Aya: “Mengukir cerita baru di setiap perjalanan.” (Wisata ke Lampung)

Hi, Wovger. Semoga kita selalu bahagia ^^

Seperti pada artikel sebelumnya, nama saya Aya, belum pernah berubah. Saya mencintai perjalanan, namun, kadang membencinya. Benci di mana perjalanan tersebut telah usai. Seperti halnya; perjalanan saya menuju Pahawang, Lampung. Pulau yang menjadi incaran para diver, dan traveler. Saya bersama kawan-kawan baru yang sebelumnya saya tidak pernah bertemu. Waktu itu perjalanan menuju Pahawang di malam hari. Saya memang orang pendiam, jika baru bertemu. Orang baru, pasti kita selalu asing dengan kehadirannya. Namun, yang menciptakan nyaman atau tidaknya adalah kita sendiri.

Tatkala itu saya sedang sok akrab dengan salah satu teman perjalanan saya, yang nanti akan bersama-sama selama di Lampung. Kenalkan, dia Ira. Saya mengulurkan tangan, dan berjabat tangan. Dia terlihat sinis, saya sebal. Dia orang kurang asyik. Otak saya terpikirkan dengan aura negatif tentangnya. Ternyata, tidak. Ketika kami sampai di Pelabuhan Merak, ketika hendak menyebrang saya melihat dia kebingungan tidak ada teman ngobrol. Saya pun berusaha akrab, mencari topik untuk diperbincangkan. Tak, disangka dia adalah adik kelas saya ketika SMA dulu, dan dia mengambil ilmu komunikasi sama seperti saya. Namun, bedanya dia di Jakarta dan saya di Surabaya. Dua jam menyebrangi lautan, kami tidak menyangka selama ini kami mengobrol.

“Take only memories, leave only footprints.” – Chief Seattle

DSCF9647

menanti senja

Di destinasi pertama, kami menuju Pulau Kelagian Besar. Kami pun penuh canda tawa, saya lihat hanya saya dan Ira yang paling akrab, tidak seperti penumpang lainnya. Ira yang belum pandai snorkeling, saya pun bersiap mengajarinya. Dia gugup, takut tenggelam. Saya meyakinkan dia,

“Ra, ada saya, jangan khawatir. Kamu pakai pelampung, dia yang akan menyelamatkanmu,”

Ira tersenyum manis. Setelah beberapa waktu Ira belajar, dia pun ketagihan. Kemudian, Pahawang pun sudah di depan mata. Saya sudah mabuk angin laut, goncangan ombak yang mengocok perut saya. Dengan keadaan mabuk, saya masih menikmati pemandangan laut.

DSCF9603

bahagia di Pulau Kelagian

“Ka, ayo kita menyelam di bawah sana,” seru Ira.

Dia sudah mahir berenang. Saya senang melihat Ira, dia tidak takut sedikit pun. Namun, saya tidak bisa menemaninya menyelam, karena kondisi yang kurang fit. Dia pun memberanikan diri untuk menyelam, kemudian dia memamerkan foto hasil dia menyelam.

DSCF9663

senja di Pulau Balak

Hari perpisahan pun akan tiba, kami bermain kano terlebih dahulu di Pulau Balak di depan penginapan kami menginap. Saya merasa melihat senyum, canda, tawanya akan berakhir sampai di sini. Dia orang yang asyik, rasanya tidak ingin berpisah. Tidak siap dengan hari yang hilang tanpa melihat senyum Ira. Kami masih menikmati indahnya Balak pada waktu itu. Melihat matahari terbit, hingga tenggelam. Semakin akrab, waktu pun cepat berlalu. Yang tak ditunggu pun tiba. Perpisahan. Setelah perpisahan dari Pahawang, banyak pelajaran berharga ketika kita singgah di tempat yang baru; kita harus memahami sekeliling kita, jangan mudah melihat dari luar, berbagi pengalaman dengan yang lain, itu penting. Setelah perpulangan kita masing-masing ke kota asal, saya dengannya tidak lupa bersua lewat sosial media, selalu menyapa, bertanya kabar. Dan kapan jalan bersama lagi.

 

Kita tidak berpisah, namun berjarak – FiersaBesari

Tabik.