Niwax: “Dari Pesantren ke Jurusan Farmasi, dari anak sarungan hingga pakai jas laboratorium.”

Assalamualaikum Wovger, perkenalkan nama lengkapku Qanith Kurniawan Arham. Anak keempat dari 8 bersaudara yang lahir dalam keluarga dengan nuansa agama yang kental dan kuat. Maka tidak perlu diragukan lagi, jika sejak Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat SD) sampai Madrasah Aliyah (setingkat SMA) sekolah saya berbasis pendidikan agama. Ini merupakan dorongan dari orangtua tercinta, terutama dari ayah (almarhum) yang menginginkan anak-anaknya memiliki pemahaman dasar mengenai agamanya sendiri. Agar kelak dapat menjadi landasan berpikir dan bersikapnya di masa depan.

Yaa… sebut saja Pesantren dengan konsep Boarding School yang mengharuskan siswanya untuk berasrama. Selama menjalani kehidupan berasrama itu pula, saya mengikuti program informal pesantren, yaitu Tahfizhul Quran atau penghafalan quran. Bertahun-tahun dalam suasana pesantren, terkungkung dalam berbagai aturan absolut mengenai ketentuan selama masa belajar, sama sekali tidak terbayangkan jika kelak saya akan menghadapi suasana pendidikan yang lebih bebas dan luas. Suasana sekolah berasrama tentu sangat berbeda dengan anak-anak sekolahan umum. Jika anak-anak sekolahan di luar sana akan merasa excited tiap kali bertemu dengan teman mereka tiap pagi di kelas, sedangkan anak pesantren tidak demikian. Bagaiamana mungkin merasa excited kepada orang yang kita temui sepanjang hari, bahkan satu bangsal kamar tidur? Haha.

Akhirnya setelah melewati masa belajar dan menghafal Qur’an di pesantren, dan dinyatakan lulus — tepatnya pada tahun 2014, maka saat itu saya diberi kebebasan dalam memilih ranah pendidikan selanjutnya. Awalnya banyak kebimbangan yang berujung dilema soal ke mana saya setelahnya. Apakah mengikut pada kebanyakan alumnus pesantren, yang menuntut ilmu di negeri-negeri Timur Tengah seperti Mesir, Arab Saudi atau Sudan? Ataukah sedikit “melenceng” dengan mencoba peruntungan di jurusan IPA atau IPS?

mahasiswa farmasi dari cucu hawa

mahasiswa farmasi dari cucu hawa

Maka dengan berbagai pertimbangan, serta nasihat dan wejangan dari berbagai pihak, saya mantap memilih melanjutkan pendidikan perkuliahan di jurusan Eksakta atau IPA, khususnya di bidang Kesehatan. Pertimbangan paling dasar yang muncul di benak saya tentunya, bahwa sudah terlalu banyak lulusan pesantren dengan pendidikan lanjutan berbasis agama atau bahasa arab. Lulusan pesantren tidak melulu harus mengarah ke situ. Hal tersebut adalah motivasi awal yang saya jadikan alasan utama “melenceng”. Lagi pula masih sedikit anak pesantren yang mengambil jurusan umum setelah lulus. Selain ingin tampil beda, tentunya dorongan yang paling kuat adalah bagaimana menjadikan lulusan pesantren juga dapat mengambil berbagai bidang, dan tidak dianggap ranah pendidikan yang kolot dan terbelakang. Maka untuk membuktikannya, saya ingin mengambil peran untuk ikut mencoba merubah persepsi murahan tersebut.

Usaha saya awali dengan mencoba jalur SBMPTN dengan pilihan prodi Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Dua jurusan dengan passing grade luar biasa setiap tahun. Banyak yang meragukan, baik dari kawan-kawan, bahkan orangtua. Namun saya berkilah bahwa mungkin saja ada keajaiban dibalik kalimat “siapa tau lolos”. Haha, ada-ada saja. Dan keraguan itu pun terbukti, saya dinyatakan tidak lolos. Saat itu nafas seolah makin memanjang, dan dada terasa makin penuh oleh desahan nafas yang siap tumpah. Sesak sekali!

Saya merasa bahwa mungkin ini memang bukan rezkiku. Rasa pesimis pun makin beranak pinak. Namun, saya merasa tidak pantas menyerah di awal, apalagi teringat dengan motivasi awal saya yang pernah menggunung dalam fikiran serta usaha pembuktian yang tidak pantas saya kubur terlalu cepat. Maka saya kembali mencoba pada jalur khusus yang disediakan PTN tempat saya mendaftar, yaitu Universitas Hasanuddin. Jalur POSK namanya (Prestasi, Olahraga, Seni dan Keterampilan) adalah jalur yang menawarkan kesempatan kedua pada calon mahasiswa yang tidak lolos di jalur SBMPTN maupun SNMPTN. Lewat jalur tersebut, saya menawarkan sertifikat tanda selesai hafal Qur’an sebagai persyaratan mendaftar. Jurusan yang kali ini saya sasar adalah FARMASI. Yah, saat itu saya pikir farmasi tidaklah jauh-jauh amat dari dunia kesehatan. Kecuali bahwa jurusan ini bakal banyak ilmu kimianya, begitu dalam benak saya.

Saya yang awalnya minder dan merasa risih dengan pendaftar di jurusan yangs sama, yang dengan percaya diri memperlihatkan berbagai model prestasinya kepada penguji. Bahkan ada yang unjuk kebolehan. Mereka semua luar biasa, pikir saya. Awan-awan hitam pesimis kembali menggelayut. Segala macam doa dan pengharapan meluncur deras, mengusir kegelisahan dan keraguan yang ada. Beberapa saat kemudian, hati terasa mantap kembali melangkah.

keep smile

keep smile

Tak disangka, beberapa hari setelah tes wawancara, saya dinyatakan lolos dan diterima sebagai mahasiswa baru Fakultas Farmasi Unhas. Bahkan lebih mencengangkan lagi, saya diketahui sebagai yang satu-satunya lolos sebagai pendaftar POSK di Farmasi. Seperti tak percaya si Ayah, yang saat itu masih ada. Langsung kupeluk dan kucium tangan ibu berulang kali. Setelah itu, saya sujud syukur lamaaaaa sekali. Haru rasanya.

Dan kinilah saya sekarang, sebagai mahasiswa semester 4 Farmasi Universitas Hasanuddin. Banyak hal yang telah menjadi cerita dan pengalaman luar biasa selama menempuh studi di jurusan ini. Mulai dari banyaknya pemahaman-pemahaman baru mengenai dunia farmasi yang mencakup obat-obatan (tentu saja!), Suplemen, Kosmetik, produk makanan bahkan dunia medis secara umum. Jurusan yang identik dengan padatnya perkuliahan dan banyaknya bentuk laporan praktikum itu benar adanya saya dapatkan di sini.

Sejak masih di pesantren dahulu, sama sekali tidak ada bayangan bisa bertransformasi sejauh ini. Dari tampilan santri pondokan dengan gaya alakadarnya, yang tidap hari makanannya adalah ilmu-ilmu agama seperti Aqidah akhlak, Hadits, Fiqhussunnah, Ulumul Qur’an, bahasa Arab dan Inggris. Kini, menjadi mahasiswa kesehatan dengan tampilan jas laboratorium yang hampir melekat tiap hari bersama ilmu-ilmu Farmakologi, farmakognosi, Fitokimia, Farmasetika, Kimia analisis dan masih banyak lagi.

Satu pengharapan saya yang paling besar saat ini; ketika kelak telah menjadi Apoteker sungguhan, saya mampu menjadi penggerak di bidang peningkatan kesehatan masyarakat, terutama dalam hal penggunaan obat-obatan dan produk farmasi yang lainnya, sekaligus ingin benar-benar membuktikan bahwa alumni pesantren juga bisa tampil sebagai ilmuwan yang berkompeten serta berakhlaqul karimah. Aamiin.

kerja laporan sampai berantakan kayak kapal pecah

kerja laporan sampai berantakan kayak kapal pecah