Hikmawati Tajuddin: “Semua kunci kesuksesan hidup berada pada restu kedua orangtua.”

Saya adalah seorang mahasiwa semester dua di salah satu kampus ternama di kotaku. Jarak rumah kampus yang saya tempuh selama setengah jam membuatku tidak lepas untuk berdoa, mendoakan setiap impian yang sudah saya tulis sejak lama. Karena pesan mama;

“Nak, berdoalah sepanjang perjalananmu, sebab kau sedang bejihad di jalan Allah, yaitu menuntut ilmu, dan Allah pasti mengabulkan setiap doa hambanya yang sedang berjihad di jalan-Nya.”

Saya selalu memegang apa kata mama. Saat itu saya mempunyai mimpi besar, yaitu ingin mengunjungi ibukota Negara kita Indonesia, yakni Jakarta. Saya selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa;

“Semoga saya bisa berangkat ke Jakarta dengan prestasi, demi membuat orangtua saya bangga.”

Doa itu selalu kuucapkan sepanjang perjalanan, terlebih lagi saat saya memasuki gerbang kampus dan memandang setiap sudut kampus dengan ruas jalan yang beraspal dan bangunan-bangunan kokoh yang berdiri tinggi. Saya menatap lama ke arah gedung rektorat sambil mengatakan;

“Saya pasti akan pergi ke Jakarta dengan biaya gratis!”

Rasa terharu sangat terasa pada diriku, sampai-sampai air mata pun mulai berlinang, karena memikirkan bagaimana kebahagiaan dan kebanggaan yang orangtuaku rasa.

My First Flight

My First Flight di akhir hari pembinaan. Ketua panitia menyampaikan ke seluruh peserta untuk menunggu selama dua hari, kemudian kita melakukan tahap penyeleksian. Namun setelah dua hari menunggu, pesan singkat yang saya terima hari itu adalah; “Permohonan maaf kami sampaikan kepada semua peserta, karena tahap penyeleksian tidak jadi dilaksanakan. Namun kami mengambil nilai yang dilihat selama proses pembinaan berlangsung. Jadi untuk pengumumannya, dimohon kepada peserta untuk bersabar menunggu, karena pihak panitia dan pembimbing akan melakukan musyawarah.

 

Saya sudah menjalani kegiatan kampus berhari-hari. Saya terus teringat tentang kapan pengumuman pendaftarannya, sampai-sampai saya melihat kembali banner yang dulu pernah terpasang di akun facebook kampus, karena kemungkinan peserta yang lolos telah diumumkan lewat facebook. Ternyata pas saya lihat banner, tulisannya masih tetap seperti yang dulu, tidak ada tambahan sedikitpun.

Saking lamanya penentuan yang ditetapkan, saya sudah berpikir bahwa saya tidak lolos dalam tahap seleksi dan mereka sudah berlomba di sana. Setelah hari itu saya putuskan untuk tidak lagi memikirkan soal event yang saya ikuti itu.

Kala itu, pagi yang belum memancarkan semua sinar mataharinya, disambut dengan pesan baru dari nomor yang saya tidak kenal, isinya;

“Memutuskan hasil pertimbangan dari pembina dan pihak panitia, menyatakan bahwa yang lolos mengikuti lomba MTQ MN di UI Jakarta Depok adalah sebagai berikut …,”

Saya baca setiap nama yang keluar, dan saya sangat kaget, di antara nama-nama mereka, ternyata ada nama saya di situ. Saya sangat tidak percaya, saya shock, seakan-akan pagi itu saya berada di atas awan, sedang terbang sambil mengepak-ngepakkan sayap. Sungguh, hari yang luar biasa bagiku. Saya merasa tidak percaya diri, karena saya bukanlah orang yang rutin mendapat juara teratas di sekolah. Walaupun saya tergolong rata-rata dalam bidang akademik, tapi saya mempunyai mimpi-mimpi yang sangat besar untuk membanggakan orangtua tercinta.

Hari berikutnya keraguan saya menjadi hilang seketika, bagai rumput yang dilahap habis oleh api. Karena saya sudah mengikuti perkumpulan umum, dan panitia menyampaikan selamat secara langsung kepada kami, para peserta yang menjadi utusan perwakilan kampus untuk berlomba di ajang Nasional, melawan mahasiswa yang berasal dari kampus yang berbeda-beda.

Hikmawati Tajuddin bersama teman

Saat itu juga saya beritahu mama, karena rasa senang ini tidak bisa saya bendung sendiri. Rasa syukur tiada hentinya kuucapkan dari bibir ini, karena keluarga saya sangat bangga dengan pencapaian prestasi yang saya dapatkan. Selain itu, ada juga akomodasi gratis pulang-pergi, ditambah uang saku. Ini juga menjadi my first flight. Ah, senangnya luar biasa.

Dulu, saya hanya bisa lihat pesawat dari kejauhan, sambil beriming-iming dalam hati;

“Kapan yah saya bisa naik pesawat?”

Finally, hari itu bisa terwujud melalui prestasi yang saya punya. Papa juga selalu mengatakan;

“Nak, kamu harus belajar. Karena dengan apa yang kamu pelajari, itu yang akan membawamu ke luar kota.”

Terwujud juga apa kata papa. Semua yang saya dapatkan ini tidak lain adalah doa dari orangtua. Saya selalu rutin mengikuti latihan debat Bahasa Arab yang dibimbing langsung oleh Pembina yang memang sudah ahlinya. Dalam lomba ini, kami terdiri dari dua orang, dan yang menjadi partner saya kala itu adalah senior yang berbeda fakultas dengan saya. Kami selalu rajin datang untuk latihan, entah itu pagi, siang ataupun malam. Tak tanggung-tanggung, malam pun kadang kami latihannya sampai jam 12 malam, karena kami memulainya selepas shalat tarawih — saat itu adalah bulan Ramadhan. Latihan peserta dilaksanakan selama sebulan lamanya, hal ini yang membuat kami para peserta menjadi semangat untuk berkompetisi di ajang nasioanal.

Panggilan semua peserta untuk berkumpul di ruangan yang telah ditetapkan. Perkumpulan saat ini akan membahas soal kostum yang akan kami kenakan nantinya. Sesuai musyawarah yang sudah disepakati, maka kepastian kostum yang akan kami pakai adalah batik khas Palu dan jas abu-abu beserta pasangannya, yakni rok untuk putri dan celana untuk putra. Untuk tahap selanjutnya, kami peserta akan melakukan pengukuran di tempat jahit, panitia telah memberikan kami alamat si tukang jahit itu. Saya melihat mereka pergi secara berkolompok-kelompok, karena di antara mereka telah kenal satu sama lain. Kebanyakan dari mereka telah dipertemukan dalam event besar di kampus, atau bisa juga mereka berada dalam satu organisasi yang sama. Sedangkan saya hanya punya kenalan satu orang, itupun senior sewaktu sekolah di SMA (sekarang berbeda fakultas denganku) dan ia juga yang menjadi partner lomba yang saya ikuti.

Kita berdua sudah janjian untuk pergi sama-sama. Setelah saya mengirim pesan singkat kepadanya, dia membalas dengan menyatakan bahwa ia tidak bisa pergi bersamaan dengan saya, karena dia mempunyai urusan lain. Baiklah, saya memutuskan untuk pergi sendiri dengan mengajak mama saya, berjalan terus dengan mengendarai sepeda motor.

Akhirnya saya menemui alamat yang sejak tadi saya cari. Saya mendapat beberapa peserta sudah ada di sana, mereka telah melakukan proses pengukuran baju, mereka terlihat sangat akrab, sedang saya tak mengenal satu orang pun dari mereka. Tersirat kebahagiaan di wajah mama saat beliau menemaniku. Saya bisa membaca dari raut wajahnya sejak tadi. Saya tidak menanyakan perihal tentang itu, saya tetap berjalan melakukan proses pengukuran baju.

Ketika pulang dalam perjalanan, mama membuka percakapan dengan mengatakan bahwa sebenarnya dirinya pun tak memercayai kalau saya bisa berangkat ke Jakarta, apalagi untuk lomba.

Hikmawati Tajuddin

Keberangkatan kami tinggal seminggu lagi, rasa senang dan syukur sudah sangat memuncak. Kami semua para peserta dikumpulkan secara formal oleh bapak wakil rektor bidang kemahasiswaan, sekaligus melepas kami dengan resmi. Bapak wakil rektor bidang kemahasiswaan menyampaikan pesan-pesan, di antaranya; untuk tetap menjaga kesehatan dengan membawa obat masing-masing (menyesuaikan penyakit yang diderita, jika ada penyakit khusus) dan sebagainya. Di akhir pesan, beliau bertanya kepada seluruh peserta;

“Di antara kalian, siapa yang belum pernah naik pesawat?”

Saya lama tidak mengangkat tangan. Ada beberapa teman yang sudah mengangkat, namun hanya setengah tangannya. Saya pun mengikuti mereka untuk mengangkat tangan. Beliau pun menghitung jumlah orang yang belum pernah naik pesawat. Hanya sedikit jumlah orang yang belum pernah naik pesawat, termasuk saya. Beliau berpesan kepada kami yang belum pernah naik pesawat bahwa;

“Kalian jangan banyak gerak, karena nanti pesawatnya akan miring.”

Saya sebagai orang yang tidak tahu menahu soal pesawat, langsung menanggapi apa kata beliau. Pikiran saya saat itu langsung membayangkan sudah berada di atas pesawat, saya lagi bergerak di atas kursi dan membayangkan kalau pesawat itu miring gara-gara saya. Setelah mendengar gelak tawa, saya kemudian sadar bahwa ternyata bapak rektor hanya bercanda. Sungguh, saya ini polos sekali.

Hari ini adalah keberangkatan kami (para peserta) menuju Jakarta. Saya sudah bersiap sejak hari kemarin; mulai dari pakaian yang semuanya sudah dalam koper, dan juga menyiapkan fisik tentunya. Semalam saya tidak bisa nyaman tidur karena pikiran saya sangat bahagia. Pikiran saya juga sudah terbang saat saya memejamkan mata. Saya sudah memasang alarm, harus bangun sebelum jam empat pagi. Saya harus sudah makan, mandi dan siap pergi. Sekeluarga mengantar saya ke bandara. Sungguh, kesenangan yang patut disyukuri. Sepanjang perjalanan menuju bandara, mama menyampaikan semua nasihat-nasihatnya, saya selalu mengangguk dan menjawab dengan jawaban “iya” dan “baik”.

Sesampainya di bandara, saya melihat beberapa teman sudah ada yang datang. Saya bisa mengenali mereka karena seragam yang mereka kenakan sama dengan yang saya pakai — seragam anjuran dari panitia. Panggilan untuk berkumpul sudah terdengar, semua peserta telah berkumpul, dan masing-masing dari kami dibagi tiket pesawat. Kami pun segera memasuki ruang tunggu. Sebelumnya, saya pamit kepada orangtua. Sangat tersirat kebanggaan di wajah mereka. Saya pun tak bisa menyembunyikan rasa haru juga. Segera saya menyalami mereka satu per satu, dan memasuki ruang tunggu.

Saat tiba di dalam, ternyata tas bawaan saya harus masuk ke dalam mesin. Saya tak tahu apa nama mesinnya, yang saya tau hanyalah; itu sebuah mesin untuk mendeteksi apakah kita membawa barang larangan atau tidak. Namun saya tidak memasukkan tas sampingku ke dalam mesin tersebut, karena saya merasa tidak membawa barang larangan.

Seketika itu saya ditahan oleh penjaganya, ia mengarahkan saya untuk meletakkan tas tersebut di atas mesin itu, tapi saya mengatakan;

“Saya hanya mau lewat.”

Kata-kata itu yang selalu saya lontarkan kepada penjaganya. Teman (peserta lain juga) saya mengatakan bahwa itu (memasukkan tas ke dalam mesin) adalah keharusan. Kalau kau tidak meletakkan tasmu di situ, si penjaga tidak akan memberi izin kepadamu untuk masuk, begitulah nasihatnya kepada saya. Baiklah, saya pun meletakkan tas samping tersebut ke dalam mesin, baru kemudian dengan mudahnya si penjaga itu mengizinkan saya untuk masuk. Pesan moralnya; Saat kita mentaati peraturan, maka perjalanan akan menjadi mulus dan lancar.

Kami sedang berada di ruang tunggu. Sembari menunggu panggilan, saya mengirim pesan singkat kepada mama dan papa yang saat itu belum pulang — masih di bandara, menunggu hingga pesawat yang saya naiki terbang. Saya mengatakan;

“Salam ma, pa. Sesungguhnya yang membuat saya bisa terbang bukanlah karena pintar, tapi karena doa dari mama dan papa, sehingga Allah pun ridho jika saya terbang untuk mengikuti lomba.”

Semua kunci kesuksesan hidup berada pada restu kedua orangtua. Ingatlah itu, Wovger.

Kami semua sudah memasuki pintu pesawat. Saya melihat, papa sedang melambaikan tangan dari kejauhan. Sungguh, sangat menyenangkan. Hanya kesyukuran yang selalu saya ucapkan. Saya melihat ada banyak kursi kosong. Segeralah saya ambil tempat duduk paling ujung, karena dari situ semua pemandangan bisa terlihat jelas.

Seorang pembimbing memanggil saya, dan bertanya;

“Tempat dudukmu nomor berapa?”

Ternyata kursi masing-masing tergantung pada nomor yang ada pada tiket. Saya pun tersipu malu, segera saya berikan tiket dan meminta tolong kepada pembimbing untuk mencarikan saya kursi yang sesuai dengan nomor tiket.

Tempat duduk terdiri dari tiga kursi, dan saya duduk di ujung, tepatnya dekat jalan lalu-lalang penumpang lain/pramugari. Selama dalam pesawat, saya selalu diam dan tak bicara sedikit pun, karena saya ingin menikmati perjalanan pertama saya di pesawat. Saya sudah mematikan ponsel. Karena menurut pengumuman, terdengar bahwa penumpang tidak boleh menyalakan ponsel selama berada di pesawat.

Hikmawati Tajuddin dan teman

Saya sudah berkenalan dengan teman yang duduk tepat di samping saya — sama-sama peserta. Dia banyak bercerita, namun saya menanggapi hanya sesekali saja. Dia juga sangat aktif; karena kalau bukan ia yang berbicara, pasti ia (mengisi kekosongan dengan) membaca. Sedang saya sejak tadi tidak berbuat apa-apa, kecuali duduk tegap dengan kaku menghadapkan wajah ke depan, sambil membaca doa yang telah mama ajarkan. Teman yang duduk di samping saya bertanya;

“Kenapa dari tadi kamu komat-kamit?”

Saya tidak tau mau jawab apa-apa. Saya hanya bisa tersenyum dan mengatakan “tidak”. Mungkin ia merasa lucu. Ia juga tidak tahu kalau ini adalah my first flight.

Sesampainya di ibukota, mataku menyala bagai matahari pagi. Saya melihat bangunan yang sangat tinggi, melihat macet, sampai-sampai saya mengabadikan momen saat berada di atas jembatan jalan dengan latar macet. Itu adalah hal yang selalu saya lihat hanya lewat televisi, dan sekarang berada tepat di depan mataku.

Saya sangat tidak menyangka akan berkumpul bersama orang-orang pintar se-Indonesia. Saya sangat menikmati hari-hari selama di sana. Sebelum perlombaan yang saya ikuti berlangsung, saya menangis seperi anak kecil, karena saya merasa tak pantas berada di atas panggung untuk berbicara. Ketakutan serta kegugupan melanda saya saat itu. Segeralah saya menenangkan hati dan pikiran; saya menghubungi mama. Karena seperti apapun kondisi batin saya, kalau sudah bicara dengan mama, pasti hati saya menjadi tenang. Kata-katanya selalu menjadi sihir bagi saya.

Kepercayaan diriku pun kembali; itulah yang saya harapkan saat saya tampil di depan banyak orang. Banyak mendapat kenalan dari berbagai macam daerah, berkunjung di beberapa tempat terkenal yang ada di ibukota. Juga, lebih dalam mengenal tentang teman-teman peserta; ternyata mereka sangat bersahabat. Mereka selalu menjadi keluarga, selalu menyemangati satu sama lain, mereka selalu ada di hati saya. Selamanya!

Sungguh saya tidak menyangka bisa sampai di sini dengan gratis; akhirnya doaku yang sejak dulu, kini telah tercapai.