Rant Guswandi: “Mereka bilang; Tidak mengapa nakal, mumpung masih muda. Masalahnya, kamu yakin hidupmu akan sampai tua?”

“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Jika kamu dekat dengan penjual minyak wangi, minimal bau harumnya akan berbekas kepadamu, jika kamu dekat dengan seorang pandai besi, bisa jadi percikan apinya akan mengenai pakaianmu dan mendapatkan bau tak sedap darinya,” begitu kata Nabi.

Sebelum masuk SMA, aku adalah anak yang penyendiri. Tak banyak yang kulakukan di waktu senggang. Hanya membaca buku, main playstation, dan main di warnet. Sampai tiba masa SMA, aku mengenal banyak orang. Sifat penyendiriku sudah mulai larut dan mulai mencoba membaur. Ada banyak kelompok manusia di SMA yang jika  kamu menonton film Catatan Akhir Sekolah mungkin kamu akan paham. Ada kelompok yang suka berisik di kelas dan sering bolos, ada kelompok yang gemar belajar dan kutu buku, ada kelompok yang islami, suka ngaji dan sholat dhuha di masjid, kelompok yang suka olahraga, suka musik dan bikin grup band sampai kelompok yang nggak punya karakteristik. Dan saat itu, aku memilih gabung dengan kelompok ekstrakulikuler sekolah yang doyan ngaji. Rohis (Rohani Islam) adalah pilihanku.

Rant Guswandi

Awal masuk Rohis aku sempat menerka, sepertinya kegiatan di Rohis tidak jauh dari ngaji, ngaji dan ngaji. Tapi ternyata tidak. Rohis adalah tempat di mana kita bisa bermain futsal bersama sepulang sekolah, namun berhenti jika sudah masuk waktu shalat. Rohis adalah tempat di mana kita bisa belajar berorganisasi, mengatur dan melaksanakan program kerja. Dan Rohis adalah tempat di mana kita bisa curhat masalah pelajaran, cara pandang hidup, bahkan masalah percintaan dalam sebuah lingkaran yang sering disebut “mentoring” bersama kakak alumni yang sholeh lagi pintar, dan punya banyak pengalaman.

Rant Guswandy

Dari semua kegiatan, yang paling aku suka di Rohis adalah mentoring. Alasannya sederhana, ketenangan. Aku merasa ada ketenangan ketika berkumpul bersama teman-teman Rohis yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Diawali dengan tilawah, berdiskusi tentang islam, curhat, menetapkan target pengembangan diri dan ditutup dengan doa agar hati dan jiwa kita tetap satu dalam ukhuwah islamiyah.

Rohis membentukku menjadi pemuda muslim yang penuh semangat. Bersama pengurus Rohis yang lainnya, aku terpilih menjadi Ketua PDK (Pembinaan dan Kaderisasi). Tugasnya adalah bertanggungjawab atas pelaksanaan berbagai program yang berhubungan dengan peningkatan kualitas anggota Rohis dari segi Ruhiyah (keimanan), Fikriyah (akademis) dan Jasadiyah (kebugaran fisik). Aku menyukai tugas ini, karena kegiatan ini berkaitan langsung dengan pengembangan internal organisasi. Puncak dari amanahku sebagai ketua PDK adalah ketika menjadi Ketua Pelaksana Tafakur Alam di Cisarua Bogor. Kegiatan tersebut memakan waktu 3 hari 2 malam di salah satu Villa dengan peserta mencapai 65 orang siswa dan siswi SMAN 110 Jakarta Utara. Agendanya adalah Materi keislaman, outbond, games, muhasabah dan lain-lain.

Rant Guswandi

Hingga tahun 2011, aku memutuskan untuk kuliah di STIAMI Cempaka Putih Jakarta Pusat Jurusan Pajak. Keaktifanku di organisasi sejak SMA membuatku mudah untuk beradaptasi, sehingga aku ikut beberapa organisasi di kampus maupun di luar kampus seperti:

  • Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus Partisipasi Mahasiswa Islam STIAMI (LDK PARMAIS).
  • Crew Lembaga Pers Mahasiswa dan Radio Kampus (LEMAPKA).
  • Anggota Spesialisasi Mahasiswa Anti Korupsi (SIMAK STIAMI).
  • Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UNJ.
  • Pengajar di RPM Rumah Qur’an.
  • Komisi A Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Jadebek (FSLDK Jadebek).
  • Ketua Forum Alumni Rohis SMAN 110.
Rant Guswandi

Menjadi seorang Aktivis Dakwah bukan berarti bebas dari godaan. Ibaratnya, pohon yang tinggi lebih berpotensi diterpa angin yang lebih kencang dibandingkan dengan rumput yang selalu diinjak. Ada rasa jenuh, malas dan lalai yang menjadi penghalang untuk tetap istiqomah, tapi hal itu wajar karena itulah hidup, kita harus terus memohon pertolongan Allah SWT agar tidak terlarut dalam kemalasan. Sejenak aku mendengar sayup-sayup suara yang mengarah kepadaku tentang bagaimana aku menempuh jalan yang menurut mereka berbeda bahkan orangtuaku sendiri pernah mengeluh anaknya sering pulang malam dan bahkan beraktifitas saat libur. Namun perlahan tapi pasti mereka mengerti, dengan sikap yang aku tunjukkan kepada mereka dan nilai akademis yang diperoleh semasa kuliah.

Banyak di sekeliling kita, pemuda yang menyalurkan gairah dan semangatnya dengan cara yang salah, sehingga bukan hal positif yang mereka dapat, namun sebaliknya. Mereka berkata;

“Jangan sampai pas tua nanti nyesel, karena masa mudanya belum pernah coba,”

“Nggak apa-apa nakal, mumpung masih muda,” dan lain lain.

Masalahnya adalah, apakah kita yakin akan mati di usia tua? Karena nanti pada hari kiamat Allah SWT akan bertanya kepada kita lima perkara, dua diantaranya adalah; untuk apa umur kita dihabiskan, dan untuk apa masa muda kita dihabiskan.

10171645_879998785344264_7466767008614972170_n