Edde Enovani Iwo: “Perceraian kedua orangtua mengajarkanku tentang kehidupan.”

Broken home taught me about life – Perceraian mengajarkanku tentang kehidupan.”

Everyone has a story to tell. Setiap orang punya ceritanya sendiri. Karena manusia adalah cerita. Seperti dalam sinetron yang kita ketahui di Indonesia, jika ratingnya bagus, production house (PH) dari televisi tersebut akan terus menayangkannya sampai sang tokoh utama menikah, punya anak, lalu punya cucu (ini emang rada lebay sih, tapi bener kan?). Bedanya sinetron dengan kisah nyata? Ya bedanya jika sinetron, bisa saja kita menghentikan cerita jika kita mau. Tapi kalau kehidupan nyata? Kamu harus terus menjalani kehidupan yang kamu lalui walau itu terasa pahit. Karena setiap orang pasti memiliki sisi pahit dalam kehidupannya. Termasuk aku.

Aku lahir sebagai anak pertama dari ibu kandungku. Mungkin Wovger akan bertanya-tanya; apakah aku juga memiliki ibu tiri, hingga harus menjelaskan bahwa aku adalah anak pertama dari ibu kandungku? Ya, memang aku memiliki ibu tiri. Ibu tiri yang jauh berbeda gambarannya dengan kisah bawang merah dan bawang putih. Ibu tiri yang sangat menyayangiku layaknya (sebagai) anak kandungnya. Mungkin jika kisah bawang merah dan bawang putih atau kisah lainnya yang menggambarkan bahwa ibu tiri itu jahat tidak pernah ada, saya rasa anak-anak akan bangga memiliki ibu tiri. Itu artinya, mereka bisa mendapatkan kasih sayang dari 2 ibu yang berbeda. Karena itulah yang aku rasakan saat masih kecil. Aku punya 2 ibu dan aku sangat bahagia.

Processed with VSCOcam with t1 preset

Processed with VSCOcam with t1 preset

Sewaktu masih kecil, aku banyak menghabiskan waktu di rumah sakit untuk dirawat. Dari demam tinggi hingga mengalami kejang, muntaber, gejala tipus, sesak nafas, sampai terakhir kalinya dirawat, aku terkena demam rematik (radang persendian yang terjadi pada anak-anak). Total 6 kali aku masuk rumah sakit dan dirawat. Untungnya tidak pernah ada penyakit yang serius yang mampir di tubuhku. Tapi mungkin karena kekhawatiran orangtua yang berlebihan karena rasa sayangnya pada anaknya, papa memutuskan untuk tidak memakai jasa baby sitter lagi untukku dan adik perempuanku. Sehingga bunda yang sebelumnya bekerja di sebuah bank swasta, memutuskan untuk berhenti bekerja karena permintaan papa. Dan mengabdikan dirinya sebagai ibu rumah tangga.

Karena jarak usiaku dan adik yang tidak terlampau jauh, aku pun banyak menghabiskan waktu kecil bersama mama. Papa seringkali menitipkanku di rumahnya, ketika beliau bekerja. Sedangkan bunda di rumah, mengurus sendiri adik perempuanku.

Tapi…

Sekalipun aku tidak pernah mendengar ucapan terimakasih yang terlontar dari bibir bunda untuk mama.

***

Kali ini aku mau sharing tentang “Broken Home“. Bukan maksud untuk menyebarkain aib keluarga atau aib orang lain, namun tujuan paling utamaku menulis di sini, murni hanya untuk berbagi pengalaman supaya kita bisa mengambil hikmah dari cerita yang nanti akan aku berikan. Dan jauh lebih berhati-hati untuk mencari pendamping hidup yang nantinya akan menjadi imam bagi kita dan anak-anak kita kelak.

Terkadang, perceraian adalah satu-satunya jalan bagi orangtua untuk dapat terus menjalani kehidupan sesuai yang mereka inginkan. Namun apa pun alasannya, perceraian selalu menimbulkan akibat buruk pada anak. Walaupun dalam kasus tertentu dianggap alternatif terbaik bagi mereka, daripada membiarkan anak tinggal dalam keluarga dengan kehidupan pernikahan orangtua yang buruk.

Pada umumnya, orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian dibandingkan anak-anak mereka. Mengapa? Karena sebelum perceraian, sudah pasti ada proses berpikir dan pertimbangan yang panjang di antara mereka (orangtua). Sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Dan ini tidak berlaku demikan dengan anak-anak. Anak-anak mau tidak mau harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh kedua orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja ayah tidak akan pulang lagi ke rumah, tidak ada lagi yang mengantar dan menjemput mereka ke sekolah, tidak ada lagi yang mengajak mereka bermain hal-hal yang sedikit menantang yang selalu ibu anggap adalah hal berbahaya, tidak ada lagi acara jalan-jalan di weekend ketika sekolah libur, dan masih banyak lagi dampak yang diterima anak-anak ketika orangtua mereka bercerai. Dan biasanya, ibu akan selalu menang dalam sidang pengadilan untuk hak asuh anak-anak mereka jika usia anak masih di bawah 17 tahun. Biasanya…

Pada masa ini, anak juga diharuskan memulai beradaptasi dengan perubahan hidupnya. Hal-hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtua bercerai adalah perasaan tidak aman, tidak diinginkan, sedih, kesepian, marah, kehilangan, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, dan lain sebagainya, yang membuat anak dapat termanifestasi dalam perilaku negatif.

Mengapa aku bisa bilang seperti itu? Karena aku juga termasuk salah satu korban keegoisan orangtua. Ketika tanda-tanda perceraian sudah terlihat di pelupuk mata, aku menjadi anak yang sangat negatif. Dan dengan berperilaku negatif, aku merasa sangat puas. Mungkin Wovger akan bertanya-tanya perilaku negatif apa yang telah aku lakukan. Baik, aku tidak akan malu untuk mengakui hal negatif apa yang menjadi pelampiasanku.

Ketika duduk di kelas 3 SMA, aku berubah menjadi seorang Cleptomania. Aku mencuri uang, pakaian, jam tangan milik teman-temanku. Dan hal itu berlangsung lama, tanpa pernah diketahui teman-temanku.

Aku seorang yang mudah beradaptasi dan extrovert, sehingga memiliki banyak teman, bahkan sahabat. Namun tanpa mereka ketahui, aku mengecewakan mereka. Aku seorang backstabber. Di belakang mereka, aku merugikan mereka, Mengambil barang-barang kesayangan, bahkan uang mereka untuk kesenanganku sendiri. Dan ini berlangsung hingga aku sudah duduk di bangku kuliah, tepatnya semester 5. Mengapa hanya sampai semester 5? Ya, seperti kata pepatah;

Sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Kedokku diketahui oleh teman-teman dekat di kampus. Aku dijauhi selama 6 bulan. Tidak ada yang mengajakku bicara. Orang melihatku dengan tatapan “masa sih? ga percaya”, bahkan ketika ulangtahunku yang ke dua puluh, tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkannya. Aku sendiri. Sepi. Tak tahu harus berbuat apa.

Papa dengan bunda (ibu kandungku) adalah pernikahan keduanya. Istri pertama papa adalah kakak kandung dari bunda yang biasa kupanggil dengan sebutan mama. Heran? Ya aku pun sampai sekarang masih belum mengerti mengapa papa bisa menikahi adik kandung istri pertamanya. Kalau istilahnya adalah turun ranjang. Tetapi dalam ajaran Islam, setahuku, menikahi adik kandung dari istri pertama hukumnya haram, kecuali jika istri pertamanya telah meninggal dunia.

Papa bercerai dengan mama di tahun 2002. Lalu bunda menjadi istri satu-satunya. Papa sudah sering pulang ke rumah. Tidak lagi ke rumah mama yang di Cilandak. Dulu sebelum bercerai dengan mama, papa selalu membagi waktunya. Tidak tiap hari ada di rumah. Sehari di rumah, sehari di rumah mama, dan begitu seterusnya. Aku sedikit mulai merasa memiliki kebahagiaan seutuhnya. Kini papa benar-benar milik kami bertiga. Apalagi setelah kelahiran adik laki-lakiku yang usianya terpaut cukup jauh denganku yaitu 10 tahun, kami menjadi keluarga yang sangat bahagia. Setiap weekend kami selalu berolahraga. Setelah itu papa mengajak kami naik kuda atau delman.

Ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Ketika aku mulai SMA, papa sedikit banyak mulai berubah. Papa sering dinas ke luar kota. Olahraga di minggu pagi bersama-sama sudah jarang dilakukan. Sampai ketika aku kelas 2 SMA, aku melihat bunda menangis. Tidak keluar kamar dari pagi hingga larut malam. Dan papa juga tidak pulang. Aku bingung dan menatap tanya ke mbak isah (pembantuku saat itu) yang dijawab dengan gelengan kepala. Bunda jarang sekali menangis. Hampir tidak pernah aku melihatnya sedih, apalagi menangis. Dan aku memutuskan menunggu di luar kamar bunda, sampai akhirnya bunda keluar dengan mata bengkak dan wajahnya merah. Aku memberanikan diri bertanya padanya; apa yang sudah terjadi? Tapi bunda malah menyuruhku tidur.

Dan lambat laun aku pun mengerti apa yang telah terjadi dengan kedua orangtuaku. Papa adalah seorang pengacara. Dan beliau jatuh hati pada kliennya sendiri yang umurnya terpaut cukup jauh, yaitu 22 tahun. Dan berbeda agama. Pada awalnya papa selalu menyimpan dengan sangat apik hubungan gelapnya dengan wanita itu. Tapi lama-kelamaan dia kelewat blak-blakan. Papa sering menerima telepon diam-diam, papa dan bunda pisah kamar, papa sering menghabiskan waktu di luar, dan kembali ke rumah jika waktunya tidur. Bahkan aku pernah melihatnya ketika pulang dari bimbingan belajar, dia boncengan dengan wanita itu mengendarai moge-nya (motor gede) sambil berpelukan. Papa berselingkuh.

Semenjak saat itu aku mulai berubah. Aku sempat merasa hebat, karena dengan kondisi keluarga yang seperti itu aku tidak pernah sekalipun menyentuh minuman beralkohol, clubbing dan narkoba. Merokok pun tidak. Tapi ternyata efek dari perceraian mereka bikin aku bertindak melakukan hal yang merugikan orang lain. Merugikan teman, bahkan sahabatku sendiri. Dan itu berlangsung cukup lama.

Perceraian papa dengan bunda secara agama sebenarnya sudah terjadi ketika aku masih duduk di kelas 2 SMA. Tetapi secara hukum, baru terjadi ketika aku kelas 3 SMA.

Sebelum bercerai secara hukum, pertikaian bunda dan papa semakin sengit. Semakin tidak ditutupi dari kami anak-anaknya. Sempat papa ingin mencuri surat tanah dan rumah yang kami tinggali untuk dijual. Dan dia tidak peduli dengan nasib ketiga anaknya jika rumah itu dijual. Tidak peduli kami akan tinggal di mana. Tetapi alhamdulillah hal itu tidak terjadi. Bunda menyimpan dengan baik surat rumah. Bunda melindungi kami. Kasih ibu memang sepanjang masa.

Papa mulai kasar dengan bunda. Walau papa tidak pernah bermain tangan, tapi suara papa dan bentakan-bentakan papa ke bunda selalu ada, menghiasi rumah kami. Papa berubah.

Pernah suatu kali karena pertengkaran itu, aku mengajak adik laki-lakiku yang waktu itu masih TK, jalan-jalan sekedar mencari udara segar. Dia menggandeng tanganku. Tiba-tiba dia menarik lembut tanganku, sehingga membuatku menunduk menatapnya.

“Mbak Edde, waktu mbak Edde masih kecil, bahagia ya? Pasti sering ke Dufan, jalan-jalan, ke ragunan, sama bunda sama papa. Ga kayak sekarang ya mba?”

Pertanyaan adikku yang masih 5 tahun itu begitu tulus. Begitu jujur. Dan begitu innocent. Dia dewasa lebih cepat. Aku menangis. Tentu saja tidak dilihat olehnya. Kasian dia. Masih kecil harus melihat pertikaian-pertikaian sengit bunda-papanya. Bahkan dia pernah melihat bunda hampir menusukkan pisau ke papa yang pada akhirnya bunda melukai dirinya sendiri. Pisau itu menusuk pahanya begitu dalam karena papa menangkis serangan-serangan bunda. Darah mengucur dan papa tidak peduli. Adik laki-lakiku teriak, menangis kencang melihatnya, dan berteriak “HUUUUUUUUUUU PAPA NAKAL SAMA BUNDA!! HUHUHU……”

“Pa, aku minta uang dong. Besok aku ada acara LDKS. Seratus ribu aja kok buat beli cemilan-cemilan buat di sana. Soalnya aku LDKS 3 hari,” ucapku. Saat itu aku umur 16 tahun. Papa sedang berkutat di ruang kerjanya. “Papa nggak ada uang,” balasnya tanpa sedikit pun melihat ke arahku.

Aku kesal. Tidak mungkin papa tidak punya uang seratus ribu. Tapi aku memutuskan tetap pergi ke supermarket yang ada di mall, di Bilangan Bintaro bersama temanku. Sesampainya di sana, aku mengambil cokelat tanpa membayar. Aku ambil banyak cokelat dari berbagai merk, lalu aku masukkan ke dalam tas. Kemudian aku keluar melewati kasir begitu saja tanpa membayar.

Aku menunggu teman yang sedang antri untuk membayar makanan-makanan yang dibelinya di kasir. Sambil menunggu, sama memakan salah satu cokelat yang aku curi tanpa rasa takut. Dan aku pun ketahuan oleh satpam, dan digiring ke ruang keamanan. Di sana aku ditanya umur, sekolah, dan nomor telepon rumah. Aku menjawabnya dengan tanpa rasa takut. Lalu mereka menelpon papa.

Dalam waktu yang tidak cukup lama, papa datang. Tatapannya begitu menusuk. Dia sangat marah padaku. Lalu dia pun menamparku dengan keras hingga aku terjatuh. “Malu-maluin aja kamu!” Kemudian dia kembali ingin menamparku, namun salah satu satpam di sana menahannya. Mungkin satpam itu iba. Karena tamparan pertama papa saja sudah membuat rahangku sedikit ke kiri dan berdarah. Kemudian satpam dan beberapa staff di sana menjelaskan singkat apa yang terjadi. Kemudian papa bertanya; “Memang jumlah coklat yang dia ambil berapa? Biar saya bayar.” Ternyata coklat-coklat yang aku curi itu nilainya cukup besar. Hampir 500 ribu nominalnya. Dan papa membayar cash di depan mataku. Aku heran. Padahal aku hanya minta seratus ribu sebelum kejadian ini terjadi. Coba saja papa memberikannya sejak awal, aku yakin hal memalukan seperti ini tidak akan terjadi.

Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam. Mall sudah tutup. “Kamu pulang sendiri! Nggak sudi saya satu mobil dengan pencuri!” kata papa sambil menunjukku. Lalu dia pergi begitu saja.

Saat aku keluar dari ruangan itu, ternyata temanku masih setia menunggu. Dia membelaku di depan ayahnya ketika ayahnya bertanya kenapa aku begitu lama. Akhirnya aku ikut dengannya, ke rumahnya. Di sana aku menceritakan semuanya. Dan temanku memaklumi dan memaafkanku. Begitu beruntungnya aku memiliki teman seperti itu. Kemudian teleponku berdering tiada henti. 17 missed calls. Semuanya dari bunda. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam dan aku memutuskan pulang — yang awalnya dilarang oleh ayah dan ibu temanku. Tapi aku harus pulang. Bunda pasti sangat khawatir.

Karena sudah terlalu larut malam, aku memutuskan jalan kaki ke rumah, karena aku tidak mempunyai uang untuk naik ojek. Jarak dari rumah temanku ke rumahku sekitar 4 kilometer. Dan sesampainya di rumah, ternyata papa menungguku dengan murka. Di tangannya sudah ada gagang sapu yang aku yakin akan digunakannya untuk memukulku. Benar saja, bukannya disambut setelah pulang, aku malah dipukuli. Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak minta ampun pada papa. Aku hanya bisa diam menerima pukulan yang bertubi-tubi tidak ada hentinya. Bunda hanya bisa menangis, melihat aku dipukuli seperti itu.

Setengah jam kemudian, mungkin papa sudah lelah. Pukulan-pukulan mautnya berhenti dan dia menyuruhku tidur. Bagaimana bisa tidur dengan luka di seluruh tubuhku?

Lalu aku pergi ke kamar dan bunda menyusulku lima menit kemudian, dengan air hangat dan handuk kecil yang dibawanya. Aku tetap tidak menangis. Luka di seluruh tubuhku, tidak sebanding dengan luka yang ada di hatiku saat itu. Bunda membuka bajuku, dan menangis kembali melihat lebam-lebam yang kini menunjukkan tulang-tulang yang menonjol, serta darah beku yang membuat warna kulitku menjadi ungu.

Perceraian secara hukum pun terjadi. Papa dan bunda resmi bercerai. Tidak tinggal serumah lagi. Papa memutuskan pergi dari rumah dan tinggal bersama istri baru dan anak-anak tirinya. Sepi. Sunyi. Tidak terbiasa dengan ketidak beradaan papa di rumah. Biasanya papa selalu menggoda kami ketika malam hari. Sepulang kerja, atau sebelum kami tidur. Entah itu menciumkan ketiak basahnya yang bau sengit, menggelitiki kami hingga tak mampu lagi menahan air mata karena kelelahan tertawa, menyuruh aku atau adik perempuanku untuk membuatkan teh atau kopi, menyuruh bunda membuatkan mie instan untuknya yang kemudian kuahnya menjadi rebutan aku dan adik, dan banyak hal yang membuat rasa “kehilangan” itu semakin nyata.

1

Aku lulus SMA. Dan tentu saja papa tidak hadir di acara kelulusanku. Hanya bunda. Bunda yang selalu ada di sisiku. Papa pun tidak pernah memberi kami semua uang lagi. Termasuk kepada adikku yang paling kecil. Eddok Fivtende Zewo. Anak yang paling disayang olehnya. Aku dan kedua adikku dibiayai semuanya oleh bunda. Bunda yang notabene hanya “pengangguran”.

Memasuki bangku kuliah, aku makin menjadi-jadi. Papa yang tidak peduli lagi padaku, dan bunda yang memberi uang saku sangat kurang untukku, membuatku (kembali) menjadi pencuri. Di tahun ketiga kuliah, aku ketahuan. Aku dimusuhi. Aku tidak punya teman. Dan aku memutuskan untuk mengakui semua perbuatanku, dan minta maaf atas semua perbuatan itu. Di luar dugaan. Teman-temanku memaafkan, dan memberikanku kesempatan kedua untuk berubah. Mereka sangat sayang kepadaku. Mereka membantuku untuk benar-benar berubah. Subhanallah. Allah begitu sayang padaku. Aku memang tidak memiliki keluarga yang harmonis, aku tidak kaya, aku tidak pintar, tapi aku diberi teman dan sahabat yang begitu sayang padaku, dan menerimaku apa adanya. Bahkan mau membantuku untuk menjadi orang yang jauh lebih baik. Terimakasih kalian — yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu namanya di sini.

Aku dan Papa

Aku dan Papa

Meskipun seorang anak mengalami perpisahan orangtua ketika masih kecil, memori tersebut dapat bertahan hingga ia tumbuh dewasa. Anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang pemarah, agresif dan penakut nantinya.

Aku memang kecewa. Aku sedih. Aku marah atas apa yang terjadi dengan keluargaku. Tapi di balik itu semua, aku juga sangat berterimakasih kepada Allah yang telah memberi ujian seperti ini. Allah menuliskan takdirku untuk menjadi perempuan yang sangat kuat. Allah menakdirkanku untuk menjadi perempuan yang mandiri. Dan Allah memberikan aku teman-teman yang begitu sayang padaku. Dan keluarga besar yang tadinya bermusuhan, dieratkan kembali dengan peristiwa ini. Bunda dan Mama menjadi saudara yang selayaknya. Hubungan mereka sangat baik. Terimakasih ya Tuhan.