Anna Rosdiana: “Kesulitan itu akan berlalu, asal dihadapi, dan menjadikan semuanya menjadi lebih baik.”

Halo Wovger, dengan adanya sayembara menulis bertemakan bebas namun menginspirasi, maka kali ini aku ingin menuliskan rangkaian cerita dalam hidupku. Di dalam sebuah perjalanan kehidupan, ada banyak hal yang terjadi di dalamnya, baik itu terasa manis atau pun pahit, keduanya terjadi, dan mau tidak mau menjadi bagian dari cerita kehidupan. Sudah pasti senang rasanya ketika manisnya kehidupan menghampiri, namun ketika pahitnya kehidupan yang menghampiri, entahlah, apa yang dirasa. Seakan semua rasa tak karuan.

Aku yakin, semua orang pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya. Namun bagaimana mengecap rasa dalam kesulitan yang dialami, tergantung bagaimana cara orang itu menyikapi dan menghadapinya, mengemas kesulitan yang dialami sebagai hidayah untuk hijrah.

Banyak yang menjadikan kesulitan semakin sulit, namun tidak banyak juga yang menjadikan kesulitan menjadi ringan, bagaimana pun jua, cara keduanya lebih tersorot sisi cara menghadapi suatu kesulitan, dengan semakin sulit.

Buktinya saja, seperti tindak kriminal yang marak terjadi saat ini, namun kalau kita benar meyakini apa yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al Insyiroh; bahwa Sesungguhnya  sesudah  kesulitan itu ada kemudahan, maka tidak ada lagi itu yang namanya tindak kriminal. Bahkan tak kan pernah terjadi tindak kriminal apa pun — yang banyak ditempuh orang-orang dengan dalih sebagai jalan pintas memperoleh sesuatu.

Semua orang itu memiliki masalah dan kesulitan, itu pasti pernah dirasakan. Namun percayalah, bahwa kesulitan itu akan berlalu, asal dihadapi, dan menjadikan semuanya menjadi lebih baik. Percayalah Wovger, karena aku pun pernah mengalaminya sendiri.

IMG5978A

 

Dulu, aku orang yang termasuk menganggap semua hal mudah, menjelang lulus SMK aku berminat untuk langsung bekerja, hingga aku sudah mulai mempersiapkannya, meski tahu belum mempunyai KTP — yang merupakan persyaratan utama. Aku segera membuatnya, seakan semuanya terkesan cepat, agar cepat juga mendapatkan pekerjaan.

Setelah resmi lulus SMK dan persyaratan bekerja pun sudah siap, aku mulai mencari pekerjaan dan memasukkan beberapa lamaran ke perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Ternyata yang aku anggap mudah itu begitu sulit. Ya, mendapatkan pekerjaan itu tidaklah mudah, sangat sulit. Apalagi pekerjaan yang sesuai dengan harapan.

Singkat cerita, aku keterima bekerja di Perusahaan Textile, sebagai Operator Produksi — yang mana ini begitu jauh dengan ilmu dan keahlian yang aku dapatkan di SMK jurusan Akuntansi. Namun meski begitu, aku menjalankannya, karena inilah kesempatan dan pengalamanku.

Aku yang dulu tidak tahu dunia pekerjaan yang sesungguhnya itu seperti apa, kini menjadi tahu. Ternyata, sebutan orang yang bekerja sebagai ‘pegawai’ itu tidak seenak yang dibayangkan, apalagi bekerja di industri seperti Pabrik yang jam kerjanya dengan sistem shift. Ketika orang lain tertidur, saya bekerja, dan cara bekerjanya dengan berdiri. Orang seperti saya, belum terbiasa dengan sistem demikian. Jadi, saya merasa sangat lelah pada masa-masa awal bekerja.

Hmm.. seakan tak sanggup jika terus bekerja seperti ini, meski tahu banyak sekali orang yang bekerja seperti ini, namun entahlah, saya tidak bisa sekuat mereka, aku hanya bisa mengakui bahwa mereka begitu hebat memperjuangkan hidupnya, hingga saya memutuskan keluar bekerja dan melanjutkan kuliah lagi, agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun kali ini saya ingin biaya selama kuliah tidak melibatkan orangtua. Bagiku, sudah cukuplah anggaran biaya yang dikeluarkan keluargaku sedari TK – SMK. Dan untuk kuliah, biar aku yang menanggung, karena aku ingin tahu bagaimana kerasnya memperjuangkan apa yang diinginkan.
IMG0070A

 

Aku pun mencari tempat kuliah yang bisa sambil bekerja, karena aku ingin menjalankan keduanya, dan alhamdulillah aku pun mendapatkannya. Aku pun merasakan bagaimana menjalankan kuliah sekaligus bekerja. Melelahkan memang, namun membanggakan, karena tidak semua orang bisa melakukannya.

Pekerjaan yang aku dapatkan, begitu berbeda dari sebelumnya; aku menjabat sebagai Staf Administrasi. Ternyata ketika aku menduduki jabatan itu, jabatan yang banyak dipandang orang sungguh menyenangkan, faktanya tidak se-menyenangkan itu rasanya. Sama saja kerja di pabrik maupun di kantor, sama-sama melelahkan dan juga berisiko.

Aku mulai didera rasa jenuh dengan pekerjaanku yang seakan penuh tekanan, aku ingin bekerja dengan begitu nyaman, meski banyak yang memberi saran untuk aku agar bertahan bekerja di sana. Namun, rasanya aku ingin keluar saja, karena aku yakin akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Terlebih, sikapku yang memandang semuanya mudah.

Aku pun menyandang gelar pengangguran. Waktu yang biasanya begitu sibuk, mendadak menjadi begitu luang, seakan semua hari itu bak hari minggu. Aku yang tahu sulitnya mencari dan mendapatkan pekerjaan, kini merasakannya lagi. Entahlah. Seharusnya, apa yang terjadi aku jadikan pembelajaran, tapi malah aku abaikan. Bagaimana mau membiayai kuliah sendiri kalau sekarang menganggur?

Sebenarnya, orangtuaku siap menanggung biaya kuliah. Namun aku enggan, karena kembali pada niat semula, bahwa aku ingin membiayai kuliahku sendiri. Singkat cerita, aku pun memutuskan untuk berhenti kuliah sementara waktu. InsyaAlloh aku akan melanjutkan lagi, setelah aku mendapatkan pekerjaan nanti.

Bagaimana ini? Kedua kegiatan yang aku jalani kini musnah. Inilah titik yang aku anggap begitu sulit. Seketika itu aku tersadar, ya, saat ini aku telah diuji; bahwa aku harus merubah paradigmaku yang menganggap semuanya mudah. Semua itu memang mudah, namun tak semudah yang dibayangkan. Butuh usaha yang diiringi doa untuk melaluinya.

Menganggur membuat waktuku banyak tersita di rumah, membantu mamah dalam mengatasi tugas rumah. Aku perempuan, tentu tak salah jika melakukan pekerjaan tersebut, seperti mencuci, memasak, membereskan rumah. Toh, setelah berkeluarga nanti, tugasku sebagai ibu rumah tangga juga akan seperti itu.

Ketika aku menganggur aku jadi tahu begitu berartinya kebersamaan bersama keluarga, dan begitu mulianya pekerjaan mamah, hingga aku pun tidak ingin lagi menentangnya, bahkan berdebat lagi dengannya, yang dulu aku rasa banyak mengatur urusanku. Kalau mamah menasihati, dulu aku sering menjawab:

“Jaman mamah dan aku itu berbeda. Jadi jangan pernah disamakan!”

Ternyata kalau dipikir-pikir, semua dan apa-apa yang dilakukannya itu untuk kebaikanku jua. Aku yang jarang menjalankan perintahNya secara utuh, bahkan tepat waktu, mulai memperbaikinya, dan bisa memenuhinya secara tepat waktu, bahkan di awal waktu. Sungguh merugi bahwa aku pernah menyia-nyiakannya. Aku yang dulu jarang sekali membuka kitab yang diwahyukan pada Nabi Muhammad, kini menjadi tergerakkan untuk membacanya, lembar per lembar, hingga aku bernadzar; jika aku menyelesaikan membaca AlQur’an, aku akan menutup auratku.

20151013_204054

Alhamdulillah, perlahan, perubahan baik menghampiri hidupku. Meski aku tidak memiliki pekerjaan dan jua tidak kuliah, namun aku merasa, inilah waktu yang sangat berharga, waktu yang menyadarkan aku; bahwa ada sesuatu yang harus aku rubah dalam hidupku untuk menjadikan aku lebih baik.

Aku tidak henti berdoa; semoga segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan tidak jauh dari rumah. Setiap mendapatkan informasi pekerjaan, aku segera memasukkan lamaran. Setelah menikmati masa pengangguran yang cukup lama, akhirnya doa saya terjawab; saya mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang selalu terucap dalam doa.

Benar-benar, doa itu begitu kuat. Alhamdulillah, aku diterima di Perusahaan Manufaktur, sebagai Staf Keuangan yang segala kegiatannya sama dengan ilmu yang aku pelajari semasa sekolah. Mungkin bisa dikatakan; teorinya di sekolahan dan praktiknya di perusahaan.

Kini aku begitu merasa nyaman mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Meski aku lulusan SMK, namun aku bisa bekerja dan terlibat dengan mereka-mereka yang lulusan S1 dan S2. Ternyata bukan (hanya) pendidikan, yang merupakan hal utama untuk mendapatkan pekerjaan baik. Namun, apa pun itu, jika Alloh Swt sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menentang-Nya.

Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kita tidak boleh terfokus mengejar apa yang ingin didapatkan. Namun, yang harus difokuskan ialah mendekatkan diri kepada Pemilik Kekuasaan yang Maha Pemilik Atas Segala Sesuatu — Alloh Swt — maka apa yang kita inginkan, akan begitu mudah untuk didapatkan.

Kini aku tidak menganggap semuanya mudah, tetapi aku mengaggap semuanya (segala sesuatu yang telah terjadi) selalu ada hikmahnya, yang menjadikannya lebih bermakna.

Semua paradigmaku benar-benar berubah, telah hijrah pada segala sesuatu yang bernama kebaikan. Aku berubah; dari yang jarang bersama keluarga, menjadi harus bersama keluarga di setiap waktu. Dari pendengaran dan penglihatan yang banyak terhipnotis oleh lagu, sinetron, infotainment, kini menjadi terpikat dengan acara-acara ceramah, murrotal Al Qur’an. Dari yang pacaran, menjadi taaruf, sebagai jalan menjalin hubungan menuju pernikahan. Dan masih banyak lagi perubahan baik lainnya yang selalu terus diperbaiki, untuk menjadi lebih baik. Dan apa yang berubah dalam hidupku, bersumber dari hidayah yang aku dapatkan di tengah kesulitan yang mendera. Namun meski begitu, hidayah itu menjadi hijrahnya hidupku.

Aku bersyukur atas segala nikmat-Nya, dan semoga kebaikan yang selalu aku niatkan, selalu diridhoi-Nya, dan berharap segala yang terbaik dariNya.

Nha Anna Diana