Endah Wijayanti: “Semesta dan kebahagiaan itu memiliki denyut nadi yang sama.” (Wisata ke Lombok)

endah

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Meledak-ledak hati ini rasanya ketika akhirnya saya berhasil naik pesawat terbang untuk pertama kalinya di usia 25 tahun. Bagi orang lain mungkin sudah hal biasa naik pesawat terbang melintasi kota atau menembus benua dan batas-batas dunia. Namun, bagi saya sungguh sebuah pencapaian tersendiri saat akhirnya bisa ikut duduk manis di dalam penerbangan dari Surabaya ke Lombok tanggal 28 Mei 2015 lalu.

Di dalam pesawat menuju Lombok. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Di dalam pesawat menuju Lombok. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Sedikit kilas balik, selama sekolah dan kuliah saya belum pernah sekalipun naik pesawat terbang. Setiap kali melihat pesawat terbang melintas di angkasa, duh betapa inginnya saya bisa ikut terbang di sana. Alhamdulillah, saat akhirnya sudah bekerja, saya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk modal naik pesawat sekaligus jalan-jalan ke Lombok. Perjalanan itu pun jadi salah satu perjalanan yang paling berkesan. Ketika sebuah impian (meski terlihat biasa di mata orang lain) terwujud atas usaha sendiri, rasa bahagia yang muncul itu sepertinya hanya diri ini dan Tuhan saja yang tahu.

Menembus Langit dan Menyeberangi Lautan, Semesta Menunjukkan Pesonanya

Perjalanan ke Lombok itu saya tak sendiri. Saya bertualang dengan seorang sahabat baik saya, Jevi namanya. Tujuan pertama kami adalah Gili Trawangan. Turun dari pesawat, kami langsung naik Bus Damri, lanjut mencarter mobil, kemudian menyeberang menuju Gili Trawangan dengan perahu motor. Untuk pertama kalinya dalam waktu kurang dari enam jam saya merasakan perjalanan udara, darat, dan laut secara berturut-turut. Capek? Entah kenapa meski malam sebelumnya saya tak bisa tidur, pagi itu tak ada rasa pegal atau lelah di tubuh ini.

Perahu menuju Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Perahu menuju Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Keindahan semesta melenyapkan rasa penat dan lelah yang ada. Melintasi langit biru, menembus area hijau Hutan Pusuk, lalu dibuai dengan suara deburan ombak laut menuju Gili Trawangan, alam tampak sedang bersolek di mata saya.

Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Saya (kiri) dan Jevi (kanan) di Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

 

Bersantai dulu? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Bersantai dulu? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Setelah mendapat penginapan, sedikit beres-beres, makan siang, dan snorkeling sebentar, kami langsung menjelajah Gili Trawangan dengan bersepeda. Sebenarnya bisa saja naik cidomo untuk mengelilingi Gili Trawangan. Tapi jelas rasanya berbeda kalau kita menjelajah gili yang memiliki panjang 3 kilometer dan lebar 2 kilometer ini dengan menggenjot sepeda, meski ya rasa capeknya jadi lima kali lipat rasanya.

Keliling Gili Trawangan dengan bersepeda. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Keliling Gili Trawangan dengan bersepeda. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Hati-Hati dengan “Sihir” Matahari Terbenam Gili Trawangan

“Sunset is a wonderful opportunity for us to appreciate all the great things the sun gives us!”
― Mehmet Murat ildan

Matahari terbenam di Gili Trawangan sungguh menyihir. Selain indah, rona jingganya membasuh wajah dengan kehangatan yang melengkungkan senyum. Saya menghabiskan waktu yang cukup lama melihat bagaimana lautan meninabobokan sang penerang jagat raya tersebut. Kepala saya pun kemudian dipenuhi tentang banyak hal. Mengenai impian, kegagalan, kehidupan, keinginan, kesedihan, kebahagiaan, suka, duka, luka, bahagia, dan detak jantung.

Matahari tenggelam di Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Matahari tenggelam di Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Kita pasti pernah juga merasakan berada pada sebuah dimensi. Dimensi yang membuat hati terasa lebih lapang. Napas terasa lebih bebas. Pikiran yang melayang ringan. Jauh dari rumah. Jauh dari keramaian dan keriuhan yang ada. Satu-satunya suara yang kita dengar hanya detak jantung kita sendiri dan deburan ombak yang bergulung-gulung. Kita merasa begitu bahagia tapi juga kecil. Ada rasa tenang tapi kita tak bisa berbohong kalau masih ada rasa cemas yang bersembunyi. Ah, sungguh kita memang hanya manusia biasa.

Keindahannya tiada tara. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Keindahannya tiada tara. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Sepeda terparkir berjajar rapi di pinggir jalan. Di ambang cakrawala sana, matahari melambaikan tangan dengan rona keemasan yang makin memudar sembari berjanji esok ia akan kembali. Bayang-bayang tubuh dan pepohonan jadi lebih ringkas. Tak jauh dari tempat saya duduk, ada kakak adik yang bermain-main, sepasang kekasih yang melantunkan cinta, juga ada yang termenung entah apa yang sedang dipikirkannya. Detik demi detik terasa melambat, semua terasa berjalan begitu pelan di tengah pergantian hari menyambut malam. Apakah saya sedang tersihir?

Puas menikmati keindahan matahari terbenam, kami pun kembali mengayuh sepeda untuk kembali ke penginapan. Di sepanjang jalan, berulang kali kami berpapasan dengan cidomo, pengendara sepeda lain, dan para turis yang sedang olahraga lari. Semua bergerak, semua melanjutkan perjalanan. Terus mengayuh, terus berlari, seperti itu juga sepertinya kita menjalani hidup.

Senja di Gili Trawangan sungguh memukau. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Senja di Gili Trawangan sungguh memukau. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Keesokan paginya sebelum check out dari penginapan, kami sempatkan untuk bersepeda sebentar dan menikmati indahnya laut. Sekitar pukul 07.00 belum ada aktivitas yang berarti, para turis yang semalaman berpesta mungkin masih terlelap.

“In the sky there are always answers and explanations for everything: every pain, every suffering, joy and confusion.”
― Ishmael Beah

Pagi hari di Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Pagi hari di Gili Trawangan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Nuansa dan pemandangan pagi hari Gili Trawangan juga tak bisa dilewatkan begitu saja. Birunya air laut dan langit yang terbingkai jadi satu sungguh memanjakan mata. Jalan-jalan santai di tepi pantai pada pagi hari sambil melihat sejumlah orang asyik memancing ikan jadi aktivitas sederhana yang sangat berkesan.

Mengenal Budaya Lain Memperkaya Jiwa

Sudah puas di Gili Trawangan? Saatnya melanjutkan perjalanan berikutnya. Kami lalu mencarter mobil untuk mengunjungi sejumlah destinasi populer di Lombok, yaitu Desa Sukarara, Desa Sade, dan Tanjung Aan.

Di Desa Sukarara, kami dipandu oleh seorang anak laki-laki. Usianya sekitaran 10 tahun. Ia yang menjelaskan soal tenun dan juga membantu kita yang mau belanja. Katanya sih dia bekerja jadi pemandu wisata setiap pulang sekolah. Mungkin hasil jerih payahnya bisa jadi uang sakunya sendiri tanpa harus membebani orang tuanya. Salut deh sama adik yang satu ini.

Bocah laki-laki inilah pemandu kami. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Bocah laki-laki inilah pemandu kami. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Untuk membuat selembar kain tenun, waktu yang dibutuhkan bisa lebih dari dua minggu. Pantas saja harganya mahal. Menurut tradisi Sasak, konon wanita yang belum bisa menenun tak diizinkan untuk menikah. Menenun pun ternyata nggak gampang. Saya sempat mencoba untuk menenun seutas benang, dan itu sudah bikin pusing. Aduh, jadi saya belum boleh menikah nih?

Di sini juga bisa belajar bertenun meski hanya berhasil seutas benang. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Di sini juga bisa belajar bertenun meski hanya berhasil seutas benang. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Mencoba baju tradisional Lombok di Sukarara. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Mencoba baju tradisional Lombok di Sukarara. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Berlanjut ke Desa Sade, dengan seorang pemandu wisata kami menjelajahi kompleks rumah adat Sasak. Ada banyak sekali pondok-pondok yang menjual aneka tenun dan kain. Harganya juga sangat beragam dan sekali lagi wajib menawar. Kalau kamu raja tega, tawar langsung seperempat/seperlima dari harga yang disebutkan pedagangnya.

Dia sedang mengerjakan apa ya? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Dia sedang mengerjakan apa ya? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Seorang ibu tua di mulut pintu rumahnya. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Seorang ibu tua di mulut pintu rumahnya. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Saya tak belanja apa-apa selama di Sade dan malah asyik sendiri memotret suasananya. Ada seorang gadis yang sedang belajar, mungkin mengerjakan PR. Bocah-bocah yang berlarian kesana-kemari. Seorang ibu tua yang duduk di mulut pintu rumahnya. Jadi keasyikan sendiri bisa mengenal budaya lain. Semacam ada sudut pandang baru yang terbuka. Membawa kita melebur pada sesuatu yang asing tapi justru memberi warna baru dalam kehidupan kita. Pengalaman seperti ini tak akan pernah bisa didapatkan kalau kita tak berani keluar rumah dan menjelajah tempat-tempat baru.

Salah satu sudut Desa Sade. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Salah satu sudut Desa Sade. | Foto: dok, Endah Wijayanti

Deru Ombak dan Gemericik Air Terjun, Andai “Melodinya” Bisa Dibawa Pulang

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”
― Marcel Proust

Dua lokasi lain yang tak terlupakan selama kunjungan saya ke Lombok saat itu adalah Tanjung Aan dan Air Terjun Benang Kelambu. Di Tanjung Aan, suara deru ombaknya sungguh kuat. Takjub diri ini melihat betapa luasnya sudut semesta di depan mata. Tak terbayangkan jika “surga” ini hanyalah secuil bagian dari bumi. Saya dibuat makin penasaran lagi apa yang ada di balik lautan sana? Jika saya berenang membelah lautan, akan sampai di mana saya nantinya? Manusia sepertinya terlahir tanpa bisa merasa puas, ya. Selalu saja ada yang ingin dicapai. Tak pernah hentinya menginginkan sesuatu “yang lebih” dan “yang jauh”.

Nuansa senja di Tanjung Aan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Nuansa senja di Tanjung Aan. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Andai bisa berlama-lama di sini. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Andai bisa berlama-lama di sini. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Menjelajah lebih jauh. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Menjelajah lebih jauh. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Batu Payung, dia saja tangguh berdiri tegak sendiri, kamu masak nggak bisa? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Batu Payung, dia saja tangguh berdiri tegak sendiri, kamu masak nggak bisa? | Foto: dok. Endah Wijayanti

Ketika trekking menuju Air Terjun Benang Kelambu, saya dibuat kepayahan. Jalurnya naik turun dan membuat napas saya jadi pendek-pendek. Tapi ketika akhirnya bisa menatap keindahan air terjun dan mendengar gemericik airnya, ada perasaan lega yang terasa. Mendengar melodinya, ingin rasanya saya memasukkan setiap gemericik itu ke dalam botol dan menutupnya lalu membawanya pulang ke rumah. Sehingga saya bisa kembali mendengar gemericik itu setiap kali saya merasa kacau dan butuh ketenangan.

Air Terjun Benang Kelambu. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Air Terjun Benang Kelambu. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Menyisir Semesta Membuat Kita Kembali “Bernyawa”

“Travel brings power and love back into your life.”
― Rumi

Sampailah saya pada kesimpulan bahwa semesta dan kebahagiaan itu punya denyut  nadi yang sama. Menjelajah atau menyisir sudut kecil sebuah pulau bahkan bisa membuat kita kembali “bernyawa”. Dekat dengan semesta semakin dekat pula kita dengan kebahagiaan. Mensyukuri kesempatan bisa menikmati indahnya semesta membuat kita merasa lebih hidup.

Mungkin ada orang di luar sana yang menganggap perjalanan yang kita lakukan jauh-jauh pergi ke tempat asing hanya buang-buang uang saja. Atau mungkin ada sebagian orang yang menganggap kita tolol; kok mau-maunya menghabiskan tabungan kalau ujungnya “cuma dapat capek”. Tapi sesungguhnya setiap perjalanan yang kita lakukan dan pengalaman baru yang kita dapat membuat hidup kita lebih kaya. Hidup jadi lebih bermakna. Kita jadi makin menyadari kalau ada peran khusus yang kita punya di dunia ini dan kita harus bisa memaksimalkan peran itu sebaik mungkin.

Senangnya bisa bermain. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Sekelompok bocah di sebuah desa di Lombok Timur. Senangnya mereka bisa bermain bersama. | Foto: dok. Endah Wijayanti

Perjalanan singkat saya ke Lombok itu memberi saya banyak sekali pengalaman. Memang, setelah perjalanan itu saya harus kembali berkutat dengan pekerjaan dan urusan kantor. Tapi saya tahu kalau ada “nyawa” baru yang saya miliki sepulang dari perjalanan itu. Saat merasa tertekan, capek, atau beban di pundak terlalu berat, saya selalu mencoba mengingat kembali pemandangan puncak gunung yang terselimuti awan terlihat sejajar dengan mata dari balik jendela pesawat terbang, suara hembusan angin laut, deburan ombak, awan putih yang beriring di hamparan langit biru, suara gemericik air, deru air terjun, hingga suara anak-anak yang sedang bermain berlarian. Dengan begitu saya kembali bisa merasa dekat dengan semesta dan mampu meyakinkan diri, kalau saya dapat bertahan dan akan baik-baik saja.

Makin dekat dengan semesta, makin rekat hati ini pada Sang Penggenggam Jiwa, sehingga dengan sendirinya rasa bahagia akan mengaliri pembuluh darah kita.

Jadi, setelah ini, sudut semesta mana lagi yang akan kita jelajahi?