Teddy: “Tuhan mengirimkan Malaikat bukan hanya untuk mencatat amal baik dan buruk, tapi juga untuk dipeluk saat air mata jatuh dari pelupuk. Ibu.”

Sebelum subuh, wanita paruh baya itu bangun. Mengupas nangka muda, dipotong kecil-kecil, lalu dibungkus ke dalam plastik, kemudian dibawa ke pasar untuk dijual. Setelah adzan subuh, beliau melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Lalu, melanjutkan tugasnya sebagai ibu, memasak untuk suami dan anak-anaknya.

Pukul 6 pagi beliau pergi ke pasar, diantar suami tercinta. 3 jam kemudian kembali ke rumah, membawa sayuran-sayuran segar untuk dijajakan. Selama kurang lebih setengah jam, beliau dibantu suaminya menyusun sayuran-sayuran itu ke dalam gerobak sayurannya. Setelah selesai, beliau pun berangkat, bertempur dengan panasnya sengatan matahari, dinginnya guyuran hujan, atau yang paling perih adalah bertahan dalam sabar saat berhadapan dengan pembeli super duper cerewet yang cuma mau ngutang atau nawar keterlaluan, tapi tidak jadi membeli. Astaghfirullah.

buk e

Lho, kok jadi ngelantur cerita tentang ibu-ibu penjual sayur keliling. Memangnya siapa sih ibu-ibu itu? Bukannya aku ya tokoh utamanya di sini. Hehe. Yeah, because she’s my lovely Mom. The real super hero of my life.

Beliau ini manusia super hebat. Wanita yang rela melakukan pekerjaan halal apa saja demi keluarganya. Maklum saja, bapak hanya buruh serabutan yang sering sepi job. Jadi, Mamaklah yang setiap hari memeras otak, memikirkan cara mendapatkan uang agar keluarganya tidak kekurangan makan, dan aku tetap bisa sekolah. Dan aku bangga, memiliki orangtua seperti mereka.

***

Si Odong

Si Odong, motor kesayanganku.

Namaku Teddy Wahyu Nugroho. Aku biasa dipanggil Teddy. Usiaku 17 tahun. Aku tinggal di sebuah desa kecil bernama Mandalasari Kec. Mataram Baru Kab. Lampung Timur. Pada 7 Mei 2016 lalu, aku baru saja dinyatakan lulus dari sekolah tercinta, SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono. Salah satu sekolah terbaik di Kabupaten Lampung Timur.

Ibuku — wanita yang biasa aku panggil Mamak — seorang penjual sayuran keliling. Beliau hanya tamatan SMP. Tapi, beliaulah yang selalu memupuk mimpi-mimpi besarku. Bahwa aku harus berpendidikan tinggi, agar tidak berakhir jadi kuli. Ketika remaja-remaja di desaku banyak yang putus sekolah dengan alasan terbatasnya ekonomi keluarga, maka Mamak tidak pernah punya satu alasan pun untuk membiarkan anak-anaknya putus sekolah. Ketika orang-orang di desa menyekolahkan anak-anaknya untuk mendapatkan selembar ijazah untuk modal bekerja di luar negeri, maka Mamak menyekolahkanku dengan harapan anak-anaknya menjadi orang-orang berpendidikan, tidak bergantung pada orang lain dan bermanfaat untuk banyak orang. Dan aku bangga.

akting sebagai Bintang

akting sebagai Bintang

Berbekal mimpi besar dan kebanggaanku pada Mamak, aku membunuh setiap rasa minder yang hadir. Aku bahkan tidak malu ketika mencari uang dengan berjualan susu kedelai (sule) di sekolah. Setiap jam istirahat aku berkeliling dari kelas ke kelas menjajakan si sule. Keuntungan dari menjual sule ini cukup menggendutkan dompetku. Aku jadi punya sisa uang untuk ditabung, membeli buku, nge-print tugas, memfotokopi soal, bayar iuran, tanpa harus meminta uang pada Mamak. Sayangnya, Mamak tak mengizinkanku meneruskan usaha ini saat aku naik ke kelas XII. Alasannya; aku harus fokus belajar untuk persiapan Ujian Nasional (UN).

Menurutku, menjadi remaja minder adalah sebuah kerugian besar. Rasa minder yang berlarut-larut akan mengendap, sehingga menutup seluruh potensi yang harusnya diketahui orang. Aku kerap menulikan telinga ketika mulut-mulut kasar mencibirku. Sampai aku benar-benar tak lagi mendengar satu pun cibiran. Berpasang-pasang mata pernah melirik sinis saat aku memarkir si Odong (motor kesayangan). Tapi dengan sangat percaya diri, kuletakkan si Odong berdampingan dengan barisan para matic dan kuda besi keluaran terbaru yang berjajar rapi di parkiran sekolah. Teman-temanku di sekolah memang banyak yang berasal dari keluarga bergelimang harta, jadi wajar kalau tunggangannya tak ada yang setua si Odong.

Aku tidak pernah membiarkan sampah-sampah itu mengotori hatiku. Bagiku, tetap percaya diri dan selalu berpikiran positif akan membuat semuanya lebih baik. Yah, kupastikan semuanya jauh lebih baik saat tatapan sebelah mata itu tak lagi ada.

Baca Puisi

Baca Puisi

Saat acara perayaan Ulang Tahun Sekolah tercinta, ratusan pasang mata pernah tak berkedip menatapku saat aku berperan sebagai Bintang dalam drama sekolah. Mereka tertawa. Mereka terhibur.

Aku juga pernah bersama anggota Teater Lintang Sekolah, menampilkan kabaret yang berjudul “Cinta Kuku untuk Lulu”. Naskahnya kutulis sendiri, sutradaranya pun aku sendiri, dengan pemeran utama laki-laki adalah aku juga. Ini merupakan penampilan kabaret pertama yang pernah dipersembahkan oleh Teater Lintang. Alhamdulillah, pertunjukan dalam acara perpisahan kakak-kakak kelas tahun 2015 itu berjalan lancar dan mendapat sambutan yang luar biasa.

Bermodal rasa percaya diri, aku mendapatkan banyak pengalaman berharga. Aku pernah mengikuti lomba drama dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Provinsi (FLS2P) Lampung tahun 2014. Sayangnya, saat itu aku dan teman-teman gagal membawa pulang piala. Tetapi, bagi anak desa sepertiku, bisa makan, tidur, dan belajar gratis di Hotel Nusantara Bandar Lampung selama 3 hari itu sudah merupakan suatu hal yang luar biasa. Maklum saja, menginjakkan kaki di hotel, bagiku dan keluarga adalah barang langka.

Runner Up Pelopor,

Runner Up Pelopor. Foto dari kiri ke kanan: Kak Okta, Elisa Handayani (Icha), Dita Cahya Melati (Dita), Teddy Wahyu Nugroho (Aku), dan Nurul Aini Hilman (Ullu).

Dari kegemaranku beradu akting itu, aku pun pernah mendapat kesempatan belajar langsung cara produksi film dari Komunitas Fotografi dan Film Pelajar Lampung (KF2PL). Ini merupakan pelajaran dan pengalaman yang luar biasa bagiku. Pada saat proses pembuatan film pendek sekolah, aku terpilih sebagai pemain utama.

Dari sana aku mulai mengerti bahwa membuat film itu, meski tidak mudah, tetapi menyenangkan. Aku menjadi semakin tergugah untuk bertemu, belajar, dan beradu akting langsung dengan Lukman Sardi, Reza Rahardian, Vino G. Bastian, hehe.

Oiya, kalau mau nonton film pendek karya sekolah kami, bisa langsung tonton di bawah ini – Komunitas Film Pelajar Lampung yang berjudul Friendshit. Check this out!

Selain senang bermain peran, aku juga suka berpuisi. Yah, bukankah salah satu cara melestarikan budaya Indonesia adalah dengan berpuisi? Puisi adalah rasa. Puisi adalah estetika.

Di sekolah, aku bukanlah anak emas yang langganan juara kelas. Yah, menggeser Adhe Lingga Dewi (teman sekolahku) dari kursi juara umum bukanlah perkara mudah. Maka, bertengger di posisi sepuluh besar pun sudah cukup membuat hatiku berdendang dangdut saking senangnya.

Dan bagi Mamak, pengalaman-pengalaman luar biasa dan ilmu-ilmu yang aku dapatkan itu lebih berharga dari sekadar juara kelas. Terlebih ketika aku dan teman-teman satu timku, Elisa Handayani, Agung Gumelar, dan Dita Cahya Melati memboyong ke sekolah Piala Bergilir Juara 1 Lomba Olimpiade Sains Kerohanian se-Sumatera Bagian Selatan pada Februari 2015.

juara 1 osaka se-sumbagsel

juara 1 osaka se-sumbagsel. Foto dari kiri ke kanan: Elisa Handayani (Icha), Agung Gumelar (Agung), Teddy Wahyu Nugroho (Aku), dan Dita Cahya Melati (Dita).

Sungguh kawan, kalian akan merugi jika tetap berdiam diri dengan rasa minder. Bangkitlah. Buka lebar matamu. Tataplah dunia di hadapanmu. Sampaikanlah mimpi-mimpimu. Dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

***

Oktober 2014, aku bersama 3 sahabatku yang luar biasa, Dita Cahya Melati, Elisa Handayani, dan Nurul Aini Hilman, mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Pelopor Penataan Ruang Provinsi Lampung. Dengan menjadikan Taman Purbakala Pugung Raharjo, Lampung Timur, sebagai objek pengamatan dan dibimbing oleh Ibu guru cantik nan sabar, Ibu Diana Ruswandari, karya tulis kami terpilih sebagai 3 karya terbaik se-Provinsi Lampung. Hingga akhirnya kami dinyatakan sebagai Runner Up.

Prestasi memang tidak pernah memandang dari mana kita berasal. Tidak pernah mempermasalahkan seperti apa orang tua kita. Ia datang kepada siapa yang sungguh-sungguh berusaha.

***

shooting film pendek sebagai cemen

shooting film pendek sebagai cemen

Oiya, aku ingin berbagi sedikit cerita buruk.

Pada tanggal 09 Mei 2016 lalu, aku baru saja ditolak oleh Perguruan Tinggi Negeri impian. Ya, aku tidak lolos SNMPTN. Universitas Sebelas Maret (UNS) tidak menerima pinanganku. Dan ternyata, ditolak Prodi Teknik Industri UNS rasanya lebih menyakitkan daripada ditolak gebetan. Untung saja, ada Mamak yang selalu menguatkanku. Membesarkan hatiku. Membangkitkan lagi semangatku.

Karena Tuhan mengirimkan Malaikat bukan hanya untuk mencatat amal baik dan buruk, tapi juga untuk dipeluk saat air mata jatuh dari pelupuk. Ibu — Mamak.

Ketika kita gagal meraih mimpi, bukan karena mimpi kita yang terlalu tinggi, mungkin usaha dan dzikir kita yang kurang banyak. Maka, akan kubuktikan keseriusanku pada UNS lewat SBMPTN. Semoga Allah SWT meridhoi. Semangat kawan. Bismillah.