Wiwik Salwidyah: “Tentang pena, pers (mahasiswa) dan penulis.”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer.

Hy Saya Wiwik Salwidyah

Hy Saya Wiwik Salwidyah

Halo Wovger, perkenalkan nama saya Wiwik Salwidyah Ningsih, sekarang menempuh pendidikan di Universitas Fajar Makassar semester 6,  jurusan ilmu komunikasi, konsentrasi Jurnalistik. Kenapa pilih jurnalistik? Saya ingin jadi Wartawan.

Lalu pertanyaan selanjunya, kenapa mau jadi wartawan?

Pertanyaan itu sama seperti, mau jadi apa kau lima tahun ke depan? Impianmu? Cita-citamu? Apa yang harus kau lakukan sekarang untuk itu semua?

2

Sebenarnya saya ingin menjadi penulis. Semua persoalan kecemasan, terlalu banyak berpikir, tertutup, juga pendiam, membuatku berpikir untuk perlu membangun benteng pertahanan yang kuat dari orang-orang yang mudah mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan apa pun. Menurutku itu harus dibangun dari pengetahuan, pengetahuan yang banyak dan luas. Pikiran itu akan membuatku terus merasa cemas dan khawatir jika tidak ada yang bisa kuandalkan dengan otak.

Beberapa kali ikut lomba menulis, sebenarnya baru tahun ini saya memberanikan diri untuk mencoba, dan Alhamdulillah setelah dua kali ikut, ternyata menang, dan cerpen saya menjadi salah satu Kontributor pada buku kumpulan cerpen. Setelah itu saya sadar bahwa; saya hanya takut untuk mencoba.

Image-3

Oke, jadi kembali lagi ke soal wartawan. Pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang tidak akan jauh dari pengetahuan, itu akan membuat saya merasa kuat juga dapat memperoleh ilmu dari menulis. Tapi nyatanya di sinilah saya berhadapan dengan kekhawatiran saya sendiri, bertemu banyak orang, kesulitan membuka diri, bersosialisasi, dan saya sedang belajar mengontrolnya sekarang.

Awalnya saya berpikir bahwa; menjadi wartawan adalah pekerjaan yang baik, membantu sesama untuk mendapatkan informasi yang mereka perlukan. Tapi realitanya, menjadi wartawan bisa saja sebaliknya; membunuh banyak orang, menjauhkan mereka dari hak mereka, membutakan pikiran dan perasaannya.

Saya tidak senang jika banyak orang di sosial media lebih mudah marah karena berita-berita sensasional bin fakir klik. Saya jengkel saat adik saya lebih hapal alur cerita dan karakter serial India di TV daripada menjelaskan tugas sekolahnya sendiri.

Saya khawatir dengan pemberitaan di Televisi atau pun Koran yang keliru. Saya berpikir; bagaimana jika pembaca atau penonton memercayai itu? Bagimana jika pola pikir mereka menjadi negatif? Bagaimana jika begini…bagaimana jika begitu…?

Saya berharap mereka bisa menjadi lebih baik saat berhadapan dengan media, namun saya keliru. Saya ingin pikiran mereka baik-baik saja, tapi saya tidak punya kuasa akan itu, dan yang paling penting; saya belum tahu banyak hal.

Saya pikir, di situlah awal keinginan saya untuk menjadi wartawan. Namun rasa khawatir saja tidak cukup. Saya melihat diri sendiri dan kembali bertanya; apakah tepat jika saya menjadi seorang wartawan? Wartawan bukan sekedar pekerjaan menulis. Bagi saya, ini adalah pekerjaan kemanusiaan.

Image

Oh iya, di kampus, saya sempat menjadi anggota pers mahasiswa. Dua tahun lebih menjadi anggota pers, banyak member saya pelajaran. Selain dalam hal jurnalistik tentunya, di sana saya juga belajar tentang bagaimana kerja tim yang baik, bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang unik-unik, dan yang paling berkesan adalah saat saya menjadi sekertaris panitia dalam kegiatan kampus skala nasional. Di sini selain tekun, kami juga dituntut untuk dapat mengatur waktu sebaik mungkin.

Saya juga berada di lingkungan yang sangat mendukung impian saya ini. Teman dan keluarga yang selalu memotivasi setiap langkah saya, meskipun kami tidak menyenangi atau menekuni bidang yang sama, tapi kehadiran mereka sendiri dalam hidup saya adalah sebuah kesyukuran.

Image-1