Aya: “Berawal dari menulis, akhirnya berbuah positif.”

Hi, Wovger. Perkenalkan, saya Aya. Umur 23 tahun, dan sekarang sedang kuliah di kampus swasta. Sebenarnya dulu tidak terpikirkan untuk kuliah di Indonesia, lebih memilih kuliah di luar negeri dengan beasiswa, karena minim biaya. Namun, skenario sudah diatur oleh Sang Pencipta. Saya pun menerima, tanpa keluh kesah. Kuliah di sini, ternyata lebih beruntung. Saya punya teman baru yang banyak.

Saat saya duduk di semester tiga, dosen menugaskan mahasiswa untuk membuat blog, untuk tugas kuliah. Saya, selalu masa bodo dengan tugas. Saya kadang minder, dengan teman-teman saya yang selalu aktif kuliah, rajin di kampus. Saya menyadari itu kelemahan saya di kampus, namun saya tidak berhenti untuk berlomba-lomba dalam hal prestasi. Dengan adanya tugas dari dosen untuk membuat blog tersebut, saya pun mengerjakannya. Bahkan saya meneruskan untuk konsisten menulis di blog, meskipun saya tahu, jelas-jelas dosen tidak akan memberi nilai untuk tulisan-tulisan saya, karena tugasnya hanya membuat blog. Bukan tugas menulis.

bira1

Menjemput senja di Bira, Sulawesi

Tatkala itu, saya berpikir, jika yang saya tuangkan di blog hanyalah curhatan keseharian saya yang tidak bermanfaat, bagaimana saya bisa maju? Seketika itu saya ingat dengan salah satu penulis legendaris tanah air, yang memiliki quote yang (menurut saya) indah;

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

06

Sejak menelaah quote dari Pramoedya Ananta Toer tersebut, saya merasa bangkit dengan menulis. Namun, menulis yang bermanfaat, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Saya mulai menulis, misal; tips-tips yang banyak dibutuhkan oleh publik. Dan karena maraknya traveling pada umumnya, saya pun menjadikan diri saya sebagai travel blogger, meskipun masih pemula.

Saya memilih jalur gratis, tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Misal, dengan ikut lomba menulis yang banyak digelar pada umumnya. Lomba-lomba yang hadiahnya traveling ke suatu tempat.

Tuhan Maha Pemberi Rezeki, di kali pertama kali lomba menulis saya menang. Saya berkesempatan mengeksplore Makassar dengan gratis. Saya bangga dengan tulisan saya di blog, juri pun juga mengaguminya. Bukan, bukan hanya juri, namun teman dekat saya. Bermula dari pertama kali mengikuti lomba menulis, saya pun ketagihan. Saya percaya bahwa, hidup itu berlomba-lomba. Saya memilih mengikuti lomba, dan berhadiah gratis. Kenapa? Karena saya belum mempunyai biaya, kalau saya harus merogoh kocek sendiri. Bahkan harus membutuhkan waktu lama untuk menabung.

Dari situ, saya pun mengikuti kontes lainnya yang berhadiah liburan gratis. Dulu, saya pun pernah memenangkan lomba untuk pergi ke Singapore, namun, waktu tidak bisa menyesuaikan. Jadi, saya gagalkan. Pasti ada rasa kecewa, iya. Namun, semua itu alur cerita yang harus saya jalani. Kesempatan yang terbuang tersebut tergantikan dengan mengeksplore Belitung, dengan menyaksikan gerhana matahari.

Suasana penuh kesedihan karena bangga pun mengalir. Tidak, tidak hanya itu! Saya juga pernah terpilih untuk berkesempatan mengeksplore Pahawang. Hmm, mungkin prestasi yang saya miliki tidak ada apa-apanya dengan mereka yang lebih mahir. Namun, saya tetap mengagumi tulisan saya yang saya tuangkan di blog. Bermanfaat. Dan pada suatu ketika, di Surabaya Sang Walikota mengadakan lomba menulis di blog, Tuhan Maha Pengasih, saya memenangkan piala walikota. Saya langsung menelepon Ibu saya.

011

Gerhana Matahari di Belitung

“Mah, aku menang, Mah,” ujar saya.

“Lanjutkan, Nak. Selalulah bermanfaat bagi orang lain, jangan putus asa. Ingat, jangan sombong jika kamu sudah mencapai puncakmu,” jawabnya dengan parau. Saya bukan anak yang selalu ada di samping orang tua, saya anak rantau. Maka dari itu, saya menelepon Ibu. Namun, hati dan doa saya untuknya selalu saya panjatkan.

Tidak selamanya lomba itu ada, saya pun selalu menabung, agar saya tetap bisa mengeksplore Indonesia. Setelah traveling, saya selalu menuangkan pengalaman saya di blog. Terutama, bagaimana saya bisa mencapai ke destinasi tersebut. Itu yang selalu dicari orang. Oleh sebab itu, dengan apa yang kita gemari, kembangkan. Jangan mudah putus asa, dan restu orangtua paling utama.

Meskipun dalam perlombaan ada yang menang dan kalah, namun tidak selamanya kau menjadi orang yang kalah, dan tidak selamanya juga kau menjadi pemenang – @cewealpukat

Tabik,

Saya Aya, semoga bermanfaat ^ ^