Ivan Suaidi: “Sudahkah kita merubah diri menjadi pemuda yang lebih baik, agar dapat merubah dunia?”

’BERIKANLAH aku seratus pemuda yang sanggup hidup jujur dan menderita, maka akan kurombak wajah Italia.’’

– Ignazio Silone –

 

‘’Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung semeru, tapi kalau sepuluh pemuda diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan.”

– Soekarno –

 

soekarno

Baik Silone maupun Bung Karno tentu tidak dalam kesadaran yang kurang ketika mengucapkan itu. Artikulasi yang dikemukakan menyiratkan sebuah magnet patriotisme dan nasionalisme yang sangat kental untuk dijadikan suatu bentuk keyakinan mendasar, bahwa fundamentalisme kepemudaan akan mampu menghadirkan titik balik peradaban suatu bangsa. Mereka berdua sama-sama berangkat dari asumsi kodrati yang kemudian menjadi kepercayaan, bahwa dengan pemuda, mereka sanggup melakukan apa saja, tak terkecuali untuk mengobati kemurungan wajah sebuah bangsa yang lagi sakit, ataupun dengan antusiasme yang tinggi untuk menggoncangkan dunia. Dan memang pemuda adalah ujung tonggak tegaknya sebuah kedaulatan, harga diri, maupun harkat dan martabat suatu bangsa. Eksistensi pemuda dalam bangunan peradaban, dihadirkan dalam sosok yang penuh semangat, progresif, inovatif, memiliki sensitivitas sosial yang tinggi, peka terhadap perubahan dan menjunjung tinggi nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme. Romantisme sejarah pun tak pelak membuktikan itu, pergerakan pemuda 1908, sumpah pemuda 1928, pemuda dan mahasiswa 1966, reformasi 1998 adalah sebagian dari catatan emas yang menokohkan pemuda sebagai tonggak utama pergerakan dan pembaruan.

11891538_1031512640222349_3116920792395264522_o

Dalam perhelatan historisitas yang cukup panjang, aspek kepemudaan secara kontekstual diidentikkan dengan pergerakan maupun perubahan. Bahwa pemuda dilahirkan oleh zaman, untuk meletakkan dasar-dasar pergerakan menuju sebuah titik perubahan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan, baik ruang lingkup sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan sebagainya, yang kesemuanya sangat menentukan arah dan gerak langkah pembangunan.

Pemuda merupakan generasi penerus estafet pembangungan dan kemajuan bangsa. Merekalah yang menjadi motor penggerak utama perubahan, dengan sosok yang bersemangat, idealis, kritis dan berani serta menjadi inspirator dengan gagasannya. Pemuda-pun diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat. Karena mereka memiliki potensi yang sangat besar dalam melakukan proses perubahan.

Negeri ini memiliki banyak pemuda, namun kondisi negeri ini sangat memprihatinkan. Pemuda negeri ini kini kehilangan jati dirinya. Semangatnya untuk melawan ketidakadilan demi kehidupan masyarakat yang lebih baik, kekritisannya dalam menanggapi setiap masalah negeri ini, bahkan idealismenya sudah sulit ditemui di zaman sekarang. Jiwa-jiwa pemuda kini digerogoti sikap apolitis dan pragmatis, serta dihinggapi penyakit individualisme, akibatnya potensi mereka mati di tengah-tengah masyarakat.

10347538_824155547624727_8675240103933598917_n

Kaum muda, khususnya para pelajar dan mahasiswa terperdaya dengan gaya hidup hedonisme yang dilindungi kebebasan bertingkah lakunya ala demokrasi. Lebih senang menghabiskan gaji butanya untuk belanja ke mall, hang-out dengan teman-temannya, atau hal-hal lain yang sifatnya melenakan.

Lihatlah potret pemuda saat ini, marak terjadi aksi kekerasan dan tawuran antarpelajar maupun mahasiswa. Komnas Perlindungan Anak mencatat tahun 2012 ditemukan 139 kasus tawuran pelajar. Belum lagi masalah narkoba, hasil survei BNN menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7% dari jumlah pelajar dan mahasiswa, atau sekitar 921.629 orang. Kemudian efek seks bebas, berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, dari 2,5 juta kasus aborsi, sebanyak 62,6 % dilakukan anak di bawah umur 18 tahun. Tiga fakta mengenai tawuran, narkoba dan ini saja, merupakan bukti yang jelas betapa krisis moral kian melanda para pemuda, termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa.

Keadaan ini diperparah karena pemuda dipandang sebagai barang komoditas dalam sistem kapitalisme, dengan penanaman bahwa dengan materi bisa membeli segalanya, hidup kaya raya, hidup senang-senang karena hanya sekali, atau sebagainya. Maka tak jarang kita temukan pemuda yang hanya memikirkan dirinya pribadi, sibuk dengan tugas-tugas, mengejar nilai tinggi dan ijazah, agar dapat pekerjaan yang mapan. Nyatalah semua kondisi saat ini, terutama yang terjadi pada pemuda muncul dari buah penerapan kapitalisme, yang mengebiri peran pemuda dalam melakukan perubahan secara revolusioner. Sikap permissif yang diidap pemuda saat ini, dijunjung tinggi demokrasi dengan pilar kebebasan bertingkah laku.

12410589_10154539013234922_2278923904441261501_n

Mungkinkah kondisi negeri ini bisa berubah dan maju, jika keadaan para pemudanya mengalami degradasi moral? Padahal masa depan bangsa ada di pundak mereka. Terlebih kalangan pelajar dan mahasiswa, di mana mereka ini sebagai kaum intelektual, yang seharusnya bisa membawa perubahan pada masyarakat. Umat Islam saat ini sesungguhnya sedang menantikan perubahan tersebut, mengeluarkan mereka dari kejahiliyahan dan menyelesaikan masalah-masalah krusial yang tengah dihadapi. Pemuda memiliki peran yang sangat penting. Dengan segala potensi yang dimilikinya, pemudalah yang diharapkan mampu menyelesaikan problematika umat.

Islam sebagai pandangan hidup, memberikan solusi atas setiap masalah. Islam dapat menjamin hak-hak dan kewajiban warganya dengan diterapkannya melalui sebuah institusi negara. Sistem Islam, khususnya dalam pendidikan tak memakai sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Pelajar bukan saja diberikan pendidikan berupa ilmu, namun juga dididik kepribadiannya dan diperkuat imannya, sehingga akan tercetak pelajar yang menggunakan potensi akal dan iman secara maksimal. Dengan begitu, jauhlah pelajar dari tawuran, narkoba, seks bebas, dsb.

12998544_806777859421819_644621931376293183_n

Pemuda hari ini tidak perlu lagi ‘bersumpah’ melawan penjajah, memikul senjata atau perang. Pemuda hari ini cukup ‘bersumpah’ tidak malas, tidak galau, tidak ikut-ikutan trend sia-sia, sudah cukup. Tambahkan pula tidak alay lebay, tidak berceceran berkeluh kesah di jejaring sosial, lebih mantap lagi.

10460207_843519195688362_3799435104673379819_n