Irfan Maulana Ubaidillah: “Berbagi kepada sesama, peduli terhadap budaya.”

Halo sahabat Wovgo dan Pilot Bumi Trans! Dalam rangka mengikuti kompetisi menulis #iniCeritaku, saya akan berbagi sedikit pengalaman saat menjadi relawan untuk kegiatan sosial di Kota Malang. Kegiatan yang saya ikuti adalah pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pembuatan kerajinan yang difokuskan pada pembuatan batik tulis khas Kota Malang. Berikut sedikit ulasan mengenai latar belakang dan alasan diadakan kegiatan tersebut.

Malang dan Dunia Fesyen

2

Proses Pembuatan Batik

Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang) menjadi destinasi wisata yang semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal dan asing. Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang (2015), ada sebanyak 2,4 juta wisatawan domestik dan 6.025 wisatawan asing yang datang ke Kota Malang pada tahun 2014. Sedangkan data tahun 2015 ada sebanyak 2,5 juta wisatawan domestik dan 7.000 wisatawan asing yang datang ke Kota Malang.

Kebiasaan wisatawan untuk membeli souvenir sebagai buah tangan menjadi peluang bagi pelaku industri kreatif di Malang Raya. Sektor industri kreatif yang saat ini sangat menjanjikan adalah industri fesyen. Salah satu produk fesyen Indonesia yang masih dapat tumbuh dan berkembang di tengah arus globalisasi adalah batik. Batik juga telah mendapat pengakuan dari PBB melalui UNESCO sebagai warisan budaya dunia (Intangible Cultural Heritage) yang dihasilkan oleh Indonesia (Wulandari, 2011). Di Malang Raya, batik belum banyak dikembangkan, dan produsen batik tulis masih sangat jarang. Padahal potensi pemasaran batik di Malang Raya sangat menjanjikan.

Seiring dengan perkembangan fesyen dunia dan semakin tingginya minat terhadap kain batik, tentu ini menjadi peluang besar bagi para pelaku industri batik. Selain itu, diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tahun 2015 lalu, tentu hal tersebut sangat mendorong Indonesia untuk terus mengembangkan industri kreatif, khususnya dalam bidang fesyen.

Aku, Budaya dan Relawan

upload

Kunjungan Walikota Malang kepada ibu-ibu peserta pelatihan

Menjadi generasi yang menginspirasi melalui berbagai kegiatan positif adalah salah satu mimpi terbesar dalam hidup saya. Hal tersebut sejalan dengan motto hidup saya, yaitu; hidup untuk bermanfaat bagi orang lain. Saya selalu teringat kutipan dari John F. Kennedy  yang sangat menginspirasi dalam pidato inagurasinya, bahwa;

“Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.”

Sebagai Warga Negara dan Pemuda Indonesia, saya berharap bahwa saya dapat memberikan aksi nyata yang bisa membantu perkembangan bangsa, dan tidak mengeluh dengan selalu menyalahkan orang lain atau pemerintah.

Untuk mewujudkan impian tersebut, saya mencoba melakukan aksi nyata dan andil dalam kegiatan sosial. Saya menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial yang diadakan oleh salah satu dosen saya yang bernama Dr. H. Mutmainnah Mustofa, M.Pd yang membina kelompok pemberdayaan perempuan bernama “SAMARA”. Tujuan berdirinya kelompok yang beralamatkan di Bareng Tenes 5A/580 Kota Malang ini adalah untuk memperbaiki taraf ekonomi masyarakat sekitar. Kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan pembuatan berbagai kerajinan. Salah satu produk yang sudah pernah dibuat adalah aneka kue kering, batik tulis khas Malang dan jilbab berpola.

12118907_764434710350947_8991114827182327306_n

Bertemu dengan Rektor Prince of Songkla University

Karena saya memiliki ketertatikan dan pengetahuan tentang budaya, saya sangat senang untuk menjadi sukarelawan saat pelatihan pembuatan batik tulis khas Malang tersebut. Selain mengajarkan keterampilan kepada masyarakat, program ini juga berperan sebagai media untuk melestarikan kearifan lokal. Batik tulis merupakan karya hasil budaya yang dibuat menggunakan canting untuk menggambar pola atau motif. Pola dan motif pada kain batik sangat beragam dan banyak macamnya dari tiap daerah. Selain unik, motif kain batik juga mengandung filosofi dan menggambarkan kehidupan masyarakat asal daerah kain batik tersebut.

Ternyata kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap satu minggu sekali ini berhasil menarik perhatian Walikota Malang, yang akrab dengan sebutan Abah Anton. Beliau datang ke lokasi kegiatan pelatihan dalam agenda blusukannya pada tanggal 18 Oktober 2015 yang lalu. Bukan hanya itu, kegiatan ini juga saya angkat sebagai tema proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2015, dengan harapan, pemerintah bisa membantu untuk menjadikan program pelatihan ini semakin baik. Batik yang kami buat juga sempat mendapat tawaran undangan pameran produk lokal Indonesia dari Prince of Songkla University Phuket Campus Thailand. Luar biasa bukan?

Bagi saya, menjadi relawan merupakan panggilan hati nurani yang bahkan tidak bisa dinalar jika kita menggunakan pola pikir yang berorientasi pada profit. Seperti yang kita ketahui, relawan adalah seseorang yang ikhlas memberi tanpa pamrih dan peduli pada lingkungan sekitar. Tokoh inspiratif yang saya anut untuk berjuang adalah Alm. Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, SH. Beliau merupakan pejuang bagi umat yang tidak mengenal lelah. Motto beliau; menjadi inspirasi bagi para muridnya. Beliau pernah mengatakan;

“Jangan takut mati karena belum makan, tapi takutlah mati karena belum berjuang.”

Kata-kata beliau mengandung arti yang sangat dalam. Kita tidak perlu takut mati karena kelaparan, karena pada hakikatnya Tuhan telah mengatur rejeki untuk kita — selama kita bersedia mencari. Tapi, jika kita belum berjuang untuk kepentingan umat, berarti hidup kita menjadi hal (kehidupan) yang sia-sia

Demikian kisah saya saat menjadi relawan. Semoga bisa bermanfaat. Sampai jumpa di posting saya yang berikutnya.