Muhammad Reshie Prakoso: “Tentang writing, internet marketing dan traveling.”

Hai, aku Reshie. Kelahiran 1992 yang kini tengah berjuang lepas dari salah satu PTN di Jogja. Aku mengambil salah satu jurusan yang kebanyakan orang menganggapnya biasa saja; Sastra Indonesia. Alasanku memilih jurusan tersebut, ya karena aku suka menulis, bukan karena ingin disebut sastrawan atau seniman. Kesukaanku menulis muncul ketika salah satu teman di Facebook yang sering membuat Notes tentang perjalanan hidupnya. Seperti diary, hanya saja dikemas lebih estetik dan puitis. Dari situ, aku berfikir, “ah rasanya seru juga menulis.”

Hampir setiap hari aku menulis di Notes Facebook. Jenis tulisanku kebanyakan adalah curhatan dari anak yang setiap 24 jam waktunya digigit-gigit kenangan. Meski terbilang alay, ya tak apa. Setidaknya aku sudah jujur. Banyak komentar yang menganggap tulisanku keren, bahkan ada yang mencatutnya di beberapa blog pribadi atau status media sosial. Meski tak ada credit namaku, paling tidak aku merasa bahwa mereka mencintaiku. Ya, mencintai tulisanku, bukan diriku.

Menulis, bagiku seperti candu. Candu yang bila tidak tersampaikan bisa jadi benalu. Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengikuti beberapa lomba menulis. Pertama kali ikut lomba, aku mendapat juara pertama. Meski hanya diberi imbalan voucher belanja. Bagiku, itu satu titik di mana aku merasa dihargai, diperhitungkan, diberi kepercayaan bahwa tulisanku benar-benar layak dikonsumsi publik. Nah, dari situ aku terus mengikuti lomba-lomba menulis. Beberapa di antaranya juga masuk dalam buku antologi bersama. Satu di antaranya sudah masuk Gramedia (Curhat LDR). Oh ya, itu hasil karyaku antara tahun 2011-2013. Tahun selanjutnya, aku memutuskan untuk vakum.

Vakum di sini bukan berarti aku benar-benar berhenti menulis. Aku kehilangan senjataku, laptopku. Ia dicuri bersama ponsel yang kubeli dengan hasil keringatku. Sesak rasanya. Dalam laptop itu ada satu buah novel yang kubuat selama 6 bulan. Itu adalah kado untuk kekasihku, tinggal cetak lalu kuberikan tepat di hari ulang tahunnya. Tapi, nasib selalu menang. Benda hitam bersejarah itu raib entah ke mana.

Aku tak berani bilang pada orangtua kalau laptopku hilang. Aku takut. Lalu seorang teman berkata: “Wes, kerjo wae,” Maka aku pun kerja; jadi Office Boy di salah satu salon di Jogja. Aku bertahan hanya tiga bulan karena tak betah. Gaji tiga bulan belum cukup untuk membeli laptop baru. Lalu kuputuskan membeli ponsel dulu. Dari ponsel buatan Cina itu, hidupku berubah haluan. Aku berkenalan dengan salah seorang mahasiswa yang bergelut dengan dunia Internet Marketing (IM). Namanya Thomas, ia asli Kalimantan dan kini sudah beristeri. Ia memberitahu bahwa menulis di blog bisa menghasilkan uang. Maka aku mencobanya. Tapi sayang, menulis saja tak cukup membuat dollar masuk rekeningku. Ada yang namanya niche, keyword, SEO dan yang paling ngeri adalah; persaingan. Aku gagal karena aku tak tahu ilmu-ilmu itu, tapi hasrat untuk terjun di dunia IM masih membara.

Entah bagaimana semesta mengaturnya, aku diperkenalkan dengan sebuah forum Internet Marketing bernama Ads.id. Sebuah forum yang menurutku banyak sekali celah untuk mengisi rekening kurusku. Akhirnya, kuputuskan untuk membuka Jasa Penulisan Artikel. Dan…. viola, dalam tiga bulan sebuah laptop sudah ada di tangan. Dalam satu minggu aku bisa menerima order 50-70 artikel, di antaranya adalah Bahasa Inggris. Sampai akhirnya aku berani untuk menghentikan suplai kiriman dari orangtua. Segala kebutuhanku di Jogja kutanggung sendiri, mulai dari bayar kos, jajan, dan bayaran kuliah.

Rasa bosan pun datang. Ternyata menulis sepanjang waktu buat semangatku memudar. Aku menghentikan segala order artikel yang datang, dan bersama sang kekasih kubuat semangatku kembali dengan jalan-jalan.

Buntut dari seringnya aku jalan-jalan adalah sebuah situs yang aku bangun. Awalnya situs tersebut hanya sebagai tempat menulis pengalamanku bersama sang kekasih jalan-jalan ke tempat-tempat mainstream. Tapi lambat laun, banyak pengujung yang datang dan request untuk me-review tempat-tempat wisata baru, buku, film dan musik. Maka, kukemaslah seperti sekarang, dengan mengajak beberapa teman untuk ikut menulis. Melihat banyaknya pengujung yang datang, rasanya sayang juga kalau tak dimonetasi. Bukan materialistis, tapi kupikir ini adalah cara untuk menutup anggaran sewa hosting dan ya… sedikit upah dari hasil karyaku. Lagi pula, siapa di dunia ini yang tak mau hasil karyanya dihargai? Percayalah, dalam sebuah karya, ada ribuan tetes keringat yang tak mungkin kau mengerti.

YDXJ0048

Ini kosku yang kusulap jadi ruang kerja

Situs yang sekarang sudah berumur 1 tahun tersebut kini menjadi tonggak penghasilanku bersama kekasih dan 2 teman kelasku. Ia bagaikan oase bagi kami, bagaikan anak yang harus benar-benar dikasih-sayangi sepenuh hati. Meski sering rewel, tak lantas membuat kami khilaf dan memasukannya ke pantai asuhan. Kami mencintainya, mengasihinya, dan akan terus berusaha membuatnya besar dengan segala kerendahan. Semoga dalam proses kreatif ini ada banyak pihak yang terbantu.

Jadi, inilah — yang menurutku adalah kisah inspiratifku, tentang writing, internet marketing dan traveling yang tak kusangka-sangka bisa membuat cita-citaku berubah 360 derajat. Jujur, impianku selepas kuliah ini adalah menjadi Pebisnis Lele. Tapi rasanya, dunia inilah yang akan kupertahankan sampai akhir hayat, bersama sang kekasih dan 2 temanku tentu saja. So, mengutip quotes musisi legendaris itu; “U’ll be dead. Do something!”