Nazola Soares: “Secangkir teh tawar di bumi Lorosae – Cerita pagi hari bersama Nenek, tentang Indonesia dan Timor Leste.”

Beberapa minggu lalu, ada seseorang yang membuatku ingin tahu lebih banyak mengenai Wovgo. Apa ini? Aku menyebutnya blog. Oh tidak, tidak, ini semacam fanspage. Hmmm… benarkah? Entahlah, yang jelas aku sangat tertarik dengan apa yang tertuliskan di sana, mengenai perlombaan menulis kisah inspiratif.

Hmmm… aku mengalihkan pandangan, melihat pintu kamarku, memperhatikannya lekat-lekat. Bukan karena ada cicak yang menempel, melainkan karena aku berusaha untuk mendapatkan inspirasi untuk menuliskan sebuah kisah inspiratif.

“Kisah inspiratif apa yang akan kau bagi, tidak ada yang menarik dari hidupmu,” seru Malaikat di sisi kiriku.

“Siapa bilang tidak ada yang menarik dari hidupnya? Dia pendaki gunung. Hampir semua gunung di Jawa Tengah pernah ia daki. Tidakkah itu menarik?” Malaikat di sisi kananku membela.

Zolla naik gunung

Aku tidak menghiraukan apa kata dua makhluk di sampingku ini. Tiba-tiba saja aku terngiang dengan secangkir  teh tawar panas dan masakan khas Tukir yang diberikan Nenek untukku. Tukir adalah makanan khas di daerah kelahiran ayahku, di Viqueque Timor Leste.  Makanan ini terbuat dari daging kambing potong yang dimasukkan ke dalam bambu muda, dicampur kunyit dan rempah-rempah, lalu dibakar. Hmmm… aroma daging panggangnya sukar dilupakan.

Pagi di hari kedua kedatanganku di Viqueque, hujan turun tak terkendali. Aku yang sudah berencana untuk menjemput Kakek di gunung, terpaksa harus gigit jari. Entah ritual apa yang dilakukan Kakek di atas gunung sana, Nenek hanya menjelaskan bahwa tujuh hari dalam sebulan, Kakek selalu menghabisakan waktunya di atas gunung. Untuk apa sebenarnya? Sampai saat ini pertanyaanku tidak terjawab, karena sampai di hari terakhir keberadaanku di sana — Viqueque, Kakek tak juga kunjung pulang.

Kakeknya Zolla

Aku dan Nenek duduk di bale-bale rumah, bercakap sembari menghabisakan tukir dan teh tawar bikinan Nenek. Nenek sedikit kesulitan menangkap pembicaraanku. Maklum saja, semenjak memutuskan kemerdekaannya sendiri dan lepas dari Indonesia, Timor Leste tak lagi menggunakan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Tetun.

Pagi itu Nenek bercerita banyak mengenai Operasi Seroja atau Invasi Indonesia atas Timor Timur. Tahun pertama kelahiran Ayah, Tepatnya pada tanggal 7 Desember 1975, pasukan Indonesia meyerbu Timor Timur. Nenek dan seluruh warga Timor ketakutan, dan mereka berhamburan ke hutan. Fretilin. Sebuah pasukan dari partai besar Timor yang memperjuangkan kedaulatan Timor. Saat itu, jumlahnya kalah banyak dengan tentara Indonesia. Mereka melarikan diri ke gunung-gunung dan terus melancarkan operasi tempur Geriliya. Puluhan ribu orang meninggal, dan salah satu dari mereka adalah anak kedua Nenek. Nenek menuturkan bahwa pasukan Indonesia maupun Fretilin tidak pandang bulu dalam menyerang. Perempuan, anak-anak, semuanya ditembak. Sebagian besar penduduk meinggalkan kota dan desa menyerbu masuk ke wilayah pesisir dan pegunungan. Seluruh rakyat Timor kelaparaan pada saat itu, bahkan sampai di tahun 1976, lebih dari 50.000 warga Timor meninggal dunia. Alhamdulillah, Nenek dan Kakeku selamat.

Nenek sendiri merasa lega ketika roda kehidupan berputar. Sejarah pun berjalan sesuai dengan kodratnya, tahun 1999  rakyat Timor Timur memutuskan untuk lepas dari Indonesia, dan memilih menjadi Negara yang berdaulat sendiri, yang kemudian berganti nama menjadi Timor Leste.

Nazola Soares

“Indonesia memang mengukir kenangan buruk di hati Nenek, tapi kau tetap memiliki posisi terbaik di sini.” Nenek menyeka pipinya di kalimat terakhirnya itu. Beliau meraih tanganku dan meletakannya di dadanya. Aku tidak diam begitu saja ketika Nenek mengatakan itu. Aku mengumpulkan keberanian untuk membela Indonesia di mata Nenek. Mencoba memperlihatkan sisi kebaikan dari Indonesia.

“Dulu, sebelum invansi itu terjadi, tidakkah Nenek ingat, bahwa selama 450 tahun Timor ada di bawah kekuasaan kolonial Portugal? Bahkan, untuk sekedar menginjak jalan-jalan Negara yang mulus dan halus pun, rakyat pribumi Timor tidak diijinkan. Bukan kah begitu Nek?”

Nenek Zolla

Beliau tidak merespons pernyataanku, dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun melanjutkan argumenku.

“Timor sudah merasakan menjadi bagian dari Indonesia selama 24 tahun, Indonesia membangun banyak infrastruktur di wilayah Timor, mulai dari sekolah dasar hingga universitas, bandara Nicolau Lobato Dili, jaringan yang menghubungkan antar kota antar desa juga dibangun, bahkan membangun patung Kristus ikon pariwisata Timor yang saat ini menjadi patung terbesar kedua di dunia setalah di Rio de Janeiro, Brasil. Selain itu, para guru dan dokter didatangkan, sehingga kesehatan dan pendidikan rakyat Timor meningakat dibanding masa kolonial Portugal dulu. Pertanyaannya, setelah Timor lepas dari Portugal maupun Indonesia, apakah Nenek bahagia tinggal di sini hanya bersama Kakek seorang?”

Zolla Soares

Tangis Nenek pecah. Aku paham mengenai kesengsaraan yang dirasakan nenek ketika ada di bawah tekanan Portugal maupun saat invansi Indonesia. Tapi karena semua kejadian itu, tidak ada satu pun cucunya yang tinggal bersama Kakek dan Nenek di bumi Lorosae. Empat dari enam orang putra-putri kakek yang selamat, memilih untuk tinggal di Indonesia, termasuk ayahku. Dan Nenek tidak pernah berkenan untuk dijemput, kemudian diajak ke Indonesia untuk tinggal bersama anak dan cucunya di Indonesia.

Pagi itu juga, setelah mengakhiri percakapan, aku memeluk Nenek.

“Kumohon untuk tidak menaruh rasa benci terhadap Indonesia, Nek.”

 

***

 

Tidak banyak foto yang aku ambil, karena baterai handphone-ku habis, dan aliran listrik belum sampai di pelosok Viqueque kala itu, 2005. Bagi Wovger yang belum berkesempatan untuk bersama orang yang dicintai, tetaplah sabar. Percayalah, doa kita selalu menyertai mereka.

 

 

Yang selalu menyayangi dan merindukan kalian.

 

Tertanda: Nazola Soares.