Nafi Atul Azizah: “Ketika kamu meminta kupu-kupu, dan Allah memberimu ulat, tetaplah berpikir positif.”

Nama saya Nafi. Saya akan menceritakan kisah-kisah dalam hidup saya yang semoga dapat menginspirasi orang yang membacanya. Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga sederhana. Sebagai anak pertama, saya berpikir bahwa saya mempunyai tanggung jawab terhadap kedua orangtua dan adik saya. Intinya saya harus sukses. Ya, tapi sukses tidaklah semudah yang saya katakan. Meskipun saya sangat bersemangat untuk meraih sukses.

Dari SMP, saya sudah merancang-rancang hal-hal yang saya pikir akan membuat saya sukses. Seperti contohnya setelah SMP, saya ingin masuk ke SMA negeri. Karena saya berpikiran di SMA negeri, banyak ilmu yang akan saya dapatkan di sana, dan kemampuan saya akan berkembang. Tapi ternyata Allah membelokkan rencana saya. Padahal semua berkas-berkas sudah siap, tapi pada akhirnnya formulir SMA swasta yang saya isi. Dan ini bukan keinginan saya. Ini keinginan bapak saya yang pada awalnya sangat mendukung saya masuk SMA negeri. Allah memang maha yang membolak-balikkan hati manusia.

12

Butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima sekolah di sekolah ini. Tapi Alhamdulillah saya masih disadarkan ketika saatnya belum terlambat. Di sekolah ini saya menemukan guru-guru yang selalu memberi motivasi, teman-teman yang teguh agamanya, sehingga saya bisa tertular sedikit demi sedikit. Saya pun ikhlas. Saya memilih untuk berpikir positif saja dengan rencana Allah ini.

Sampai akhirnya saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Lomba yang bahkan tidak ada ekstrakurikulernya di sekolah. Tapi saya bermodalkan nekat saja. Karena saya pikir, untuk menjadi orang yang sukses, kita harus gila dulu. Gila maksudnya di sini; kita tidak perlu memikirkan apa yang terjadi ke depannya. Hadapi yang di depan, buat yang terbaik untuk hari ini. Toh jika tidak menang, saya masih dapat hadiah, yaitu pengalaman.

1

Tapi ternyata Allah tidak tidur. Allah menjawab segala usaha keras dan doa-doa. Tim saya, yang terdiri dari dua orang lolos seleksi 10 besar dan kita akan presentasi di kantor Bupati. Rasanya seperti mimpi, seorang dari sekolah swasta yang tidak terlalu terkenal bisa bersaing dengan SMA-SMA negeri yang dulu nyaris jadi sekolah saya. Saya semakin bersemangat, karena saya ingin memberi  pembuktian kepada diri saya, bahwa yang terpenting itu bukan sekolahnya, tapi diri kita sendiri. Kita yang mengendalikan diri kita ini mau dijadikan seperti apa. Dan sekali lagi, alhamdulillah, tim saya berhasil meraih juara harapan 1. Jujur saja ini adalah pertama kali saya memenangkan lomba selain lomba 17 agustus di kampung. Dan saya bisa melakukan hal ini di sekolah yang dulu sempat saya remehkan.

12

Tidak berhenti sampai di sini impian saya. Saya ingin kuliah. Saya ingin masuk PTN. Saya ingin kuliah dengan beasiswa. Dan akhirnya saya mulai mempersiapkan untuk tes masuk PTN. Ya meskipun ada jalur SNMPTN, tapi saya tidak mau bergantung dengan jalur keberuntungan ini. Akhirnya saya mulai mencicil soal-soal SBMPTN karena PTN yang saya incar adalah PTN ternama, yaitu Universitas Brawijaya Malang.

Dan dugaan saya memang benar, saya tidak lolos di jalur SNMPTN. Saya semakin giat untuk belajar. Saya mengambil jurusan sistem infomasi di Universitas Brawijaya, karena saya memang senang dengan dunia komputer.

Singkat cerita, pengumuman SBMPTN telah tiba. Dan hasilnya iya saya lolos, tapi bukan di PTN impian saya, tapi di Universitas Trunojoyo Madura, sebagai pilihan kedua saya dengan jurusan pendidikan informatika. PTN yang tidak pernah ada di bayangan saya. Dan jurusannya? Iya, memang informatika, tetapi pendidikan. Jadi nantinya saya akan jadi guru. Guru bukanlah cita-cita saya. Dulu saya mengambil pilihan ini karena saya bingung, dan saya hanya fokus di pilihan pertama.

20160423_083158

Lagi-lagi Allah membelokkan rencana saya. Dan untuk kali ini bukan hanya belok, tapi memutar 360 derajat. Saya tidak pernah membayangkan untuk menjadi guru. Tapi ibu dan bapak saya sangat senang dengan kabar ini. Saya pun ikut senang, meskipun sebenarnya kecewa, bahkan sempat ada pikiran untuk mengambil SBMPTN lagi tahun depan.

Tapi sekali lagi, saya berusaha untuk ikhlas dan berpikir positif saja. Saya sudah pasrah nantinya, saya akan jadi apa di PTN dan jurusan ini.

Sampai suatu hari saya bergabung dengan komunitas mengajar. Di sini saya langsung terjun di sekolah-sekolah. Di sini saya mulai belajar mengajar anak-anak SD. Alhamdulillah, tanggapan guru dan siswa di sana sangat baik. Entah kenapa, setelah itu saya sangat senang dengan dunia saya yang sekarang ini. Dunia pendidikan.

IMG_3366

Dan kini, daftar mimpi saya bertambah lagi; yaitu ingin mengajar di daerah pedalaman. Semoga terkabul. Dan jika tidak, maka akan ada rencana yang lebih indah lagi. Saya bersyukur dengan jalan hidup saya. Saya yakin, ketika saya meminta kupu-kupu, dan Allah memberi saya ulat, pasti ada maksud lain. Ya, ulat itu ternyata sangat indah ketika sudah menjadi kupu-kupu. Terima kasih Ya Allah, rencanamu sungguh indah.

20160423_091954