apa pun yang aku lakukan untuk anak-anak ini, semoga anak-anak ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Hatiku tertinggal di hati anak-anak. Dan aku ingin hatiku tetap bersama anak-anak selamanya. Aku senang, kamu senang, mari bersenang-senang.

ini ceritaku 1