Fitriyah Fitri: “Meski suamiku telah tiada untuk selamanya, tapi aku harus bahagia hidup bersama buah hatiku, terus bahagia, selamanya!”

Di antara dua sujud…

Entah kenapa, seperti lenyap harapan, mengetahui sosok yang kupuja harus melawan penyakit kronis. Berbagai pertanyaan seringkali muncul di dalam hati; bagaiamana bisa kanker itu masuk ke dalam tubuh suamiku? Kenapa harus keluarga kecil kita yang mengalami ini semua? Kebahagian baru saja terukir, dengan datangnya pangeran kecil kami. Aku berusaha tetap tenang, dan untuk menenangkan — entah untuk diri sendiri atau untuk anak — memang kadang jalannya tak begitu mulus. Perasaan sedih, kecewa, sudah pasti menghampiri. Dosa apa yang aku perbuat, hingga keluargaku mendapat cobaan yang seperti ini?

Perasaan tak terima dengan takdir Tuhan, sepertinya memang tak akan pernah bisa mempersatukan keluarga kami secara utuh. Bahkan jika air mata punya perasaan, sudah pasti ia pun ikut merasa lelah karena berlama-lama mengeluarkan airnya. Aku masih saja mempertanyakan kepada Tuhan dengan pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa? Sampai suatu hari aku seperti diingatkan oleh alm bapak — entahlah, tapi aku merasa itu seperti nyata;

“Sudahlah nduk, kehidupan itu memang seperti ini, mau tidak mau, kita harus menerimanya sebagai takdir. Bolehlah kamu menyalahkan keadaan, tapi tidak dengan menyalahkan Tuhan. Ambil hikmahnya saja, terus dekatkan diri kepada Allah. Perbanyak istighfar dan sholat malam.”

BeautyPlus_20160502121936_fast

Entah kenapa, kata-kata itu terngiang terus-menerus. Berat untuk mengenali Tuhan kembali, karena aku sangat marah dengan adanya takdir yang satu ini, takdir yang di berikan oleh-NYA. Namun, lambat laun, sedikit demi sedikit aku bisa memaksa diri untuk sholat. Awalnya begitu berat dan tidak ikhlas, karena aku masih saja belum menemukan sebuah ketenangan hati. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah buku karya salah satu ustadz yang cukup terkenal. Dalam buku tersebut, ada kutipan, kurang lebih begini;

“Jika saja sholat masih membuatmu ragu akan kebesaran-NYA dan belas kasihNYA, cobalah pahami arti-arti dari setiap bacaan sholat.”

Aku pun mulai mencari tahu tentang arti setiap bacaan sholat. Aku baca dan pahami baik-baik. Sampai akhirnya, aku merasa jatuh hati dengan makna bacaan duduk diantara dua sujud;

Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa ‘aafinii, Wa’fuanni.

Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku.”

Mulai saat itu, hatiku bergetar, menangis dan meronta. Setelahnya, aku berusaha untuk berperasangka baik kepada Allah. Sedikit demi sedikit, aku mencoba untuk betul-betul mengambil hikmah dari ujian tersebut. Aku kemudian berpikir bahwa, ini merupakan salah satu jalan untuk mendewasakanku dalam menjalani kehidupan. Mungkin, jika masih ada suami, aku tidak bisa secepat ini mengenal apa itu sabar dan mandiri. Aku selalu menguat-nguatkan diri. Nasihat yang sering aku katakan pada diri sendiri adalah;

“Aku harus bahagia hidup bersama buah hatiku, dan akan terus bahagia, selamanya!”