Fauziatul Arifah: “Kita tidak akan pernah tahu titik tertinggi yang mampu kita raih. Teruslah mencoba dan jangan pernah membatasi diri.”

Terlahir sebagai anak yang “biasa-biasa” saja, menjalani hidup dengan “biasa”, bersekolah dari SD sampai SMA dengan jalan cerita yang “biasa” adalah yang bisa saya deskripsikan mengenai hidup saya sendiri. Semuanya terlalu biasa, menurut saya. Sampai duduk di bangku kuliah pun saya menjalaninya dengan “biasa”. Ya… biasa, saya menjalani kehidupan kampus dengan teman-teman, belajar, mengerjakan tugas, mengajar privat, presentasi dari satu mata kuliah ke mata kuliah lainnya. Semuanya dalam persepsi saya berjalan dengan normal, tentu akan ada masalah sebagai kerikil kecil yang siap menyandung langkah saya yang “biasa-biasa” saja ini, namun semuanya dapat terselesaikan tanpa harus melewati drama kehidupan layaknya sinetron-sinetron yang sedang nge-trend di Indonesia.

Waduh… terus apa dong yang saya bisa ceritakan ke Wovger? Toh, satu paragraf di atas hanya didominasi oleh kata “biasa”, padahal artikel ini seharusnya mengulik sisi inspiratif dari hidup saya.

Tapi tunggu dulu… kata “biasa” hanya saya tulis dalam satu paragraf saja kok, menggambarkan kalau kehidupan saya yang terlalu “biasa” itu hanya terjadi di sebagian kecil hidup saya. Selanjutnya, sedikit demi sedikit saya buat lebih berwarna, dengan pengalaman baru dan cerita baru yang menurut saya adalah perubahan luar biasa.

Dimulai dari tawaran mengikuti kegiatan TOT (training of trainer) oleh teman di kampus. Tawaran itu datang pada saya karena kuota peserta masih kurang satu orang. Sebelumnya, tentu saya tanyakan dulu pelatihan dalam hal apa, siapa peserta lainnya, di mana tempatnya, berapa lama waktunya, siapa yang melatih dan apa saja kegiatannya. Ya, inilah saya. Penuh pertimbangan. Terlebih teman-teman “aman” saya tidak ikut dalam kegiatan ini. Saya adalah orang yang cenderung menutup diri, monoton, dan tercantum dalam daftar orang yang membosankan. Tergolong sebagai mahasiswi yang katanya pintar dan rajin, membuat saya semakin sulit bergaul dengan anak-anak lainnya. Saya dikenal kaku, dan punya batasan. Jangankan bergaul dengan teman-teman kampus, dengan teman-teman kelas saja tidak semuanya saya dekat.

Jurusan komunikasi membuat saya diharuskan lebih aktif dalam berbicara. Malah terkadang diskusi yang ada di kelas terkesan seperti memperebutkan pepesan kosong, yang penting bunyi. Eits… ga semua begitu ya. Terkadang kami juga membicarakan hal-hal yang berbobot kok. Jurusan komunikasi juga yang mempertemukan saya dengan TOT public speaking and MCTV Presenter. Nah loh… bergaul aja susah, gimana mau pelatihan jadi seorang pembicara yang notabenenya bukan saya banget? Tapi mungkin inilah yang disebut dengan jalan Tuhan, saya tiba-tiba mengiyakan tawaran teman, dan alhasil ikut TOT tersebut dengan modal nekat dan motivasi ingin lari dari tuntutan tugas yang banyak di tempat privat.

Screenshot_2016-05-20-22-40-40_1

Pelatihan diadakan tiga hari berturut-turut dengan materi menjadi Public Speaker dan seorang MC TV yang baik. Di hari pertama, tentu saya sudah minder dengan lingkungan pelatihan. Saya tidak terbiasa dengan orang-orang yang tidak terlalu dekat, meskipun mereka teman sekelas. Saya ingat betul, hari pertama pelatihan itu adalah hari di mana saya menemukan gerbang untuk pergi ke tempat-tempat luar biasa selanjutnya. Kami diberikan tugas untuk profile mapping, yaitu memperkenalkan diri secara singkat di depan kamera. Lagi-lagi saya berniat untuk
melakukannya dengan “biasa” saja. Yang penting, ga malu-maluin di depan teman-teman saja sudah sangat beruntung buat saya. Namun tanpa diprediksi, saya bisa melakukannya dengan baik, tanpa retake, tanpa gugup dan sangat yakin. Trainer pun suka dengan suara saya, katanya bulat. Sempat tersinggung dan mempertanyakan, suara saya yang bulat atau badan saya? Hehehehe. Hari itu, di tempat pelatihan, suasananya sangat positif bagi saya. Percaya diri pun mulai naik, dan tentunya tingkat ketertarikan pun mengikuti. Hari-hari berikutnya, suasana semakin positif. Saya mulai bisa mengikuti, dan anehnya, seperti ada kekuatan dalam diri untuk dapat beradaptasi lebih cepat. Saya mulai senang dengan kegiatan ini.

Persis seperti apa yang dikatakan Albert Enstein:

“Keberhasilan ditentukan oleh 99% perbuatan dan hanya 1% pemikiran.”

Mungkin saya terlalu banyak berpikir selama ini. Terlalu banyak berkutat dengan teori tanpa praktik. Padahal komunikasi tidak terbatas hanya pada teori saja, melainkan lebih banyak mengarah pada praktik. Apa yang saya lakukan di TOT kemarin adalah salah satunya, dan saya mencoba banyak hal baru di sana. Selama ini saya mengkungkung diri dengan kata “saya tidak bisa”, mencari aman dengan membiarkan orang lain yang maju, biar saya yang di belakang, biar saya yang menyusun lalu orang lain yang melakukan. Hal itu tidak pernah membuat saya maju dan tidak pernah membuat saya dikenal.

Pola pikir yang selama ini “biasa-biasa” saja, mulai berubah. Dengan modal kepercayaan trainer yang kebetulan dosen saya sendiri, saya kemudian didaulat menjadi MC dalam sebuah acara pekan komunikasi di kampus. Pelajaran yang didapatkan selama pelatihan sangat berguna, percaya diri pol-polan saya keluarkan. Nervous, pasti. Tapi saya yakin bisa, dan ingin menjadi luar biasa. Bayangkan, orang yang sangat pendiam di kelas. Selama ini hanya jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang- kuliah pulang), sedikit bergaul.

Screenshot_2016-05-20-22-40-30_1

Kini mencoba untuk menjadi MC, pusat perhatian dan harus punya banyak amunisi kosa kata untuk dijadikan bahan pembicaraan. Saya bisa! Saya bisa melewatinya. Setengah tak percaya. Tapi ternyata saya bisa. Tawaran-tawaran untuk menjadi MC berikutnya pun berdatangan. Walaupun hanya dalam lingkungan kampus, namun bagi saya ini merupakan kesempatan yang luar biasa.

Sedikit demi sedikit saya mulai belajar. Tersenyum pada banyak orang, menyapa dengan tulus, mengeluarkan humor yang dapat menjadi ice breaking saat suasana mulai dipenuhi kebosanan. Hal-hal kecil tersebutlah yang mulai mengubah hidup saya. Bertambah teman, bertambah kenalan, tentunya bertambah pengalaman. Tentu bukan dalam hitungan hari semua berubah. Saya terus belajar dari banyak kekurangan penampilan saya sebelumnya. Inget
ya Wovger.. ga ada hal yang instan. Mie instan aja menurut saya ga cepet-cepet banget menyajikannya. Nunggu air mendidih, masukkan mie, buka bungkus bumbu, angkat mie, kasih bumbu, aduk-aduk, baru bisa dimakan. Duh, jadi bikin tutorial memasak mie deh..

Selain jatuh bangun dalam belajar, tantangan lain juga mulai melirik saya. Ya… semakin pohon tumbuh tinggi, semakin kencang angin berhembus kan, dan yang lebih menantang angin itu datang dari orang dekat. Teman-teman “aman” saya mulai protes, mereka bilang saya berubah, mulai gaul, lupa sama mereka. Duh.. saya mulai dilema. Saya adalah tipe orang yang memikirkan betul apa yang orang katakan, saya takut membuat orang-orang dekat kecewa. Namun di lain sisi, saya meyakinkan diri kalau saya ingin berubah ke hal yang lebih baik. Keinginan belajar hal baru, apakah itu salah. Mungkin kali ini PR baru buat saya untuk belajar lebih cuek, jangan banyak memikirkan pendapat-pendapat orang. Opini orang lain memang baik untuk koreksi diri dan masukan, namun dalam kadar tertentu saja. Tidak semua dapat diterima. Layaknya obat, kalau kebanyakan bisa-bisa over dosis. Ya, saya putuskan tetap maju, namun memastikan bahwa saya tidak melupakan mereka. Saya maklum, kebanyakan orang memang tidak menyukai perubahan dalam hidupnya. Namun saya pernah membaca kutipan bagus mengenai perubahan yang dikemukakan oleh Mignon McLaughlin, bahwa;

“Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang paling takut pada perubahan.”

So… perubahan itu penting karena hidup dinamis, penuh tantangan dan tuntutan. Tentunya perubahan ke arah yang lebih baik ya Wovger..

IMG_20160229_131307

Saya percaya, dalam diri seseorang pasti memiliki bakat terpendam sendiri. Nah, bagaimana menemukannya? Salah satunya adalah dengan motivasi. Jangan selalu menunggu motivasi dari orang lain, motivasi dapat dibentuk sendiri. Terkadang justru datang dari hal-hal sederhana yang sanggup mengetuk hati. Wovger… hidup ini kan hanya sekali, yuk ubah persepsi dan mulai untuk temukan ceritamu sendiri.

Kita tidak akan pernah tahu titik tertinggi yang mampu kita raih. Teruslah mencoba dan jangan pernah membatasi diri.

IMG_20160302_170006